perilaku kesehatan cenderung berisiko

Perilaku Kesehatan cenderung berisiko merupakan diagnosis keperawatan yang didefinisikan sebagai hambatan kemampuan dalam mengubah gaya hidup/perilaku untuk memperbaiki status Kesehatan.

Diagnosis ini diberi kode D.0099, masuk dalam kategori psikologis, subkategori integritas ego dalam Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI).

Dalam artikel ini, kita akan belajar diagnosis keperawatan perilaku Kesehatan cenderung berisiko secara komprehensif, namun dengan Bahasa sederhana agar lebih mudah dimengerti.

Kita akan mempelajari tanda dan gejala yang harus muncul untuk dapat mengangkat diagnosis ini, bagaimana cara menulis diagnosis dan luaran, serta memilih intervensi utamanya.

Baca seluruh artikel atau lihat bagian yang anda inginkan pada daftar isi berikut:

Tanda dan Gejala

Untuk dapat mengangkat diagnosis perilaku Kesehatan cenderung berisiko, Perawat harus memastikan bahwa tanda dan gejala dibawah ini muncul pada pasien, yaitu:

DS:

  • Tidak tersedia

DO:

  • Menunjukkan penolakan terhadap perubahan status Kesehatan
  • Gagal melakukan Tindakan pencegahan masalah Kesehatan
  • Menunjukkan upaya peningkatan status Kesehatan yang minimal

Bila data diatas tidak tampak pada pasien, maka Perawat harus melihat kemungkinan masalah lain pada daftar diagnosis keperawatan, atau diagnosis keperawatan lain yang masuk dalam sub kategori integritas ego pada SDKI.

Penyebab (Etiologi)

Penyebab (etiologi) dalam diagnosis keperawatan adalah faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan status kesehatan.

Penyebab inilah yang digunakan oleh Perawat untuk mengisi bagian “berhubungan dengan ….” pada struktur diagnosis keperawatan.

Penyebab (etiologi) untuk masalah perilaku Kesehatan cenderung berisiko adalah:

  1. Kurang terpapar informasi
  2. Ketidakadekuatan dukungan sosial
  3. Self efficacy yang rendah
  4. Status sosio ekonomi rendah
  5. Stresor berlebihan
  6. Sikap negatif terhadap pelayanan Kesehatan
  7. Pemilihan gaya hidup yang tidak sehat (mis: merokok, konsumsi alkohol berlebihan)

Penulisan Diagnosis

Diagnosis ini merupakan diagnosis keperawatan aktual, yang berarti penulisannya menggunakan metode tiga bagian, yaitu:

[masalah] + [penyebab][tanda/gejala].

Sehingga contoh penulisannya menjadi seperti ini:

Perilaku Kesehatan cenderung berisiko berhubungan dengan kurang terpapar informasi dibuktikan dengan menunjukkan penolakan terhadap perubahan status Kesehatan, gagal melakukan Tindakan pencegahan masalah Kesehatan, menunjukkan upaya peningkatan status Kesehatan yang minimal.

Atau bila rumusannya kita disederhanakan, maka dapat menjadi:

Perilaku Kesehatan cenderung berisiko b.d kurang terpapar informasi d.d menunjukkan penolakan terhadap perubahan status Kesehatan, gagal melakukan Tindakan pencegahan masalah Kesehatan, menunjukkan upaya peningkatan status Kesehatan yang minimal.

Perhatikan:

  1. Masalah = Perilaku Kesehatan cenderung berisiko
  2. Penyebab = kurang terpapar informasi
  3. Tanda/gejala = menunjukkan penolakan terhadap perubahan status Kesehatan., dst
  4. b.d = berhubungan dengan
  5. d.d = dibuktikan dengan

Pelajari lebih rinci pada: “Cara menulis diagnosis keperawatan sesuai SDKI.”

Luaran (HYD)

Dalam Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI), luaran utama untuk diagnosis Perilaku Kesehatan cenderung berisiko adalah: “perilaku Kesehatan membaik.”

Perilaku Kesehatan membaik diberi kode L.12107 dalam SLKI.

Perilaku Kesehatan membaik berarti membaiknya kemampuan dalam mengubah gaya hidup/perilaku untuk memperbaiki status Kesehatan.

Kriteria hasil untuk membuktikan bahwa perilaku Kesehatan membaik adalah:

  1. Penerimaan terhadap perubahan status Kesehatan meningkat
  2. Kemampuan melakukan Tindakan pencegahan masalah Kesehatan meningkat
  3. Kemampuan peningkatan Kesehatan meningkat

Ketika menulis luaran keperawatan, Perawat harus memastikan bahwa penulisan terdiri dari 3 komponen, yaitu:

[Label] + [Ekspektasi] + [Kriteria Hasil].

Contoh:

Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 3 x 24 jam, maka penerimaan meningkat, dengan kriteria hasil:

  1. Penerimaan terhadap perubahan status Kesehatan meningkat
  2. Kemampuan melakukan Tindakan pencegahan masalah Kesehatan meningkat
  3. Kemampuan peningkatan Kesehatan meningkat

Perhatikan:

  1. Label = Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 3 x 24 jam, maka perilaku Kesehatan
  2. Ekspektasi = Membaik
  3. Kriteria Hasil = Dengan kriteria hasil 1, 2, 3, dst,

Lebih jelas baca artikel “Cara menulis luaran keperawatan sesuai SLKI.”

Intervensi

Saat merumuskan intervensi apa yang harus diberikan kepada pasien, perawat harus memastikan bahwa intervensi dapat mengatasi penyebab.

Namun bila penyebabnya tidak dapat secara langsung diatasi, maka perawat harus memastikan bahwa intervensi yang dipilih dapat mengatasi tanda/gejala.

Selain itu, perawat juga harus memastikan bahwa intervensi dapat mengukur luaran keperawatan.

Selengkapnya baca di “Cara menentukan intervensi keperawatan sesuai SIKI”.

Dalam Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI), intervensi utama untuk diagnosis Perilaku Kesehatan cenderung berisiko adalah:

  1. Modifikasi perilaku
  2. Promosi perilaku upaya kesehatan

Modifikasi perilaku

Pada buku SIKI Edisi 1 Cetakan II (2018) tidak ada intervensi modifikasi perilaku, yang ada hanya modifikasi perilaku keterampilan sosial yang digunakan untuk mengubah pengembangan atau peningkatan keterampilan sosial interpersonal.

Tim perawat.org telah mengirimkan surat saran melalui email kepada Tim Pokja 3S DPP PPNI terkait hal ini.

Promosi Perilaku Upaya Kesehatan (I.12472)

Intervensi promosi perilaku upaya kesehatan dalam Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI) diberi kode (I.12472).

Promosi perilaku upaya kesehatan adalah intervensi yang dilakukan oleh perawat untuk meningkatkan perubahan perilaku penderita/klien agar memiliki kemauan dan kemampuan yang kondusif bagi Kesehatan secara menyeluruh baik bagi lingkungan maupun masyarakat sekitarnya.

Tindakan yang dilakukan pada intervensi promosi perilaku upaya kesehatan berdasarkan SIKI, antara lain:

Observasi

  • Identifikasi perilaku upaya Kesehatan yang dapat ditingkatkan

Terapeutik

  • Berikan lingkungan yang mendukung Kesehatan
  • Orientasi pelayanan Kesehatan yang dapat dimanfaatkan

Edukasi

  • Anjurkan persalinan ditolong oleh tenaga kesehatan
  • Anjurkan memberi bayi ASI eksklusif
  • Anjurkan menimbang balita setiap bulan
  • Anjurkan menggunakan air bersih
  • Anjurkan mencuci tangan dengan air bersih dan sabun
  • Anjurkan menggunakan jamban sehat
  • Anjurkan memberantas jentik di rumah seminggu sekali
  • Anjurkan makan sayur dan buah setiap hari
  • Anjurkan melakukan aktivitas fisik setiap hari
  • Anjurkan tidak merokok di dalam rumah

Diagnosis Terkait

Daftar diagnosis lainnya yang masuk dalam kategori psikologis dan subkategori integritas ego adalah:

  1. Ansietas
  2. Berduka
  3. Distres spiritual
  4. Gangguan citra tubuh
  5. Gangguan identitas diri
  6. Gangguan persepsi sensori
  7. Harga diri rendah kronis
  8. Harga diri rendah situasional
  9. Keputusasaan
  10. Kesiapan peningkatan konsep diri
  11. Kesiapan peningkatan koping keluarga
  12. Kesiapan peningkatan koping komunitas
  13. Ketidakberdayaan
  14. Ketidakmampuan koping keluarga
  15. Koping defensif
  16. Koping komunitas tidak efektif
  17. Koping tidak efektif
  18. Penurunan koping keluarga
  19. Penyangkalan tidak efektif
  20. Risiko distres spiritual
  21. Risiko harga diri rendah kronis
  22. Risiko harga diri rendah situasional
  23. Risiko ketidakberdayaan
  24. Sindrom pasca trauma
  25. Waham

Referensi

  1. PPNI. (2017). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia:Definisi dan Indikator Diagnostik, Edisi 1 Cetakan III (Revisi). Jakarta: PPNI.
  2. PPNI. (2019). Standar Luaran Keperawatan Indonesia: Definisi dan Kriteria Hasil Keperawatan, Edisi 1 Cetakan II. Jakarta: PPNI.
  3. PPNI. (2018). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia: Definisi dan Tindakan Keperawatan, Edisi 1 Cetakan II. Jakarta: PPNI.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *