koping tidak efektif

Koping tidak efektif merupakan diagnosis keperawatan yang didefinisikan sebagai ketidakmampuan menilai dan merespons stresor dan/atau ketidakmampuan menggunakan sumber-sumber yang ada untuk mengatasi masalah.

Diagnosis ini diberi kode D.0096, masuk dalam kategori psikologis, subkategori integritas ego dalam Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI).

Dalam artikel ini, kita akan belajar diagnosis keperawatan koping tidak efektif secara komprehensif, namun dengan Bahasa sederhana agar lebih mudah dimengerti.

Kita akan mempelajari tanda dan gejala yang harus muncul untuk dapat mengangkat diagnosis ini, bagaimana cara menulis diagnosis dan luaran, serta memilih intervensi utamanya.

Baca seluruh artikel atau lihat bagian yang anda inginkan pada daftar isi berikut:

Tanda dan Gejala

Untuk dapat mengangkat diagnosis koping tidak efektif, Perawat harus memastikan bahwa tanda dan gejala dibawah ini muncul pada pasien, yaitu:

DS:

  • Mengungkapkan tidak mampu mengatasi masalah

DO:

  • Tidak mampu memenuhi peran yang diharapkan (sesuai usia)
  • Menggunakan mekanisme koping yang tidak sesuai

Bila data diatas tidak tampak pada pasien, maka Perawat harus melihat kemungkinan masalah lain pada daftar diagnosis keperawatan, atau diagnosis keperawatan lain yang masuk dalam sub kategori integritas ego pada SDKI.

Penyebab (Etiologi)

Penyebab (etiologi) dalam diagnosis keperawatan adalah faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan status kesehatan.

Penyebab inilah yang digunakan oleh Perawat untuk mengisi bagian “berhubungan dengan ….” pada struktur diagnosis keperawatan.

Penyebab (etiologi) untuk masalah koping tidak efektif adalah:

  1. Ketidakpercayaan terhadap kemampuan diri mengatasi masalah
  2. Ketidakadekuatan sistem pendukung
  3. Ketidakadekuatan strategi koping
  4. Ketidakteraturan atau kekacauan lingkungan
  5. Ketidakcukupan persiapan untuk menghadapi stresor
  6. Disfungsi sistem keluarga
  7. Krisis situasional
  8. Krisis maturasional
  9. Kerentanan personalitas
  10. Ketidakpastian

Penulisan Diagnosis

Diagnosis ini merupakan diagnosis keperawatan aktual, yang berarti penulisannya menggunakan metode tiga bagian, yaitu:

[masalah] + [penyebab][tanda/gejala].

Sehingga contoh penulisannya menjadi seperti ini:

Koping tidak efektif berhubungan dengan ketidakadekuatan strategi koping dibuktikan dengan mengungkapkan tidak mampu mengatasi masalah, tidak mampu memenuhi peran yang diharapkan (sesuai usia), menggunakan mekanisme koping yang tidak sesuai.

Atau bila rumusannya kita disederhanakan, maka dapat menjadi:

Koping tidak efektif b.d ketidakadekuatan strategi koping d.d mengungkapkan tidak mampu mengatasi masalah, tidak mampu memenuhi peran yang diharapkan (sesuai usia), menggunakan mekanisme koping yang tidak sesuai.

Perhatikan:

  1. Masalah = koping tidak efektif
  2. Penyebab = ketidakadekuatan strategi koping
  3. Tanda/gejala = mengungkapkan tidak mampu mengatasi masalah., dst
  4. b.d = berhubungan dengan
  5. d.d = dibuktikan dengan

Pelajari lebih rinci pada: “Cara menulis diagnosis keperawatan sesuai SDKI.”

Luaran (HYD)

Dalam Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI), luaran utama untuk diagnosis koping tidak efektif adalah: “status koping membaik.”

Status koping membaik diberi kode L.09086 dalam SLKI.

Status koping membaik berarti membaiknya kemampuan menilai dan merespons stresor dan/atau kemampuan menggunakan sumber-sumber yang ada untuk mengatasi masalah.

Kriteria hasil untuk membuktikan bahwa status koping membaik adalah:

  1. Kemampuan memenuhi peran sesuai usia meningkat
  2. Perilaku koping adaptif meningkat
  3. Verbalisasi kemampuan mengatasi masalah meningkat
  4. Verabalisasi pengakuan masalah meningkat
  5. Verbalisasi kelemahan diri meningkat
  6. Perilaku asertif meningkat
  7. Verbalisasi menyalahkan orang lain menurun
  8. Verbalisasi rasionalisasi kegagalan menurun
  9. Hipersensitif terhadap kritik menurun

Ketika menulis luaran keperawatan, Perawat harus memastikan bahwa penulisan terdiri dari 3 komponen, yaitu:

[Label] + [Ekspektasi] + [Kriteria Hasil].

Contoh:

Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 3 x 24 jam, maka status koping membaik, dengan kriteria hasil:

  1. Verbalisasi kemampuan mengatasi masalah meningkat
  2. Kemampuan memenuhi peran sesuai usia meningkat
  3. Perilaku koping adaptif meningkat

Perhatikan:

  1. Label = Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 3 x 24 jam, maka status koping
  2. Ekspektasi = Membaik
  3. Kriteria Hasil = Dengan kriteria hasil 1, 2, 3, dst,

Lebih jelas baca artikel “Cara menulis luaran keperawatan sesuai SLKI.”

Intervensi

Saat merumuskan intervensi apa yang harus diberikan kepada pasien, perawat harus memastikan bahwa intervensi dapat mengatasi penyebab.

Namun bila penyebabnya tidak dapat secara langsung diatasi, maka perawat harus memastikan bahwa intervensi yang dipilih dapat mengatasi tanda/gejala.

Selain itu, perawat juga harus memastikan bahwa intervensi dapat mengukur luaran keperawatan.

Selengkapnya baca di “Cara menentukan intervensi keperawatan sesuai SIKI”.

Dalam Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI), intervensi utama untuk diagnosis koping tidak efektif adalah:

  1. Dukungan pengambilan keputusan
  2. Dukungan penampilan peran
  3. Promosi koping

Dukungan Pengambilan Keputusan (I.09265)

Intervensi dukungan pengambilan keputusan dalam Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI) diberi kode (I.09265).

Dukungan pengambilan keputusan adalah intervensi yang dilakukan oleh perawat untuk memberikan informasi dan dukungan saat pembuatan keputusan Kesehatan.

Tindakan yang dilakukan pada intervensi dukungan pengambilan keputusan berdasarkan SIKI, antara lain:

Observasi

  • Identifikasi persepsi mengenai masalah dan informasi yang memicu konflik

Terapeutik

  • Fasilitasi mengklarifikasi nilai dan harapan yang membantu membuat pilihan
  • Diskusikan kelebihan dan kekurangan dari setiap solusi
  • Fasilitasi melihat situasi secara realistic
  • Motivasi mengungkapkan tujuan perawatan yang diharapkan
  • Fasilitasi pengambilan keputusan secara kolaboratif
  • Hormati hak pasien untuk menerima atau menolak informasi
  • Fasilitasi menjelaskan keputusan kepada orang lain, jika perlu
  • Fasilitasi hubungan antara pasien, keluarga, dan tenaga Kesehatan lainnya

Edukasi

  • Jelaskan alternatif solusi secara jelas
  • Berikan informasi yang diminta pasien

Kolaborasi

  • Kolaborasi dengan tenaga Kesehatan lain dalam memfasilitasi pengambilan keputusan

Dukungan Penampilan Peran (I.13478)

Intervensi dukungan penampilan peran dalam Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI) diberi kode (I.13478).

Dukungan penampilan peran adalah intervensi yang dilakukan oleh perawat untuk memfasilitasi pasien dan keluarga untuk memperbaiki hubungan dengan mengklarifikasi dan memenuhi perilaku peran tertentu.

Tindakan yang dilakukan pada intervensi dukungan penampilan peran berdasarkan SIKI, antara lain:

Observasi

  • Identifikasi berbagai peran dan periode transisi sesuai tingkat perkembangan
  • Identifikasi peran yang ada dalam keluarga
  • Identifikasi adanya peran yang tidak terpenuhi

Terapeutik

  • Fasilitasi adaptasi peran keluarga terhadap perubahan peran yang tidak diinginkan
  • Fasilitasi bermain peran dalam mengantisipasi reaksi orang lain terhadap perilaku
  • Fasilitasi diskusi perubahan peran anak terhadap bayi baru lahir, jika perlu
  • Fasilitasi diskusi tentang peran orang tua, jika perlu
  • Fasilitasi diskusi tentang adaptasi peran saat anak meninggalkan rumah, jika perlu
  • Fasilitasi diskusi harapan dengan keluarga dan peran timbal balik

Edukasi

  • Diskusikan perilaku yang dibutuhkan untuk pengembangan peran
  • Diskusikan perubahan peran yang diperlukan akibat penyakit atau ketidakmampuan
  • Diskusikan perubahan peran dalam menerima ketergantungan orang tua
  • Diskusikan strategi positif untuk mengelola perubahan peran
  • Ajarkan perilaku baru yang dibutuhkan oleh pasien/orang tua untuk memenuhi peran

Kolaborasi

  • Rujuk dalam kelompok untuk mempelajari peran baru

Promosi Koping (I.09312)

Intervensi promosi koping dalam Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI) diberi kode (I.09312).

Promosi koping adalah intervensi yang dilakukan oleh perawat untuk meningkatkan upaya kognitif dan perilaku untuk menilai dan merespon stresor dan/atau kemampuan menggunakan sumber-sumber yang ada.

Tindakan yang dilakukan pada intervensi promosi koping berdasarkan SIKI, antara lain:

Observasi

  • Identifikasi kegiatan jangka pendek dan Panjang sesuai tujuan
  • Identifikasi kemampuan yang dimiliki
  • Identifikasi  sumber daya yang tersedia untuk memenuhi tujuan
  • Identifikasi pemahaman proses penyakit
  • Identifikasi dampak situasi terhadap peran dan hubungan
  • Identifikasi metode penyelesaian masalah
  • Identifikasi kebutuhan dan keinginan terhadap dukungan sosial

Terapeutik

  • Diskusikan perubahan peran yang dialami
  • Gunakan pendekatan yang tenang dan meyakinkan
  • Diskusikan alasan mengkritik diri sendiri
  • Diskusikan untuk mengklarifikasi kesalahpahaman dan mengevaluasi perilaku sendiri
  • Diskusikan konsekuensi tidak menggunakan rasa bersalah dan rasa malu
  • Diskusikan risiko yang menimbulkan bahaya pada diri sendiri
  • Fasilitasi dalam memperoleh informasi yang dibutuhkan
  • Berikan pilihan realistis mengenai aspek-aspek tertentu dalam perawatan
  • Motivasi untuk menentukan harapan yang realistis
  • Tinjau Kembali kemampuan dalam pengambilan keputusan
  • Hindari mengambil keputusan saat pasien berada dibawah tekanan
  • Motivasi terlibat dalam kegiatan sosial
  • Motivasi mengidentifikasi sistem pendukung yang tersedia
  • Damping saat berduka (mis: penyakit kronis, kecacatan)
  • Perkenalkan dengan orang atau kelompok yang berhasil mengalami pengalaman sama
  • Dukung penggunaan mekanisme pertahanan yang tepat
  • Kurangi rangsangan lingkungan yang mengancam

Edukasi

  • Anjurkan menjalin hubungan yang memiliki kepentingan dan tujuan sama
  • Anjurkan penggunaan sumber spiritual, jika perlu
  • Anjurkan mengungkapkan perasaan dan persepsi
  • Anjurkan keluarga terlibat
  • Anjurkan membuat tujuan yang lebih spesifik
  • Ajarkan cara memecahkan masalah secara konstruktif
  • Latih penggunaan Teknik relaksasi
  • Latih keterampilan sosial, sesuai kebutuhan
  • Latih mengembangkan penilaian obyektif

Diagnosis Terkait

Daftar diagnosis lainnya yang masuk dalam kategori psikologis dan subkategori integritas ego adalah:

  1. Ansietas
  2. Berduka
  3. Distres spiritual
  4. Gangguan citra tubuh
  5. Gangguan identitas diri
  6. Gangguan persepsi sensori
  7. Harga diri rendah kronis
  8. Harga diri rendah situasional
  9. Keputusasaan
  10. Kesiapan peningkatan konsep diri
  11. Kesiapan peningkatan koping keluarga
  12. Kesiapan peningkatan koping komunitas
  13. Ketidakberdayaan
  14. Ketidakmampuan koping keluarga
  15. Koping defensif
  16. Koping komunitas tidak efektif
  17. Penurunan koping keluarga
  18. Penyangkalan tidak efektif
  19. Perilaku Kesehatan cenderung berisiko
  20. Risiko distres spiritual
  21. Risiko harga diri rendah kronis
  22. Risiko harga diri rendah situasional
  23. Risiko ketidakberdayaan
  24. Sindrom pasca trauma
  25. Waham

Referensi

  1. PPNI. (2017). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia:Definisi dan Indikator Diagnostik, Edisi 1 Cetakan III (Revisi). Jakarta: PPNI.
  2. PPNI. (2019). Standar Luaran Keperawatan Indonesia: Definisi dan Kriteria Hasil Keperawatan, Edisi 1 Cetakan II. Jakarta: PPNI.
  3. PPNI. (2018). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia: Definisi dan Tindakan Keperawatan, Edisi 1 Cetakan II. Jakarta: PPNI.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *