ketidakmampuan koping keluarga

Ketidakmampuan koping keluarga merupakan diagnosis keperawatan yang didefinisikan sebagai perilaku orang terdekat (anggota keluarga atau orang berarti) yang membatasi kemampuan dirinya dan klien untuk beradaptasi dengan masalah Kesehatan yang dihadapi klien.

Diagnosis ini diberi kode D.0093, masuk dalam kategori psikologis, subkategori integritas ego dalam Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI).

Dalam artikel ini, kita akan belajar diagnosis keperawatan ketidakmampuan koping keluarga secara komprehensif, namun dengan Bahasa sederhana agar lebih mudah dimengerti.

Kita akan mempelajari tanda dan gejala yang harus muncul untuk dapat mengangkat diagnosis ini, bagaimana cara menulis diagnosis dan luaran, serta memilih intervensi utamanya.

Baca seluruh artikel atau lihat bagian yang anda inginkan pada daftar isi berikut:

Tanda dan Gejala

Untuk dapat mengangkat diagnosis ketidakmampuan koping keluarga, Perawat harus memastikan bahwa tanda dan gejala dibawah ini muncul pada pasien, yaitu:

DS:

  • Merasa diabaikan

DO:

  • Tidak memenuhi kebutuhan anggota keluarga
  • Tidak toleran
  • Mengabaikan anggota keluarga

Bila data diatas tidak tampak pada pasien, maka Perawat harus melihat kemungkinan masalah lain pada daftar diagnosis keperawatan, atau diagnosis keperawatan lain yang masuk dalam sub kategori integritas ego pada SDKI.

Penyebab (Etiologi)

Penyebab (etiologi) dalam diagnosis keperawatan adalah faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan status kesehatan.

Penyebab inilah yang digunakan oleh Perawat untuk mengisi bagian “berhubungan dengan ….” pada struktur diagnosis keperawatan.

Penyebab (etiologi) untuk masalah ketidakmampuan koping keluarga adalah:

  1. Hubungan keluarga ambivalen
  2. Pola koping yang berbeda diantara klien dan orang terdekat
  3. Resistensi keluarga terhadap perawatan/pengobatan yang kompleks
  4. Ketidakmampuan orang terdekat mengungkapkan perasaan

Penulisan Diagnosis

Diagnosis ini merupakan diagnosis keperawatan aktual, yang berarti penulisannya menggunakan metode tiga bagian, yaitu:

[masalah] + [penyebab][tanda/gejala].

Sehingga contoh penulisannya menjadi seperti ini:

Ketidakmampuan koping keluarga berhubungan dengan ketidakmampuan orang terdekat mengungkapkan perasaan dibuktikan dengan merasa diabaikan, tidak memenuhi kebutuhan anggota keluarga, tidak toleran, mengabaikan anggota keluarga.

Atau bila rumusannya kita disederhanakan, maka dapat menjadi:

Ketidakmampuan koping keluarga b.d ketidakmampuan orang terdekat mengungkapkan perasaan d.d merasa diabaikan, tidak memenuhi kebutuhan anggota keluarga, tidak toleran, mengabaikan anggota keluarga.

Perhatikan:

  1. Masalah = ketidakmampuan koping keluarga
  2. Penyebab = ketidakmampuan orang terdekat mengungkapkan perasaan
  3. Tanda/gejala = merasa diabaikan., dst
  4. b.d = berhubungan dengan
  5. d.d = dibuktikan dengan

Pelajari lebih rinci pada: “Cara menulis diagnosis keperawatan sesuai SDKI.”

Luaran (HYD)

Dalam Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI), luaran utama untuk diagnosis ketidakmampuan koping keluarga adalah: “status koping keluarga membaik.”

Status koping keluarga membaik diberi kode L.09088 dalam SLKI.

Status koping keluarga membaik berarti membaiknya perilaku anggota dalam mendukung, memberi rasa nyaman, membantu dan memotivasi anggota keluarga lain yang sakit terhadap kemampuan beradaptasi, mengelola dan mengatasi masalah Kesehatan.

Kriteria hasil untuk membuktikan bahwa status koping keluarga membaik adalah:

  1. Perasaan diabaikan menurun
  2. Kekhawatiran tentang anggota keluarga menurun
  3. Perilaku mengabaikan anggota keluarga menurun
  4. Kemampuan memenuhi kebutuhan anggota keluarga meningkat
  5. Komitmen pada perawatan/pengobatan meningkat
  6. Komunikasi antara anggota keluarga membaik
  7. Toleransi membaik

Ketika menulis luaran keperawatan, Perawat harus memastikan bahwa penulisan terdiri dari 3 komponen, yaitu:

[Label] + [Ekspektasi] + [Kriteria Hasil].

Contoh:

Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 3 x 24 jam, maka status koping keluarga membaik, dengan kriteria hasil:

  1. Perasaan diabaikan menurun
  2. Perilaku mengabaikan anggota keluarga menurun
  3. Kemampuan memenuhi kebutuhan anggota keluarga meningkat
  4. Toleransi membaik

Perhatikan:

  1. Label = Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 3 x 24 jam, maka status koping keluarga
  2. Ekspektasi = Membaik
  3. Kriteria Hasil = Dengan kriteria hasil 1, 2, 3, dst,

Lebih jelas baca artikel “Cara menulis luaran keperawatan sesuai SLKI.”

Intervensi

Saat merumuskan intervensi apa yang harus diberikan kepada pasien, perawat harus memastikan bahwa intervensi dapat mengatasi penyebab.

Namun bila penyebabnya tidak dapat secara langsung diatasi, maka perawat harus memastikan bahwa intervensi yang dipilih dapat mengatasi tanda/gejala.

Selain itu, perawat juga harus memastikan bahwa intervensi dapat mengukur luaran keperawatan.

Selengkapnya baca di “Cara menentukan intervensi keperawatan sesuai SIKI”.

Dalam Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI), intervensi utama untuk diagnosis ketidakmampuan koping keluarga adalah:

  1. Dukungan koping keluarga
  2. Promosi koping

Dukungan Koping Keluarga (I.09260)

Intervensi dukungan koping keluarga dalam Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI) diberi kode (I.09260).

Dukungan koping keluarga adalah intervensi yang dilakukan oleh perawat untuk memfasilitasi peningkatan nilai-nilai, minat dan tujuan dalam keluarga.

Tindakan yang dilakukan pada intervensi dukungan koping keluarga berdasarkan SIKI, antara lain:

Observasi

  • Identifikasi respons emosional terhadap kondisi saat ini
  • Identifikasi beban prognosis secara psikologis
  • Identifikasi pemahaman tentang keputusan perawatan setelah pulang
  • Identifikasi kesesuaian antara harapan pasien, keluarga, dan tenaga kesehatan

Terapeutik

  • Dengarkan masalah, perasaan, dan pertanyaan keluarga
  • Terima nilai-nilai keluarga dengan cara yang tidak menghakimi
  • Diskusikan rencana medis dan perawatan
  • Fasilitasi pengungkapan perasaan antara pasien dan keluarga atau antar anggota keluarga
  • Fasilitasi pengambilan keputusan dalam merencanakan perawatan jangka Panjang, jika perlu
  • Fasilitasi anggota keluarga dalam mengidentifikasi dan menyelesaikan konflik nilai
  • Fasilitasi pemenuhan kebutuhan dasar keluarga (mis: tempat tinggal, makanan, pakaian)
  • Fasilitasi anggota keluarga melalui proses kematian dan berduka, jika perlu
  • Fasilitasi memperoleh pengetahuan, keterampilan, dan peralatan yang diperlukan untuk mempertahankan keputusan perawatan pasien
  • Bersikap sebagai pengganti keluarga untuk menenangkan pasien dan/atau jika keluarga tidak dapat memberikan perawatan
  • Hargai dan dukung mekanisme koping adaptif yang digunakan
  • Berikan kesempatan berkunjung bagi anggota keluarga

Edukasi

  • Informasikan kemajuan pasien secara berkala
  • Informasikan fasilitas perawatan Kesehatan yang tersedia

Kolaborasi

  • Rujuk untuk terapi keluarga, jika perlu

Promosi Koping (I.09312)

Intervensi promosi koping dalam Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI) diberi kode (I.09312).

Promosi koping adalah intervensi yang dilakukan oleh perawat untuk meningkatkan upaya kognitif dan perilaku untuk menilai dan merespon stresor dan/atau kemampuan menggunakan sumber-sumber yang ada.

Tindakan yang dilakukan pada intervensi promosi koping berdasarkan SIKI, antara lain:

Observasi

  • Identifikasi kegiatan jangka pendek dan Panjang sesuai tujuan
  • Identifikasi kemampuan yang dimiliki
  • Identifikasi  sumber daya yang tersedia untuk memenuhi tujuan
  • Identifikasi pemahaman proses penyakit
  • Identifikasi dampak situasi terhadap peran dan hubungan
  • Identifikasi metode penyelesaian masalah
  • Identifikasi kebutuhan dan keinginan terhadap dukungan sosial

Terapeutik

  • Diskusikan perubahan peran yang dialami
  • Gunakan pendekatan yang tenang dan meyakinkan
  • Diskusikan alasan mengkritik diri sendiri
  • Diskusikan untuk mengklarifikasi kesalahpahaman dan mengevaluasi perilaku sendiri
  • Diskusikan konsekuensi tidak menggunakan rasa bersalah dan rasa malu
  • Diskusikan risiko yang menimbulkan bahaya pada diri sendiri
  • Fasilitasi dalam memperoleh informasi yang dibutuhkan
  • Berikan pilihan realistis mengenai aspek-aspek tertentu dalam perawatan
  • Motivasi untuk menentukan harapan yang realistis
  • Tinjau Kembali kemampuan dalam pengambilan keputusan
  • Hindari mengambil keputusan saat pasien berada dibawah tekanan
  • Motivasi terlibat dalam kegiatan sosial
  • Motivasi mengidentifikasi sistem pendukung yang tersedia
  • Damping saat berduka (mis: penyakit kronis, kecacatan)
  • Perkenalkan dengan orang atau kelompok yang berhasil mengalami pengalaman sama
  • Dukung penggunaan mekanisme pertahanan yang tepat
  • Kurangi rangsangan lingkungan yang mengancam

Edukasi

  • Anjurkan menjalin hubungan yang memiliki kepentingan dan tujuan sama
  • Anjurkan penggunaan sumber spiritual, jika perlu
  • Anjurkan mengungkapkan perasaan dan persepsi
  • Anjurkan keluarga terlibat
  • Anjurkan membuat tujuan yang lebih spesifik
  • Ajarkan cara memecahkan masalah secara konstruktif
  • Latih penggunaan Teknik relaksasi
  • Latih keterampilan sosial, sesuai kebutuhan
  • Latih mengembangkan penilaian obyektif

Diagnosis Terkait

Daftar diagnosis lainnya yang masuk dalam kategori psikologis dan subkategori integritas ego adalah:

  1. Ansietas
  2. Berduka
  3. Distres spiritual
  4. Gangguan citra tubuh
  5. Gangguan identitas diri
  6. Gangguan persepsi sensori
  7. Harga diri rendah kronis
  8. Harga diri rendah situasional
  9. Keputusasaan
  10. Kesiapan peningkatan konsep diri
  11. Kesiapan peningkatan koping keluarga
  12. Kesiapan peningkatan koping komunitas
  13. Ketidakberdayaan
  14. Koping defensif
  15. Koping komunitas tidak efektif
  16. Koping tidak efektif
  17. Penurunan koping keluarga
  18. Penyangkalan tidak efektif
  19. Perilaku Kesehatan cenderung berisiko
  20. Risiko distres spiritual
  21. Risiko harga diri rendah kronis
  22. Risiko harga diri rendah situasional
  23. Risiko ketidakberdayaan
  24. Sindrom pasca trauma
  25. Waham

Referensi

  1. PPNI. (2017). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia:Definisi dan Indikator Diagnostik, Edisi 1 Cetakan III (Revisi). Jakarta: PPNI.
  2. PPNI. (2019). Standar Luaran Keperawatan Indonesia: Definisi dan Kriteria Hasil Keperawatan, Edisi 1 Cetakan II. Jakarta: PPNI.
  3. PPNI. (2018). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia: Definisi dan Tindakan Keperawatan, Edisi 1 Cetakan II. Jakarta: PPNI.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *