Berat badan lebih

Berat badan lebih adalah diagnosis keperawatan yang didefinisikan sebagai akumulasi lemak berlebih atau abnormal yang tidak sesuai dengan usia dan jenis kelamin.

Diagnosis ini diberi kode D.0018, masuk dalam kategori fisiologis, subkategori nutrisi dan cairan dalam Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI).

Dalam artikel ini, kita akan belajar diagnosis keperawatan berat badan lebih secara komprehensif, namun dengan Bahasa sederhana agar lebih mudah dimengerti.

Kita akan mempelajari tanda dan gejala yang harus muncul untuk dapat mengangkat diagnosis ini, bagaimana cara menulis diagnosis dan luaran, serta memilih intervensi utamanya.

Baca seluruh artikel atau lihat bagian yang anda inginkan pada daftar isi berikut:

Penyebab (Etiologi)

Penyebab (etiologi) dalam diagnosis keperawatan adalah faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan status kesehatan.

Penyebab inilah yang digunakan oleh Perawat untuk mengisi bagian “berhubungan dengan ….” pada struktur diagnosis keperawatan.

Penyebab (etiologi) untuk masalah berat badan lebih adalah:

  1. Kurang aktivitas fisik harian
  2. Kelebihan konsumsi gula
  3. Gangguan kebiasaan makan
  4. Gangguan persepsi makan
  5. Kelebihan konsumsi alkohol
  6. Penggunaan energi kurang dari asupan
  7. Sering mengemil
  8. Sering memakan makanan berminyak/berlemak
  9. Faktor keturunan (mis. distribusi jaringan adiposa, pengeluaran energi, aktivitas lipase lipoprotein, sintesis lipid, lipolisis)
  10. Penggunaan makanan formula atau makanan campuran (pada bayi)
  11. Asupan kalsium rendah (pada anak-anak)
  12. Berat badan bertambah cepat (selama masa anak-anak, selama masa bayi, termasuk minggu pertama, 4 bulan pertama, dan tahun pertama)
  13. Makanan padat sebagai sumber makanan utama pada usia < 5 bulan.

Tanda dan Gejala

Untuk dapat mengangkat diagnosis berat badan lebih, Perawat harus memastikan bahwa minimal 80% dari  tanda dan gejala dibawah ini muncul pada pasien, yaitu:

DS:

Tidak ada

DO:

  1. IMT > 25 kg/m² (pada dewasa)
  2. Berat dan panjang badan lebih dari presentil 95 (pada anak < 2 tahun)
  3. IMT pada presentil ke 85 – 95 (pada anak 2 – 18 tahun)

Berdasarkan data objektif diatas, maka untuk dapat mengangkat diagnosis berat badan lebih, Perawat harus mendapatkan nilai IMT.

LIHAT: Kalkulator Indeks Massa Tubuh

Bila data diatas tidak terpenuhi, maka Perawat harus mempertimbangkan adanya masalah lain, misalnya “Risiko Berat Badan Lebih”atau “Obesitas” yang sama-sama masalah keperawatan pada sub kategori  nutrisi dan cairan dalam SDKI.

Penulisan Diagnosis

Diagnosis ini merupakan diagnosis keperawatan aktual, yang berarti penulisannya menggunakan metode tiga bagian, yaitu:

[masalah] + [penyebab][tanda/gejala].

Sehingga contoh penulisannya menjadi seperti ini:

Berat badan lebih berhubungan dengan gangguan kebiasaan makan dibuktikan dengan IMT 26 kg/m2.

Atau bila rumusannya kita disederhanakan, maka dapat menjadi:

Berat badan lebih b.d gangguan kebiasaan makan d.d IMT 26 kg/m2.

Perhatikan:

  1. Masalah = Berat badan lebih
  2. Penyebab = Gangguan kebiasaan makan
  3. Tanda/gejala = IMT 26 kg/m2
  4. b.d = berhubungan dengan
  5. d.d = dibuktikan dengan

Pelajari lebih rinci pada: “Cara menulis diagnosis keperawatan sesuai SDKI.”

Luaran (HYD)

Dalam Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI), luaran utama untuk diagnosis berat badan lebih adalah: “berat badan membaik.”

Berat badan membaik diberi kode L.03018 dalam SLKI.

Berat badan membaik berarti akumulasi bobot tubuh pasien sesuai dengan usia dan jenis kelaminnya.

Kriteria hasil untuk membuktikan bahwa berat badan membaik adalah:

  1. Berat badan membaik
  2. Tebal lipatan kulit membaik
  3. Indeks massa tubuh membaik

Ketika menulis luaran keperawatan, Perawat harus memastikan bahwa penulisan terdiri dari 3 komponen, yaitu:

[Label] + [Ekspektasi] + [Kriteria Hasil].

Contoh:

Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 3 x 24 jam, maka berat badan membaik, dengan kriteria hasil:

  1. Berat badan membaik
  2. Tebal lipatan kulit membaik
  3. Indeks massa tubuh membaik

Perhatikan:

  1. Label = Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 3 x 24 jam, maka berat badan
  2. Ekspektasi = Membaik
  3. Kriteria Hasil = Dengan kriteria hasil 1, 2, 3, dst,

Lebih jelas baca artikel “Cara menulis luaran keperawatan sesuai SLKI.”

Intervensi

Saat merumuskan intervensi apa yang harus diberikan kepada pasien, perawat harus memastikan bahwa intervensi dapat mengatasi penyebab.

Namun bila penyebabnya tidak dapat secara langsung diatasi, maka perawat harus memastikan bahwa intervensi yang dipilih dapat mengatasi tanda/gejala.

Selain itu, perawat juga harus memastikan bahwa intervensi dapat mengukur luaran keperawatan.

Selengkapnya baca di “Cara menentukan intervensi keperawatan sesuai SIKI”.

Dalam Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI), intervensi utama untuk diagnosis berat badan membaik adalah:

  1. Konseling nutrisi
  2. Manajemen berat badan
  3. Promosi Latihan fisik

Konseling Nutrisi (I.03094)

Intervensi konseling nutrisi dalam Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI) diberi kode (I.03094).

Konseling nutrisi adalah intervensi yang dilakukan oleh perawat untuk memberikan bimbingan kepada pasien dalam melakukan modifikasi asupan nutrisi.

Tindakan yang dilakukan pada intervensi konseling nutrisi berdasarkan SIKI, antara lain:

Observasi

  • Identifikasi kebiasaan makan dan perilaku makan yang akan diubah
  • Identifikasi kemajuan modifikasi diet secara regular
  • Monitor intake dan output cairan, nilai hemoglobin, tekanan darah, kenaikan berat badan, dan kebiasaan membeli makanan

Terapeutik

  • Bina hubungan terapeutik
  • Sepakati lama waktu pemberian konseling
  • Tetapkan tujuan jangka pendek dan jangka Panjang yang realistis
  • Gunakan standar nutrisi sesuai program diet dalam mengevaluasi kecukupan asupan makanan
  • Pertimbangkan faktor-faktor yang mempengaruhi pemenuhan kebutuhan gizi (mis. Usia, tahap pertumbuhan dan perkembangan, penyakit)

Edukasi

  • Informasikan perlunya modifikasi diet (misal: penurunan atau penambahan berat badan, pembatasan natrium atau cairan, pengurangan kolesterol
  • Jelaskan program gizi dan persepsi pasien terhadap diet yang diprogramkan

Kolaborasi

  • Rujuk pada ahli gizi, jika perlu

Manajemen berat badan (I.03097)

Intervensi manajemen berat badan dalam Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI) diberi kode (I.03097).

Manajemen berat badan adalah intervensi yang dilakukan oleh perawat untuk mengidentifikasi dan mengelola berat badan agar dalam rentang optimal.

Tindakan yang dilakukan pada intervensi manajemen berat badan berdasarkan SIKI, antara lain:

Observasi

  • Identifikasi kondisi Kesehatan pasien yang dapat mempengaruhi berat badan

Terapeutik

  • Hitung berat badan ideal pasien (LIHAT: kalkulator berat badan ideal)
  • Hitung persentase lemak dan otot pasien
  • Fasilitasi menentukan target berat badan yang realistis

Edukasi

  • Jelaskan hubungan asupan makanan, Latihan, peningkatan, dan penurunan berat badan
  • Jelaskan faktor risiko berat badan lebih dan berat badan kurang
  • Anjurkan mencatat berat badan setiap minggu, jika perlu
  • Anjurkan melakukan pencatatan asupan makan, aktivitas fisik dan perubahan berat badan

Promosi Latihan fisik (I.05183)

Intervensi promosi Latihan fisik dalam Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI) diberi kode (I.05183).

Promosi Latihan fisik adalah intervensi yang dilakukan oleh perawat untuk memfasilitasi aktivitas fisik regular untuk mempertahankan atau meningkatkan ke tingkat kebugaran dan Kesehatan yang lebih tinggi.

Tindakan yang dilakukan pada intervensi promosi Latihan fisik berdasarkan SIKI, antara lain:

Observasi

  • Identifikasi keyakinan Kesehatan tentang Latihan fisik
  • Identifikasi pengalaman olahraga sebelumnya
  • Identifikasi motivasi individu untuk memulai atau melanjutkan program olahraga
  • Identifikasi hambatan untuk berolahraga
  • Monitor kepatuhan menjalankan program Latihan
  • Monitor respons terhadap program latihan

Terapeutik

  • Motivasi mengungkapkan perasaan tentang olahraga/kebutuhan berolahraga
  • Motivasi memulai atau melanjutkan olahraga
  • Fasilitasi dalam mengidentifikasi model peran positif untuk mempertahankan program Latihan
  • Fasilitasi dalam mengembangkan program Latihan yang sesuai untuk memenuhi kebutuhan
  • Fasilitasi dalam menetapkan tujuan jangka pendek dan Panjang program Latihan
  • Fasilitasi dalam menjadwalkan periode regular Latihan rutin mingguan
  • Fasilitasi dalam mempertahankan kemajuan program Latihan
  • Lakukan aktivitas olahraga Bersama pasien, jika perlu
  • Libatkan keluarga dalam merencanakan dan memelihara program Latihan
  • Berikan umpan balik positif terhadap segala upaya yang dijalankan pasien

Edukasi

  • Jelaskan manfaat Kesehatan dan efek fisiologis olahraga
  • Jelaskan jenis Latihan yang sesuai dengan kondisi Kesehatan
  • Jelaskan frekuensi, durasi, dan intensitas program Latihan yang diinginkan
  • Ajarkan Latihan pemanasan dan pendinginan yang tepat
  • Ajarkan Teknik menghindari cidera saat berolahraga
  • Ajarkan Teknik pernapasan yang tepat untuk memaksimalkan penyerapan oksigen selama Latihan fisik

Kolaborasi

  • Kolaborasi dengan rehabilitasi medis atau ahli fisiologi olahraga, jika perlu

Diagnosis Terkait

Daftar diagnosis lainnya yang masuk dalam kategori fisiologis dan subkategori  nutrisi dan cairan adalah:

  1. Defisit nutrisi
  2. Diare
  3. Disfungsi motilitas gastrointestinal
  4. Hipervolemia
  5. Hipovolemia
  6. Ikterik neonatus
  7. Kesiapan peningkatan keseimbangan cairan
  8. Kesiapan peningkatan nutrisi
  9. Ketidakstabilan kadar glukosa darah
  10. Menyusui efektif
  11. Menyusui tidak efektif
  12. Obesitas
  13. Risiko berat badan lebih
  14. Risiko defisit nutrisi
  15. Risiko disfungsi motilitas gastrointestinal
  16. Risiko hipovolemia
  17. Risiko ikterik neonatus
  18. Risiko ketidakseimbangan cairan
  19. Risiko ketidakseimbangan elektrolit
  20. Risiko ketidakstabilan kadar glukosa darah
  21. Risiko syok

Referensi

  1. PPNI. (2017). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia:Definisi dan Indikator Diagnostik, Edisi 1 Cetakan III (Revisi). Jakarta: PPNI.
  2. PPNI. (2019). Standar Luaran Keperawatan Indonesia: Definisi dan Kriteria Hasil Keperawatan, Edisi 1 Cetakan II. Jakarta: PPNI.
  3. PPNI. (2018). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia: Definisi dan Tindakan Keperawatan, Edisi 1 Cetakan II. Jakarta: PPNI.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *