SOP Latihan Pernapasan

SOP Latihan pernapasan adalah tindakan yang dilakukan oleh Perawat untuk memfasilitasi dalam mempertahankan pernapasan spontan untuk memaksimalkan pertukaran gas di paru dan meningkatkan kenyamanan.

Diagnosis Keperawatan

Diagnosis keperawatan yang membutuhkan Tindakan Latihan batuk efektif menurut buku SPO Keperawatan (PPNI, 2021), antara lain:

  1. Gangguan pertukaran gas
  2. Pola napas tidak efektif
  3. Nyeri akut
  4. Nyeri kronis
  5. Nyeri melahirkan
  6. Gangguan rasa nyaman
  7. Perlambatan pemulihan pasca bedah

Persiapan Alat

Tidak ada alat-alat khusus yang dibutuhkan untuk tindakan Latihan pernapasan.

SOP Latihan Pernapasan

  1. Identifikasi pasien menggunakan minimal dua identitas (nama lengkap, tanggal lahir, dan/atau nomor rekam medis)
  2. Jelaskan tujuan dan Langkah-langkah prosedur
  3. Lakukan kebersihan tangan 6 langkah
  4. Monitor frekuensi, irama, dan kedalaman napas
  5. Sediakan tempat yang tenang dan nyaman
  6. Posisikan pasien nyaman dan rileks
  7. Anjurkan memposisikan satu tangan di dada dan satu tangan di perut
  8. Anjurkan menarik napas melalui hidung selama 4 detik, menahan napas selama 2 detik, kemudian menghembuskan napas dari mulut dengan bibir dibulatkan (mencucu) selama 8 detik
  9. Pastikan dinding dada mengembang saat inspirasi
  10. Anjurkan mengulangi Latihan napas sebanyak 5-10 kali
  11. Rapikan pasien dan alat-alat yang digunakan
  12. Lakukan kebersihan tangan 6 langkah
  13. Dokumentasikan prosedur yang telah dilakukan dan respon pasien

EBP Latihan pernapasan

  1. Napas dalam (deep breathing) sama efektifnya dengan menggunaan spirometer insentif (Gosselink, et al, 2008).
  2. Pursed-lip breathing dapat meredakan dispnea pada pasien PPOK lanjut (Pashall et al, 2012).
  3. Pursed-lip breathing dapat meningkatkan penggunaan otot interkostal, menurunkan frekuensi pernapasan, meningkatkan volume tidal, dan meningkatkan saturasi oksigen (Faager et al, 2008).
  4. Pursed-lip breathing efektif mengurangi dispnea (sesak napas) (Carrieri-Kohlman & Donesky-Cuenco, 2008).

Referensi

  1. PPNI (2021). Pedoman Standar Operasional Prosedur Keperawatan, Edisi 1. Jakarta: PPNI.
  2. PPNI. (2017). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia:Definisi dan Indikator Diagnostik, Edisi 1 Cetakan III (Revisi). Jakarta: PPNI.
  3. Gosselink, R., Bott, J., Johnson, M., et al. (2008). Physiotherapy for adult patients with critical illness: recommendations of the European respiratory society and European society of critical care medicine task force on physiotherapy for critically ill patients. Intensive Care Medicine, 34 (7), 1188–1199.
  4. Parshall, M. B., Schwartzstein, R. M., Adams, L., et al. (2012). An official American Thoracic Society statement: update on the mechanisms, assessment, and management of dyspnea. American Journal of Respiratory and Critical Care Medicine, 185(4), 435–452
  5. Faager, G., Stahle, A., & Larsen, F. F. (2008). Influence of spontaneous pursed lips breathing on walking endurance and oxygen saturation in patients with moderate to severe chronic obstructive pulmonary disease. Clinical Rehabilitation, 22(8), 675–683.
  6. Carrieri-Kohlman, V., & Donesky-Cuenco, D. (2008). Dyspnea management. An EBP guideline. In B. Ackley, G. Ladwig, & B. A. Swann (Eds.), Evidence-based nursing care guidelines: medical-surgical Interventions. Philadelphia: Mosby Elsevier

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *