risiko konfusi akut

Risiko konfusi akut merupakan diagnosis keperawatan yang didefinisikan sebagai berisiko mengalami gangguan kesadaran, perhatian, kognisi, dan persepsi yang reversible dan terjadi dalam periode waktu singkat.

Diagnosis ini diberi kode D.0068, masuk dalam kategori fisiologis, subkategori neurosensori dalam Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI).

Dalam artikel ini, kita akan belajar diagnosis keperawatan risiko konfusi akut secara komprehensif, namun dengan Bahasa sederhana agar lebih mudah dimengerti.

Kita akan mempelajari faktor risiko yang harus muncul untuk dapat mengangkat diagnosis ini, bagaimana cara menulis diagnosis dan luaran, serta memilih intervensi utamanya.

Baca seluruh artikel atau lihat bagian yang anda inginkan pada daftar isi berikut:

Faktor Risiko

Faktor risiko adalah kondisi atau situasi yang dapat meningkatkan kerentanan pasien mengalami masalah Kesehatan.

Faktor risiko inilah yang digunakan oleh Perawat untuk mengisi bagian “dibuktikan dengan ….” pada struktur diagnosis keperawatan risiko.

Faktor risiko untuk masalah risiko konfusi akut adalah:

  1. Usia di atas 60 tahun
  2. Perubahan fungsi kognitif
  3. Perubahan siklus tidur – bangun
  4. Dehidrasi
  5. Demensia
  6. Riwayat stroke
  7. Gangguan fungsi metabolik (mis: azotemia, penurunan hemoglobin, ketidakseimbangan elektrolit, peningkatan nitrogen urea darah [BUN]/kreatinin)
  8. Gangguan mobilitas
  9. Penggunaan restraint yang tidak tepat
  10. Infeksi
  11. Malnutrisi
  12. Nyeri
  13. Efek agen farmakologis
  14. Deprivasi sensori
  15. Penyalahgunaan zat

Penulisan Diagnosis

Diagnosis ini merupakan diagnosis keperawatan risiko, yang berarti penulisannya menggunakan metode dua bagian, yaitu:

[masalah] + [faktor risiko]

Sehingga contoh penulisannya menjadi seperti ini:

Risiko konfusi akut dibuktikan dengan demensia.

Atau bila rumusannya kita disederhanakan, maka dapat menjadi:

Risiko konfusi akut d.d demensia.

Perhatikan:

  1. Masalah = Risiko konfusi akut
  2. Faktor risiko = Demensia
  3. d.d = dibuktikan dengan
  4. Diagnosis risiko tidak menggunakan berhubungan dengan (b.d) karena tidak memiliki etiologi.

Pelajari lebih rinci pada: “Cara menulis diagnosis keperawatan sesuai SDKI.”

Luaran (HYD)

Dalam Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI), luaran utama untuk diagnosis risiko konfusi akut adalah: “tingkat konfusi menurun.”

Tingkat konfusi menurun diberi kode L.06054 dalam SLKI.

Tingkat konfusi menurun berarti kesadaran, perhatian, kognitif, dan persepsi yang terganggu menurun.

Kriteria hasil untuk membuktikan bahwa tingkat konfusi menurun adalah:

  1. Fungsi kognitif meningkat
  2. Tingkat kesadaran meningkat
  3. Aktivitas psikomotorik meningkat
  4. Motivasi memulai/menyelesaikan perilaku terarah meningkat
  5. Memori jangka pendek meningkat
  6. Memori jangka Panjang meningkat
  7. Interpretasi membaik
  8. Fungsi sosial membaik
  9. Respons terhadap stimulus membaik

Ketika menulis luaran keperawatan, Perawat harus memastikan bahwa penulisan terdiri dari 3 komponen, yaitu:

[Label] + [Ekspektasi] + [Kriteria Hasil].

Contoh:

Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 3 x 24 jam, maka tingkat konfusi menurun, dengan kriteria hasil:

  1. Fungsi kognitif meningkat
  2. Tingkat kesadaran meningkat
  3. Aktivitas psikomotorik meningkat
  4. Motivasi memulai/menyelesaikan perilaku terarah meningkat

Perhatikan:

  1. Label = Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 3 x 24 jam, maka tingkat konfusi
  2. Ekspektasi = Meningkat
  3. Kriteria Hasil = Dengan kriteria hasil 1, 2, 3, dst,

Lebih jelas baca artikel “Cara menulis luaran keperawatan sesuai SLKI.”

Intervensi

Saat merumuskan intervensi apa yang harus diberikan kepada pasien, perawat harus memastikan bahwa intervensi dapat mengatasi penyebab.

Namun bila penyebabnya tidak dapat secara langsung diatasi, maka perawat harus memastikan bahwa intervensi yang dipilih dapat mengatasi tanda/gejala.

Selain itu, perawat juga harus memastikan bahwa intervensi dapat mengukur luaran keperawatan.

Selengkapnya baca di “Cara menentukan intervensi keperawatan sesuai SIKI”.

Dalam Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI), intervensi utama untuk diagnosis risiko konfusi akut adalah:

  1. Manajemen nyeri
  2. Manajemen demensia
  3. Pencegahan infeksi

Manajemen Nyeri (I.08238)

Intervensi manajemen nyeri dalam Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI) diberi kode (I.08238).

Manajemen nyeri adalah intervensi yang dilakukan oleh perawat untuk mengidentifikasi dan mengelola pengalaman sensorik atau emosional yang berkaitan dengan kerusakan jaringan atau fungsional dengan onset mendadak atau lambat dan berintensitas ringan hingga berat dan konstan.

Tindakan yang dilakukan pada intervensi manajemen nyeri berdasarkan SIKI, antara lain:

Observasi

  • Identifikasi lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas, intensitas nyeri
  • Identifikasi skala nyeri
  • Idenfitikasi respon nyeri non verbal
  • Identifikasi faktor yang memperberat dan memperingan nyeri
  • Identifikasi pengetahuan dan keyakinan tentang nyeri
  • Identifikasi pengaruh budaya terhadap respon nyeri
  • Identifikasi pengaruh nyeri pada kualitas hidup
  • Monitor keberhasilan terapi komplementer yang sudah diberikan
  • Monitor efek samping penggunaan analgetik

Terapeutik

  • Berikan Teknik nonfarmakologis untuk mengurangi nyeri (mis: TENS, hypnosis, akupresur, terapi music, biofeedback, terapi pijat, aromaterapi, Teknik imajinasi terbimbing, kompres hangat/dingin, terapi bermain)
  • Kontrol lingkungan yang memperberat rasa nyeri (mis: suhu ruangan, pencahayaan, kebisingan)
  • Fasilitasi istirahat dan tidur
  • Pertimbangkan jenis dan sumber nyeri dalam pemilihan strategi meredakan nyeri

Edukasi

  • Jelaskan penyebab, periode, dan pemicu nyeri
  • Jelaskan strategi meredakan nyeri
  • Anjurkan memonitor nyeri secara mandiri
  • Anjurkan menggunakan analgesik secara tepat
  • Ajarkan Teknik farmakologis untuk mengurangi nyeri

Kolaborasi

  • Kolaborasi pemberian analgetik, jika perlu

Manajemen Demensia (I.09286)

Intervensi manajemen demensia dalam Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI) diberi kode (I.09286).

Manajemen demensia adalah intervensi yang dilakukan oleh perawat untuk mengidentifikasi dan mengelola pasien yang mengalami konfusi kronis.

Tindakan yang dilakukan pada intervensi manajemen demensia berdasarkan SIKI, antara lain:

Observasi

  • Identifikasi Riwayat fisik, sosial, psikologis, dan kebiasaan
  • Identifikasi pola aktivitas (mis: tidur, minum obat, eliminasi, asupan oral, perawatan diri)

Terapeutik

  • Sediakan lingkungan aman, nyaman, konsisten, dan rendah stimulus (mis: music tenang, dekorasi sederhana, pencahayaan memadai, makan Bersama pasien lain)
  • Orientasikan waktu, tempat, dan orang
  • Gunakan distraksi untuk mengatasi masalah perilaku
  • Libatkan keluarga dalam merencanakan, menyediakan, dan mengevaluasi perawatan
  • Fasilitasi orientasi dengan simbol-simbol (mis: dekorasi, papan petunjuk, foto diberi nama, huruf besar)
  • Libatkan kegiatan individua tau kelompok sesuai kemampuan kognitif dan minat

Edukasi

  • Anjurkan memperbanyak istirahat
  • Ajarkan keluarga cara perawatan demensia

Pencegahan Infeksi (I.14539)

Intervensi pencegahan infeksi dalam Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI) diberi kode (I.14539).

Pencegahan infeksi adalah intervensi yang dilakukan oleh perawat untuk mengidentifikasi dan menurunkan risiko terserang organisme patogenik.

Tindakan yang dilakukan pada intervensi pencegahan infeksi berdasarkan SIKI, antara lain:

Observasi

  • Monitor tanda dan gejala infeksi lokal dan sistemik

Terapeutik

  • Batasi jumlah pengunjung
  • Berikan perawatan kulit pada area edema
  • Cuci tangan sebelum dan sesudah kontak dengan pasien dan lingkungan pasien
  • Pertahankan teknik aseptic pada pasien berisiko tinggi

Edukasi

  • Jelaskan tanda dan gejala infeksi
  • Ajarkan cara mencuci tangan dengan benar
  • Ajarkan etika batuk
  • Ajarkan cara memeriksa kondisi luka atau luka operasi
  • Anjurkan meningkatkan asupan nutrisi
  • Anjurkan meningkatkan asupan cairan

Kolaborasi

  • Kolaborasi pemberian imunisasi, jika perlu

Diagnosis Terkait

Daftar diagnosis lainnya yang masuk dalam kategori fisiologis dan subkategori neurosensori adalah:

  1. Disrefleksia otonom
  2. Gangguan memori
  3. Gangguan menelan
  4. Konfusi akut
  5. Konfusi kronis
  6. Penurunan kapasitas adaptif intrakranial
  7. Risiko disfungsi neurovaskuler perifer

Referensi

  1. PPNI. (2017). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia:Definisi dan Indikator Diagnostik, Edisi 1 Cetakan III (Revisi). Jakarta: PPNI.
  2. PPNI. (2019). Standar Luaran Keperawatan Indonesia: Definisi dan Kriteria Hasil Keperawatan, Edisi 1 Cetakan II. Jakarta: PPNI.
  3. PPNI. (2018). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia: Definisi dan Tindakan Keperawatan, Edisi 1 Cetakan II. Jakarta: PPNI.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *