Kesiapan peningkatan nutrisi

Kesiapan peningkatan nutrisi merupakan diagnosis keperawatan yang didefinisikan sebagai pola asupan nutrisi yang cukup untuk memenuhi kebutuhan metabolisme dan dapat ditingkatkan.

Diagnosis ini diberi kode D.0026, masuk dalam kategori fisiologis, subkategori nutrisi dan cairan dalam Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI).

Dalam artikel ini, kita akan belajar diagnosis keperawatan kesiapan peningkatan nutrisi secara komprehensif, namun dengan Bahasa sederhana agar lebih mudah dimengerti.

Kita akan mempelajari tanda dan gejala yang harus muncul untuk dapat mengangkat diagnosis ini, bagaimana cara menulis diagnosis dan luaran, serta memilih intervensi utamanya.

Baca seluruh artikel atau lihat bagian yang anda inginkan pada daftar isi berikut:

Tanda dan Gejala

Untuk dapat mengangkat diagnosis kesiapan peningkatan nutrisi, Perawat harus memastikan bahwa tanda dan gejala dibawah ini muncul pada pasien, yaitu:

DS:

Mengekspresikan keinginan untuk meningkatkan nutrisi

DO:

Makan teratur dan adekuat

Bila data diatas tidak tampak pada pasien, maka Perawat harus melihat kemungkinan lain pada daftar diagnosis keperawatan, atau diagnosis keperawatan lain yang masuk dalam sub kategori  nutrisi dan cairan pada SDKI.

Penulisan Diagnosis

Diagnosis ini merupakan diagnosis keperawatan promosi kesehatan, yang berarti penulisannya menggunakan metode dua bagian, yaitu:

[masalah] + [tanda/gejala]

Sehingga contoh penulisannya menjadi seperti ini:

Kesiapan peningkatan nutrisi dibuktikan dengan mengekspresikan keinginan untuk meningkatkan nutrisi, makan teratur dan adekuat.

Atau bila rumusannya kita disederhanakan, maka dapat menjadi:

Kesiapan peningkatan nutrisi d.d mengekspresikan keinginan untuk meningkatkan nutrisi, makan teratur dan adekuat.

Perhatikan:

  1. Masalah = Kesiapan peningkatan nutrisi
  2. Tanda/gejala = Mengekspresikan keinginan… dst
  3. d.d = dibuktikan dengan
  4. Diagnosis promosi kesehatan tidak menggunakan berhubungan dengan (b.d) karena tidak memiliki etiologi.

Pelajari lebih rinci pada: “Cara menulis diagnosis keperawatan sesuai SDKI.”

Luaran (HYD)

Dalam Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI), luaran utama untuk diagnosis kesiapan peningkatan nutrisi adalah: “status nutrisi membaik.”

Status nutrisi membaik diberi kode L.03030 dalam SLKI.

Status nutrisi membaik berarti keadekuatan asupan nutrisi untuk memenuhi kebutuhan metabolisme membaik.

Kriteria hasil untuk membuktikan bahwa status nutrisi membaik adalah:

  1. Porsi makan yang dihabiskan meningkat
  2. Berat badan membaik
  3. Indeks massa tubuh (IMT) membaik

LIHAT: Kalkulator Indeks Massa Tubuh

Ketika menulis luaran keperawatan, Perawat harus memastikan bahwa penulisan terdiri dari 3 komponen, yaitu:

[Label] + [Ekspektasi] + [Kriteria Hasil].

Contoh:

Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 3 x 24 jam, maka status nutrisi membaik, dengan kriteria hasil:

  1. Porsi makan yang dihabiskan meningkat
  2. Berat badan membaik
  3. Indeks massa tubuh (IMT) membaik

Perhatikan:

  1. Label = Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 3 x 24 jam, maka status nutrisi
  2. Ekspektasi = Membaik
  3. Kriteria Hasil = Dengan kriteria hasil 1, 2, 3, dst,

Lebih jelas baca artikel “Cara menulis luaran keperawatan sesuai SLKI.”

Intervensi

Saat merumuskan intervensi apa yang harus diberikan kepada pasien, perawat harus memastikan bahwa intervensi dapat mengatasi penyebab.

Namun bila penyebabnya tidak dapat secara langsung diatasi, maka perawat harus memastikan bahwa intervensi yang dipilih dapat mengatasi tanda/gejala.

Selain itu, perawat juga harus memastikan bahwa intervensi dapat mengukur luaran keperawatan.

Selengkapnya baca di “Cara menentukan intervensi keperawatan sesuai SIKI”.

Dalam Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI), intervensi utama untuk diagnosis kesiapan peningkatan nutrisi adalah:

  1. Edukasi nutrisi
  2. Konseling nutrisi

Edukasi Nutrisi (I.12395)

Intervensi edukasi nutrisi dalam Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI) diberi kode (I.12395).

Edukasi nutrisi adalah intervensi yang dilakukan oleh perawat untuk memberikan informasi untuk meningkatkan kemampuan pemenuhan kebutuhan nutrisi,

Tindakan yang dilakukan pada intervensi edukasi nutrisi berdasarkan SIKI, antara lain:

Observasi

  • Periksa status gizi, status alergi, program diet, kebutuhan dan kemampuan pemenuhan kebutuhan gizi
  • Identifikasi kemampuan dan waktu yang tepat menerima informasi

Terapeutik

  • Persiapkan materi dan media seperti jenis-jenis nutrisi, tabel makanan penukar, cara mengelola, cara menakar makanan
  • Jadwalkan Pendidikan Kesehatan sesuai kesepakatan
  • Berikan kesempatan untuk bertanya

Edukasi

  • Jelaskan kepada pasien dan keluarga alergi makanan, makanan yang harus di hindari, kebutuhan jumlah kalori, jenis makanan yang dibutuhkan pasien
  • Ajarkan cara melaksanakan diet sesuai program (mis: makanan tinggi protein, rendah garam, rendah kalori)
  • Jelaskan hal-hal yang dilakukan sebelum memberikan makan (mis: perawatan mulut, penggunaan gigi palsu, obat-obat yang harus diberikan sebelum makan)
  • Demonstrasikan cara membersihkan mulut
  • Demonstrasikan cara mengatur posisi saat makan
  • Ajarkan pasien/keluarga memonitor asupan kalori dan makanan (mis: menggunakan buku harian)
  • Ajarkan pasien dan keluarga memantau kondisi kekurangan nutrisi
  • Anjurkan mendemonstrasikan cara memberi makan, menghitung kalori, menyiapkan makanan sesuai program diet

Konseling Nutrisi (I.03094)

Intervensi konseling nutrisi dalam Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI) diberi kode (I.03094).

Konseling nutrisi adalah intervensi yang dilakukan oleh perawat untuk memberikan bimbingan kepada pasien dalam melakukan modifikasi asupan nutrisi.

Tindakan yang dilakukan pada intervensi konseling nutrisi berdasarkan SIKI, antara lain:

Observasi

  • Identifikasi kebiasaan makan dan perilaku makan yang akan diubah
  • Identifikasi kemajuan modifikasi diet secara regular
  • Monitor intake dan output cairan, nilai hemoglobin, tekanan darah, kenaikan berat badan, dan kebiasaan membeli makanan

Terapeutik

  • Bina hubungan terapeutik
  • Sepakati lama waktu pemberian konseling
  • Tetapkan tujuan jangka pendek dan jangka Panjang yang realistis
  • Gunakan standar nutrisi sesuai program diet dalam mengevaluasi kecukupan asupan makanan
  • Pertimbangkan faktor-faktor yang mempengaruhi pemenuhan kebutuhan gizi (mis. Usia, tahap pertumbuhan dan perkembangan, penyakit)

Edukasi

  • Informasikan perlunya modifikasi diet (misal: penurunan atau penambahan berat badan, pembatasan natrium atau cairan, pengurangan kolesterol
  • Jelaskan program gizi dan persepsi pasien terhadap diet yang diprogramkan

Kolaborasi

  • Rujuk pada ahli gizi, jika perlu

Diagnosis Terkait

Daftar diagnosis lainnya yang masuk dalam kategori fisiologis dan subkategori  nutrisi dan cairan adalah:

  1. Berat badan lebih
  2. Defisit nutrisi
  3. Diare
  4. Disfungsi motilitas gastrointestinal
  5. Hipervolemia
  6. Hipovolemia
  7. Ikterik neonatus
  8. Kesiapan peningkatan keseimbangan cairan
  9. Ketidakstabilan kadar glukosa darah
  10. Menyusui efektif
  11. Menyusui tidak efektif
  12. Obesitas
  13. Risiko berat badan lebih
  14. Risiko defisit nutrisi
  15. Risiko disfungsi motilitas gastrointestinal
  16. Risiko hipovolemia
  17. Risiko ikterik neonatus
  18. Risiko ketidakseimbangan cairan
  19. Risiko ketidakseimbangan elektrolit
  20. Risiko ketidakstabilan kadar glukosa darah
  21. Risiko syok

Referensi

  1. PPNI. (2017). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia:Definisi dan Indikator Diagnostik, Edisi 1 Cetakan III (Revisi). Jakarta: PPNI.
  2. PPNI. (2019). Standar Luaran Keperawatan Indonesia: Definisi dan Kriteria Hasil Keperawatan, Edisi 1 Cetakan II. Jakarta: PPNI.
  3. PPNI. (2018). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia: Definisi dan Tindakan Keperawatan, Edisi 1 Cetakan II. Jakarta: PPNI.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *