Gangguan komunikasi verbal

Gangguan komunikasi verbal merupakan diagnosis keperawatan yang didefinisikan sebagai penurunan, perlambatan, atau ketiadaan kemampuan untuk menerima, memproses, mengirim, dan/atau menggunakan sistem simbol.

Diagnosis ini diberi kode D.0119, masuk dalam kategori relasional, subkategori interaksi sosial dalam Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI).

Dalam artikel ini, kita akan belajar diagnosis keperawatan gangguan komunikasi verbalsecara komprehensif, namun dengan Bahasa sederhana agar lebih mudah dimengerti.

Kita akan mempelajari tanda dan gejala yang harus muncul untuk dapat mengangkat diagnosis ini, bagaimana cara menulis diagnosis dan luaran, serta memilih intervensi utamanya.

Baca seluruh artikel atau lihat bagian yang anda inginkan pada daftar isi berikut:

Tanda dan Gejala

Untuk dapat mengangkat diagnosis gangguan komunikasi verbal, Perawat harus memastikan bahwa tanda dan gejala dibawah ini muncul pada pasien, yaitu:

DS:

  • Tidak ada

DO:

  • Tidak mampu berbicara atau mendengar
  • Menunjukkan respon tidak sesuai

Bila data diatas tidak tampak pada pasien, maka Perawat harus melihat kemungkinan masalah lain pada daftar diagnosis keperawatan, atau diagnosis keperawatan lain yang masuk dalam sub kategori interaksi sosial pada SDKI.

Penyebab (Etiologi)

Penyebab (etiologi) dalam diagnosis keperawatan adalah faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan status kesehatan.

Penyebab inilah yang digunakan oleh Perawat untuk mengisi bagian “berhubungan dengan ….” pada struktur diagnosis keperawatan.

Penyebab (etiologi) untuk masalah gangguan komunikasi verbaladalah:

  1. Penurunan sirkulasi serebral
  2. Gangguan neuromuskuler
  3. Gangguan pendengaran
  4. Gangguan muskuloskeletal
  5. Kelainan palatum
  6. Hambatan fisik (misal: terpasang trakeostomi, intubasi, krikotiroidektomi)
  7. Hambatan individu (misal: ketakutan, kecemasan, merasa malu, emosional, kurang privasi)
  8. Hambatan psikologis (misal: gangguan psikotik, gangguan konsep diri, harga diri rendah, gangguan emosi)
  9. Hambatan lingkungan (misal: ketidakcukupan informasi,ketiadaan orang terdekat, ketidaksesuaian budaya, Bahasa asing)

Penulisan Diagnosis

Diagnosis ini merupakan diagnosis keperawatan aktual, yang berarti penulisannya menggunakan metode tiga bagian, yaitu:

[masalah] + [penyebab][tanda/gejala].

Contoh:

Gangguan komunikasi verbal berhubungan dengan penurunan sirkulasi serebral dibuktikan dengan tidak mampu berbicara, menunjukkan konsep tidak sesuai.

Atau bila rumusannya kita disederhanakan, maka dapat menjadi:

Gangguan komunikasi verbalb.d penurunan sirkulasi serebral d.d tidak mampu berbicara, menunjukkan konsep tidak sesuai.

Perhatikan:

  1. Masalah = gangguan komunikasi verbal
  2. Penyebab = penurunan sirkulasi serebral
  3. Tanda/gejala = tidak mampu berbicara., dst
  4. b.d = berhubungan dengan
  5. d.d = dibuktikan dengan

Pelajari lebih rinci pada: “Cara menulis diagnosis keperawatan sesuai SDKI.”

Luaran (HYD)

Dalam Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI), luaran utama untuk diagnosis gangguan komunikasi verbaladalah: “komunikasi verbal meningkat.”

Komunikasi verbalmeningkat diberi kode L.13118 dalam SLKI.

Komunikasi verbal meningkat berarti meningkatnya kemampuan menerima, memproses, mengirim, dan/atau menggunakan sistem simbol.

Kriteria hasil untuk membuktikan bahwa komunikasi verbalmeningkat adalah:

  1. Kemampuan berbicara meningkat
  2. Kemampuan mendengar meningkat
  3. Kesesuaian ekspresi wajah/tubuh meningkat

Ketika menulis luaran keperawatan, Perawat harus memastikan bahwa penulisan terdiri dari 3 komponen, yaitu:

[Label] + [Ekspektasi] + [Kriteria Hasil].

Contoh:

Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 3 x 24 jam, maka komunikasi verbalmeningkat, dengan kriteria hasil:

  1. Kemampuan berbicara meningkat
  2. Kesesuaian ekspresi wajah/tubuh meningkat

Perhatikan:

  1. Label = Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 3 x 24 jam, maka komunikasi verbal
  2. Ekspektasi = Meningkat
  3. Kriteria Hasil = Dengan kriteria hasil 1, 2, 3, dst,

Lebih jelas baca artikel “Cara menulis luaran keperawatan sesuai SLKI.”

Intervensi

Saat merumuskan intervensi apa yang harus diberikan kepada pasien, perawat harus memastikan bahwa intervensi dapat mengatasi penyebab.

Namun bila penyebabnya tidak dapat secara langsung diatasi, maka perawat harus memastikan bahwa intervensi yang dipilih dapat mengatasi tanda/gejala.

Selain itu, perawat juga harus memastikan bahwa intervensi dapat mengukur luaran keperawatan.

Selengkapnya baca di “Cara menentukan intervensi keperawatan sesuai SIKI”.

Dalam Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI), intervensi utama untuk diagnosis gangguan komunikasi verbaladalah:

  • Promosi komunikasi: defisit bicara
  • Promosi komunikasi: defisit pendengaran
  • Promosi komunikasi: defisit visual

Promosi Komunikasi: Defisit Bicara (I.13492)

Intervensi promosi komunikasi: defisit bicaradalam Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI) diberi kode (I.13492).

Promosi komunikasi: defisit bicara adalah intervensi yang dilakukan oleh perawat untuk menggunakan Teknik komunikasi tambahan pada individu dengan gangguan bicara.

Tindakan yang dilakukan pada intervensi promosi komunikasi: defisit bicaraberdasarkan SIKI, antara lain:

Observasi

  • Monitor kecepatan, tekanan, kuantitias, volume, dan diksi bicara
  • Monitor progress kognitif, anatomis, dan fisiologis yang berkaitan dengan bicara (mis: memori, pendengaran, dan Bahasa)
  • Monitor frustasi, marah, depresi, atau hal lain yang mengganggu bicara
  • Identifikasi perilaku emosional dan fisik sebagai bentuk komunikasi

Terapeutik

  • Gunakan metode komunikasi alternatif (mis: menulis, mata berkedip, papan komunikasi dengan gambar dan huruf, isyarat tangan, dan komputer)
  • Sesuaikan gaya komunikasi dengan kebutuhan (mis: berdiri di depan pasien, dengarkan dengan seksama, tunjukkan satu gagasan atau pemikiran sekaligus,  bicaralah dengan perlahan sambal menghindari teriakan, gunakan komunikasi tertulis, atau meminta bantuan keluarga untuk memahami ucapan pasien)
  • Modifikasi lingkungan untuk meminimalkan bantuan
  • Ulangi apa yang disampaikan pasien
  • Berikan dukungan psikologis
  • Gunakan juru bicara, jika perlu

Edukasi

  • Anjurkan berbicara perlahan
  • Ajarkan pasien dan keluarga proses kognitif, anatomis, dan fisiologis yang berhubungan dengan kemampuan bicara

Kolaborasi

  • Rujuk ke ahli patologi bicara atau terapis

Promosi Komunikasi: Defisit Pendengaran (I.13493)

Intervensi promosi komunikasi: defisit pendengarandalam Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI) diberi kode (I.13493).

Promosi komunikasi: defisit pendengaran adalah intervensi yang dilakukan oleh perawat untuk menggunakan Teknik komunikasi tambahan pada individu dengan gangguan pendengaran.

Tindakan yang dilakukan pada intervensi promosi komunikasi: defisit pendengaranberdasarkan SIKI, antara lain:

Observasi

  • Periksa kemampuan pendengaran
  • Monitor akumulasi serumen berlebihan
  • Identifikasi metode komunikasi yang disukai pasien (mis: lisan, tulisan, Gerakan bibir, Bahasa isyarat)

Terapeutik

  • Gunakan Bahasa sederhana
  • Gunakan Bahasa Isyarat, jika perlu
  • Verifikasi apa yang dikatakan atau ditulis pasien
  • Fasilitasi penggunaan alat bantu dengar
  • Berhadapan dengan pasien secara langsung selama berkomunikasi
  • Pertahankan kontak mata selama berkomunikasi
  • Hindari merokok, mengunyah makanan atau permen karet, dan menutup mulut saat berbicara
  • Hindari kebisingan saat berkomunikasi
  • Hindari berkomunikasi lebih dari 1 meter dari pasien
  • Lakukan irigasi telinga, jika perlu
  • Pertahankan kebersihan telinga

Edukasi

  • Anjurkan menyampaikan pesan dengan isyarat
  • Ajarkan cara membersihkan serumen dengan tepat

Promosi Komunikasi: Defisit Visual (I.13494)

Intervensi promosi komunikasi: defisit visualdalam Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI) diberi kode (I.13494).

Promosi komunikasi: defisit visual adalah intervensi yang dilakukan oleh perawat untuk menggunakan Teknik komunikasi tambahan pada individu dengan gangguan penglihatan.

Tindakan yang dilakukan pada intervensi promosi komunikasi: defisit visualberdasarkan SIKI, antara lain:

Observasi

  • Periksa kemampuan penglihatan
  • Monitor dampak gangguan penglihatan (mis: risiko cidera, depresi, kegelisahan, kemampuan melakukan aktivitas sehari-hari

Terapeutik

  • Fasilitasi peningkatan stimulasi indra lainnya (mis: aroma, rasa, tekstur makanan)
  • Pastikan kaca mata atau lensa kontak berfungsi dengan baik
  • Sediakan pencahayaan cukup
  • Berikan bacaan dengan huruf besar
  • Hindari penataan letak lingkungan tanpa memberitahu
  • Sediakan alat bantu (mis: jam, telepon)
  • Fasilitasi membaca surat, surat kabar, atau media informasi lainnya
  • Gunakan warna terang dan kontras di lingkungan
  • Sediakan kaca pembesar, jika perlu

Edukasi

  • Jelaskan lingkungan pada pasien
  • Ajarkan keluarga cara membantu pasien berkomunikasi

Kolaborasi

  • Rujuk pasien pada terapis, jika perlu

Diagnosis Terkait

Daftar diagnosis lainnya yang masuk dalam kategori relasional dan subkategori interaksi sosial adalah:

  1. Gangguan interaksi sosial
  2. Gangguan proses keluarga
  3. Isolasi sosial
  4. Kesiapan peningkatan menjadi orang tua
  5. Kesiapan peningkatan proses keluarga
  6. Ketegangan peran pemberi asuhan
  7. Penampilan peran tidak efektif
  8. Pencapaian peran menjadi orang tua
  9. Risiko gangguan perlekatan
  10. Risiko proses pengasuhan tidak efektif

Referensi

  1. PPNI. (2017). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia:Definisi dan Indikator Diagnostik, Edisi 1 Cetakan III (Revisi). Jakarta: PPNI.
  2. PPNI. (2019). Standar Luaran Keperawatan Indonesia: Definisi dan Kriteria Hasil Keperawatan, Edisi 1 Cetakan II. Jakarta: PPNI.
  3. PPNI. (2018). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia: Definisi dan Tindakan Keperawatan, Edisi 1 Cetakan II. Jakarta: PPNI.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *