disorganisasi perilaku bayi

Disorganisasi perilaku bayi merupakan diagnosis keperawatan yang didefinisikan sebagai disintegrasi respon fisiologis dan neurobehaviour bayi terhadap lingkungan.

Diagnosis ini diberi kode D.0053, masuk dalam kategori fisiologis, subkategori aktivitas dan istirahat dalam Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI).

Dalam artikel ini, kita akan belajar diagnosis keperawatan disorganisasi perilaku bayi secara komprehensif, namun dengan Bahasa sederhana agar lebih mudah dimengerti.

Kita akan mempelajari tanda dan gejala yang harus muncul untuk dapat mengangkat diagnosis ini, bagaimana cara menulis diagnosis dan luaran, serta memilih intervensi utamanya.

Baca seluruh artikel atau lihat bagian yang anda inginkan pada daftar isi berikut:

Tanda dan Gejala

Untuk dapat mengangkat diagnosis disorganisasi perilaku bayi, Perawat harus memastikan bahwa minimal 80% dari  tanda dan gejala dibawah ini muncul pada pasien, yaitu:

DS:

  • Tidak tersedia

DO:

  • Hiperekstensi ekstremitas
  • Jari-jari meregang atau tangan menggenggam
  • Respon abnormal terhadap stimulus sensorik
  • Gerakan tidak terkoordinasi

Bila data diatas tidak tampak pada pasien, atau yang muncul hanya satu atau dua saja (kurang dari 80%), maka Perawat harus melihat kemungkinan masalah lain pada daftar diagnosis keperawatan, atau diagnosis keperawatan lain yang masuk dalam sub kategori aktivitas dan istirahat pada SDKI.

Penyebab (Etiologi)

Penyebab (etiologi) dalam diagnosis keperawatan adalah faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan status kesehatan.

Penyebab inilah yang digunakan oleh Perawat untuk mengisi bagian “berhubungan dengan ….” pada struktur diagnosis keperawatan.

Penyebab (etiologi) untuk masalah disorganisasi perilaku bayi adalah:

  1. Keterbatasan lingkungan fisik
  2. Ketidaktepatan sensori
  3. Kelebihan stimulasi sensorik
  4. Imaturitas sistem sensoris
  5. Prematuritas
  6. Prosedur invasif
  7. Malnutrisi
  8. Gangguan motorik
  9. Kelainan kongenital
  10. Kelainan genetik
  11. Terpatar teratogenik

Penulisan Diagnosis

Diagnosis ini merupakan diagnosis keperawatan aktual, yang berarti penulisannya menggunakan metode tiga bagian, yaitu:

[masalah] + [penyebab][tanda/gejala].

Sehingga contoh penulisannya menjadi seperti ini:

Disorganisasi perilaku bayi berhubungan dengan prematuritas dibuktikan dengan hiperekstensi ekstremitas, jari-jari meregang, respon abnormal terhadap stimulus sensorik, gerakan tidak terkoordinasi.

Atau bila rumusannya kita disederhanakan, maka dapat menjadi:

Disorganisasi perilaku bayi b.d prematuritas d.d hiperekstensi ekstremitas, jari-jari meregang, respon abnormal terhadap stimulus sensorik, gerakan tidak terkoordinasi.

Perhatikan:

  1. Masalah = disorganisasi perilaku bayi
  2. Penyebab = prematuritas
  3. Tanda/gejala = hiperekstensi ekstremitas, dst.
  4. b.d = berhubungan dengan
  5. d.d = dibuktikan dengan

Pelajari lebih rinci pada: “Cara menulis diagnosis keperawatan sesuai SDKI.”

Luaran (HYD)

Dalam Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI), luaran utama untuk diagnosis disorganisasi perilaku bayi adalah: “organisasi perilaku bayi meningkat.”

Organisasi perilaku bayi meningkat diberi kode L.05043 dalam SLKI.

Organisasi perilaku bayi meningkat berarti kemampuan integrasi respon fisiologis dan neurobehaviour bayi terhadap lingkungan meningkat.

Kriteria hasil untuk membuktikan bahwa organisasi perilaku bayi meningkat adalah:

  1. Gerakan pada ekstremitas meningkat
  2. Kemampuan jari-jari menggenggam meningkat
  3. Gerakan terkoordinasi meningkat
  4. Respon normal terhadap stimulus sensorik meningkat

Ketika menulis luaran keperawatan, Perawat harus memastikan bahwa penulisan terdiri dari 3 komponen, yaitu:

[Label] + [Ekspektasi] + [Kriteria Hasil].

Contoh:

Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 3 x 24 jam, maka organisasi perilaku bayi meningkat, dengan kriteria hasil:

  1. Gerakan pada ekstremitas meningkat
  2. Kemampuan jari-jari menggenggam meningkat
  3. Gerakan terkoordinasi meningkat
  4. Respon normal terhadap stimulus sensorik meningkat

Perhatikan:

  1. Label = Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 3 x 24 jam, maka organisasi perilaku bayi
  2. Ekspektasi = Meningkat
  3. Kriteria Hasil = Dengan kriteria hasil 1, 2, 3, dst,

Lebih jelas baca artikel “Cara menulis luaran keperawatan sesuai SLKI.”

Intervensi

Saat merumuskan intervensi apa yang harus diberikan kepada pasien, perawat harus memastikan bahwa intervensi dapat mengatasi penyebab.

Namun bila penyebabnya tidak dapat secara langsung diatasi, maka perawat harus memastikan bahwa intervensi yang dipilih dapat mengatasi tanda/gejala.

Selain itu, perawat juga harus memastikan bahwa intervensi dapat mengukur luaran keperawatan.

Selengkapnya baca di “Cara menentukan intervensi keperawatan sesuai SIKI”.

Dalam Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI), intervensi utama untuk diagnosis disorganisasi perilaku bayi adalah perawatan bayi.

Perawatan Bayi (I.10338)

Intervensi perawatan bayi dalam Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI) diberi kode (I.10338).

Perawatan bayi adalah intervensi yang dilakukan oleh perawat untuk mengidentifikasi dan merawat Kesehatan bayi.

Tindakan yang dilakukan pada intervensi perawatan bayi berdasarkan SIKI, antara lain:

Observasi

  • Monitor tanda-tanda vital bayi (terutama suhu 36°C – 37°C)

Terapeutik

  • Mandikan bayi dengan suhu ruangan 21 – 24°C
  • Mandikan bayi dalam waktu 5 – 10 menit dan 2 kali dalam sehari
  • Rawat tali pusat secara terbuka (tali pusat tidak dibungkus apapun)
  • Bersihkan pangkal tali pusat dengan lidi kapas yang telah diberi air matang
  • Kenakan popok bayi di bawah umbilicus jika tali pusat belum terlepas
  • Lakukan pemijatan bayi
  • Ganti popok bayi jika basah
  • Kenakan pakaian bayi dari bahan katun

Edukasi

  • Anjurkan ibu menyusui sesuai kebutuhan bayi
  • Ajarkan ibu cara merawat bayi di rumah
  • Ajarkan cara pemberian makanan pendamping ASI pada bayi > 6 bulan

Diagnosis Terkait

Daftar diagnosis lainnya yang masuk dalam kategori fisiologis dan subkategori aktivitas dan istirahat adalah:

  1. Gangguan mobilitas fisik
  2. Gangguan pola tidur
  3. Intoleransi aktivitas
  4. Keletihan
  5. Kesiapan peningkatan tidur
  6. Risiko disorganisasi perilaku bayi
  7. Risiko intoleransi aktivitas

Referensi

  1. PPNI. (2017). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia:Definisi dan Indikator Diagnostik, Edisi 1 Cetakan III (Revisi). Jakarta: PPNI.
  2. PPNI. (2019). Standar Luaran Keperawatan Indonesia: Definisi dan Kriteria Hasil Keperawatan, Edisi 1 Cetakan II. Jakarta: PPNI.
  3. PPNI. (2018). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia: Definisi dan Tindakan Keperawatan, Edisi 1 Cetakan II. Jakarta: PPNI.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *