Diare

Diare adalah diagnosis keperawatan yang didefinisikan sebagai pengeluaran feses yang sering, lunak, dan tidak berbentuk.

Diagnosis ini diberi kode D.0020, masuk dalam kategori fisiologis, subkategori nutrisi dan cairan dalam Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI).

Dalam artikel ini, kita akan belajar diagnosis keperawatan diare secara komprehensif, namun dengan Bahasa sederhana agar lebih mudah dimengerti.

Kita akan mempelajari tanda dan gejala yang harus muncul untuk dapat mengangkat diagnosis ini, bagaimana cara menulis diagnosis dan luaran, serta memilih intervensi utamanya.

Baca seluruh artikel atau lihat bagian yang anda inginkan pada daftar isi berikut:

Penyebab (Etiologi)

Penyebab (etiologi) dalam diagnosis keperawatan adalah faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan status kesehatan.

Penyebab inilah yang digunakan oleh Perawat untuk mengisi bagian “berhubungan dengan ….” pada struktur diagnosis keperawatan.

Penyebab (etiologi) untuk masalah diare adalah:

Penyebab fisiologis

  1. Inflamasi gastrointestinal
  2. Iritasi gastrointestinal
  3. Proses infeksi
  4. Malabsorpsi

Penyebab psikologis

  1. Kecemasan 
  2. Tingkat stres tinggi 

Penyebab Situasional

  1. Terpapar kontaminan 
  2. Terpapar toksin 
  3. Penyalahgunaan laksatif
  4. Penyalahgunaan zat
  5. Program pengobatan (agen tiroid, analgesik, pelunak feses, ferosulfat, antasida, cimetidine, dan antibiotik)
  6. Perubahan air dan makanan
  7. Bakteri pada air

Tanda dan Gejala

Untuk dapat mengangkat diagnosis diare, Perawat harus memastikan bahwa tanda dan gejala dibawah ini muncul pada pasien, yaitu:

DS:

Tidak ada

DO:

  1. Defekasi lebih dari tiga kali dalam 24 jam
  2. Feses lembek atau cair

Bila data diatas tidak tampak pada pasien, maka Perawat harus melihat kemungkinan masalah lain pada daftar diagnosis keperawatan, atau diagnosis keperawatan lain yang masuk dalam sub kategori  nutrisi dan cairan pada SDKI.

Penulisan Diagnosis

Diagnosis ini merupakan diagnosis keperawatan aktual, yang berarti penulisannya menggunakan metode tiga bagian, yaitu:

[masalah] + [penyebab][tanda/gejala].

Sehingga contoh penulisannya menjadi seperti ini:

Diare berhubungan dengan iritasi gastrointestinal dibuktikan dengan defekasi 4 kali dalam 24 jam, feses lembek.

Atau bila rumusannya kita disederhanakan, maka dapat menjadi:

Diare b.d iritasi gastrointestinal d.d defekasi 4 kali dalam 24 jam, feses lembek.

Perhatikan:

  1. Masalah = Diare
  2. Penyebab = Iritasi gastrointestinal
  3. Tanda/gejala = Defekasi…
  4. b.d = berhubungan dengan
  5. d.d = dibuktikan dengan

Pelajari lebih rinci pada: “Cara menulis diagnosis keperawatan sesuai SDKI.”

Luaran (HYD)

Dalam Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI), luaran utama untuk diagnosis diare adalah: “eliminasi fekal membaik.”

Eliminasi fekal membaik diberi kode L.04033 dalam SLKI.

Eliminasi fekal membaik berarti proses pengeluaran feses yang mudah dengan konsistensi, frekuensi, dan bentuk feses yang normal.

Kriteria hasil untuk membuktikan bahwa eliminasi fekal membaik adalah:

  1. Kontrol pengeluaran feses meningkat
  2. Keluhan defekasi lama dan sulit  menurun
  3. Mengejan saat defekasi menurun
  4. Konsistensi feses membaik
  5. Frekuensi BAB membaik
  6. Peristaltik usus membaik

Ketika menulis luaran keperawatan, Perawat harus memastikan bahwa penulisan terdiri dari 3 komponen, yaitu:

[Label] + [Ekspektasi] + [Kriteria Hasil].

Contoh:

Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 3 x 24 jam, maka eliminasi fekal membaik, dengan kriteria hasil:

  1. Kontrol pengeluaran feses meningkat
  2. Keluhan defekasi lama dan sulit  menurun
  3. Mengejan saat defekasi menurun
  4. Konsistensi feses membaik
  5. Frekuensi BAB membaik
  6. Peristaltik usus membaik

Perhatikan:

  1. Label = Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 3 x 24 jam, maka eliminasi fekal
  2. Ekspektasi = Membaik
  3. Kriteria Hasil = Dengan kriteria hasil 1, 2, 3, dst,

Lebih jelas baca artikel “Cara menulis luaran keperawatan sesuai SLKI.”

Intervensi

Saat merumuskan intervensi apa yang harus diberikan kepada pasien, perawat harus memastikan bahwa intervensi dapat mengatasi penyebab.

Namun bila penyebabnya tidak dapat secara langsung diatasi, maka perawat harus memastikan bahwa intervensi yang dipilih dapat mengatasi tanda/gejala.

Selain itu, perawat juga harus memastikan bahwa intervensi dapat mengukur luaran keperawatan.

Selengkapnya baca di “Cara menentukan intervensi keperawatan sesuai SIKI”.

Dalam Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI), intervensi utama untuk diagnosis diare adalah:

  1. Manajemen diare
  2. Pemantauan cairan

Manajemen Diare (I.03101)

Intervensi manajemen diare dalam Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI) diberi kode (I.03101).

Manajemen diare adalah intervensi yang dilakukan oleh perawat untuk mengidentifikasi dan mengelola diare dan dampaknya.

Tindakan yang dilakukan pada intervensi manajemen diare berdasarkan SIKI, antara lain:

Observasi

  • Identifikasi penyebab diare (mis: inflamasi gastrointestinal, iritasi gastrointestinal, proses infeksi, malabsorpsi, ansietas, stres, obat-obatan, pemberian botol susu)
  • Identifikasi Riwayat pemberian makanan
  • Identifikasi gejala invaginasi (mis: tangisan keras, kepucatan pada bayi)
  • Monitor warna, volume, frekuensi, dan konsistensi feses
  • Monitor tanda dan gejala hypovolemia (mis: takikardia, nadi teraba lemah, tekanan darah turun, turgor kulit turun, mukosa kulit kering, CRT melambat, BB menurun)
  • Monitor iritasi dan ulserasi kulit di daerah perianal
  • Monitor jumlah dan pengeluaran diare
  • Monitor keamanan penyiapan makanan

Terapeutik

  • Berikan asupan cairan oral (mis: larutan garam gula, oralit, Pedialyte, renalyte)
  • Pasang jalur intravena
  • Berikan cairan intravena (mis: ringer asetat, ringer laktat), jika perlu
  • Ambil sampel darah untuk pemeriksaan darah lengkap dan elektrolit
  • Ambil sampel feses untuk kultur, jika perlu

Edukasi

  • Anjurkan makanan porsi kecil dan sering secara bertahap
  • Anjurkan menghindari makanan pembentuk gas, pedas, dan mengandung laktosa
  • Anjurkan melanjutkan pemberian ASI

Kolaborasi

  • Kolaborasi pemberian obat antimotilitas (mis: loperamide, difenoksilat)
  • Kolaborasi pemberian antispasmodik/spasmolitik (mis: papaverine, ekstrak belladonna, mebeverine)
  • Kolaborasi pemberian obat pengeras feses (mis: atapugit, smektit, kaolin-pektin)

Pemantauan Cairan (I.03101)

Intervensi pemantauan cairan dalam Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI) diberi kode (I.03121).

Pemantauan cairan adalah intervensi yang dilakukan oleh perawat untuk mengumpulkan dan menganalisis data terkait pengaturan keseimbangan cairan.

Tindakan yang dilakukan pada intervensi pemantauan cairan berdasarkan SIKI, antara lain:

Observasi

  • Monitor frekuensi dan kekuatan nadi
  • Monitor frekuensi napas
  • Monitor tekanan darah
  • Monitor berat badan
  • Monitor waktu pengisian kapiler
  • Monitor elastisitas atau turgor kulit
  • Monitor jumlah, warna, dan berat jenis urin
  • Monitor kadar albumin dan protein total
  • Monitor hasil pemeriksaan serum (mis: osmolaritas serum, hematokrit, natrium, kalium, dan BUN)
  • Monitor intake dan output cairan
  • Identifikasi tanda-tanda hypovolemia (mis: frekuensi nadi meningkat, nadi teraba lemah, tekanan darah menurun, tekanan nadi menyempit, turgor kulit menurun, membran mukosa kering, volume urin menurun, hematokrit meningkat, hasil, lemah, konsentrasi urin meningkat, berat badan menurun dalam waktu singkat)
  • Identifikasi tanda-tanda hypervolemia (mis: dispnea, edema perifer, edema anasarca, JVP meningkat, CVP meningkat, refleks hepatojugular positif, berat badan menurun dalam waktu singkat)
  • Identifikasi faktor risiko ketidakseimbagnan cairan (mis: prosedur pembedahan mayor, trauma/perdarahan, luka bakar, apheresis, obstruksi intestinal, peradangan pancreas, penyakit ginjal dan kelenjar, disfungsi intestinal)

Terapeutik

  • Atur interval waktu pemantauan sesuai dengan kondisi pasien
  • Dokumentasikan hasil pemantauan

Edukasi

  • Jelaskan tujuan dan prosedur pemantauan
  • Dokumentasikan hasil pemantauan

Diagnosis Terkait

Daftar diagnosis lainnya yang masuk dalam kategori fisiologis dan subkategori  nutrisi dan cairan adalah:

  1. Berat badan lebih
  2. Defisit nutrisi
  3. Disfungsi motilitas gastrointestinal
  4. Hipervolemia
  5. Hipovolemia
  6. Ikterik neonatus
  7. Kesiapan peningkatan keseimbangan cairan
  8. Kesiapan peningkatan nutrisi
  9. Ketidakstabilan kadar glukosa darah
  10. Menyusui efektif
  11. Menyusui tidak efektif
  12. Obesitas
  13. Risiko berat badan lebih
  14. Risiko defisit nutrisi
  15. Risiko disfungsi motilitas gastrointestinal
  16. Risiko hipovolemia
  17. Risiko ikterik neonatus
  18. Risiko ketidakseimbangan cairan
  19. Risiko ketidakseimbangan elektrolit
  20. Risiko ketidakstabilan kadar glukosa darah
  21. Risiko syok

Referensi

  1. PPNI. (2017). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia:Definisi dan Indikator Diagnostik, Edisi 1 Cetakan III (Revisi). Jakarta: PPNI.
  2. PPNI. (2019). Standar Luaran Keperawatan Indonesia: Definisi dan Kriteria Hasil Keperawatan, Edisi 1 Cetakan II. Jakarta: PPNI.
  3. PPNI. (2018). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia: Definisi dan Tindakan Keperawatan, Edisi 1 Cetakan II. Jakarta: PPNI.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *