Risiko proses pengasuhan tidak efektif

Risiko proses pengasuhan tidak efektif merupakan diagnosis keperawatan yang didefinisikan sebagai berisiko mengalami proses kehamilan, persalinan, dan setelah melahirkan termasuk perawatan bayi baru lahir yang tidak sesuai dengan konteks norma dan harapan.

Diagnosis ini diberi kode D.0128, masuk dalam kategori relasional, subkategori interaksi sosial dalam Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI).

Dalam artikel ini, kita akan belajar diagnosis keperawatan risiko proses pengasuhan tidak efektif secara komprehensif, namun dengan Bahasa sederhana agar lebih mudah dimengerti.

Kita akan mempelajari faktor risiko yang harus muncul untuk dapat mengangkat diagnosis ini, bagaimana cara menulis diagnosis dan luaran, serta memilih intervensi utamanya.

Baca seluruh artikel atau lihat bagian yang anda inginkan pada daftar isi berikut:

Faktor Risiko

Faktor risiko adalah kondisi atau situasi yang dapat meningkatkan kerentanan pasien mengalami masalah Kesehatan.

Faktor risiko inilah yang digunakan oleh Perawat untuk mengisi bagian “dibuktikan dengan ….” pada struktur diagnosis keperawatan risiko.

Faktor risiko untuk masalah risiko proses pengasuhan tidak efektif adalah:

  1. Kekerasan dalam rumah tangga
  2. Kehamilan tidak diinginkan/direncanakan
  3. Kurang terpapar informasi tentang proses persalinan/pengasuhan
  4. Ketidakberdayaan maternal
  5. Distres psikologis
  6. Penyalahgunaan obat
  7. Ketidakadekuatan manajemen ketidaknyamanan selama persalinan
  8. Akses pelayanan Kesehatan sulit dijangkau
  9. Kurangnya minat/proaktif dalam proses persalinan
  10. Ketidaksesuaian kondisi bayi dengan harapan
  11. Ketidakamanan lingkungan untuk bayi

Penulisan Diagnosis

Diagnosis ini merupakan diagnosis keperawatan risiko, yang berarti penulisannya menggunakan metode dua bagian, yaitu:

[masalah] + [faktor risiko]

Sehingga contoh penulisannya menjadi seperti ini:

Risiko proses pengasuhan tidak efektif dibuktikan dengan kurang terpapar informasi tentang proses persalinan.

Atau bila rumusannya kita disederhanakan, maka dapat menjadi:

Risiko proses pengasuhan tidak efektif d.d kurang terpapar informasi tentang proses persalinan. 

Perhatikan:

  1. Masalah = Risiko proses pengasuhan tidak efektif
  2. Faktor risiko = penghalang fisik
  3. d.d = dibuktikan dengan
  4. Diagnosis risiko tidak menggunakan berhubungan dengan (b.d) karena tidak memiliki etiologi.

Pelajari lebih rinci pada: “Cara menulis diagnosis keperawatan sesuai SDKI.”

Luaran (HYD)

Dalam Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI), luaran utama untuk diagnosis risiko proses pengasuhan tidak efektif adalah: “proses pengasuhan membaik.”

Proses pengasuhan membaik diberi kode L.13124 dalam SLKI.

Proses pengasuhan membaik berarti membaiknya kemampuan menerima proses kehamilan, persalinan, dan setelah melahirkan, termasuk perawatan bayi baru lahir yang sesuai dengan konteks norma dan harapan.

Kriteria hasil untuk membuktikan bahwa proses pengasuhan membaik adalah:

  1. Terpapar informasi tentang proses persalinan/pengasuhan meningkat
  2. Kekerasan dalam rumah tangga menurun
  3. Stres psikologis menurun

Ketika menulis luaran keperawatan, Perawat harus memastikan bahwa penulisan terdiri dari 3 komponen, yaitu:

[Label] + [Ekspektasi] + [Kriteria Hasil].

Contoh:

Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 3 x 24 jam, maka proses pengasuhan membaik, dengan kriteria hasil:

  1. Terpapar informasi tentang proses persalinan meningkat

Perhatikan:

  1. Label = Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 3 x 24 jam, maka proses pengasuhan
  2. Ekspektasi = Membaik
  3. Kriteria Hasil = Dengan kriteria hasil 1, 2, 3, dst,

Lebih jelas baca artikel “Cara menulis luaran keperawatan sesuai SLKI.”

Intervensi

Saat merumuskan intervensi apa yang harus diberikan kepada pasien, perawat harus memastikan bahwa intervensi dapat mengatasi penyebab.

Namun bila penyebabnya tidak dapat secara langsung diatasi, maka perawat harus memastikan bahwa intervensi yang dipilih dapat mengatasi tanda/gejala.

Selain itu, perawat juga harus memastikan bahwa intervensi dapat mengukur luaran keperawatan.

Selengkapnya baca di “Cara menentukan intervensi keperawatan sesuai SIKI”.

Dalam Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI), intervensi utama untuk diagnosis risiko proses pengasuhan tidak efektif adalah:

  • Promosi keutuhan keluarga
  • Promosi perlekatan

Promosi Keutuhan Keluarga (I.13490)

Intervensi promosi keutuhan keluarga dalam Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI) diberi kode (I.13490).

Promosi keutuhan keluarga adalah intervensi yang dilakukan oleh perawat untuk meningkatkan pengetahuan dan kemampuan pasien untuk menjaga dan meningkatkan kerekatan dan keutuhan keluarga.

Tindakan yang dilakukan pada intervensi promosi keutuhan keluarga berdasarkan SIKI, antara lain:

Observasi

  • Identifikasi pemahaman keluarga terhadap masalah
  • Identifikasi adanya konflik prioritas antar anggota keluarga
  • Identifikasi mekanisme koping keluarga
  • Monitor hubungan antara anggota keluarga

Terapeutik

  • Hargai privasi keluarga
  • Fasilitasi kunjungan keluarga
  • Fasilitasi keluarga melakukan pengambilan keputusan dan pemecahan masalah
  • Fasilitasi komunikasi terbuka antara setiap anggota keluarga

Edukasi

  • Informasikan kondisi pasien secara berkala kepada keluarga
  • Anjurkan anggota keluarga mempertahankan keharmonisan keluarga

Kolaborasi

  • Rujuk untuk terapi keluarga, jika perlu

Promosi Perlekatan (I.10342)

Intervensi promosi perlekatan dalam Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI) diberi kode (I.10342).

Promosi perlekatan adalah intervensi yang dilakukan oleh perawat untuk meningkatkan dan mempertahankan perlekatan atau latch on secara tepat.

Tindakan yang dilakukan pada intervensi promosi perlekatan berdasarkan SIKI, antara lain:

Observasi

  • Monitor kegiatan menyusui
  • Identifikasi kemampuan bayi menghisap dan menelan ASI
  • Identifikasi payudara ibu (mis: bengkak, puting lecet, mastitis, nyeri pada payudara)
  • Monitor perlekatan saat menyusui (mis: areola bagian bawah lebih kecil daripada areola bagian atas, mulut bayi terbuka lebar, bibir bayi berputar keluar dan dagu bayi menempel pada payudara ibu)

Terapeutik

  • Hindari memegang kepala bayi
  • Diskusikan dengan ibu masalah selama proses menyusui

Edukasi

  • Ajarkan ibu menopang seluruh tubuh bayi
  • Anjurkan ibu melepas pakaian bagian atas agar bayi dapat menyentuh payudara ibu
  • Anjurkan bayi yang mendekati kearah payudara ibu dari bagian bawah
  • Anjurkan ibu untuk memegang payudara menggunakan jarinya seperti huruf “C” pada posisi jam 12-6 atau 3-9 saat mengarahkan ke mulut bayi
  • Anjurkan ibu untuk menyusui menunggu mulut bayi terbuka lebar sehingga areola bagian bawah dapat masuk sempurna
  • Ajarkan ibu mengenali tanda bayi siap menyusu

Diagnosis Terkait

Daftar diagnosis lainnya yang masuk dalam kategori relasional dan subkategori interaksi sosial adalah:

  1. Gangguan interaksi sosial
  2. Gangguan komunikasi verbal
  3. Gangguan proses keluarga
  4. Isolasi sosial
  5. Kesiapan peningkatan menjadi orang tua
  6. Kesiapan peningkatan proses keluarga
  7. Ketegangan peran pemberi asuhan
  8. Penampilan peran tidak efektif
  9. Pencapaian peran menjadi orang tua
  10. Risiko gangguan perlekatan

Referensi

  1. PPNI. (2017). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia:Definisi dan Indikator Diagnostik, Edisi 1 Cetakan III (Revisi). Jakarta: PPNI.
  2. PPNI. (2019). Standar Luaran Keperawatan Indonesia: Definisi dan Kriteria Hasil Keperawatan, Edisi 1 Cetakan II. Jakarta: PPNI.
  3. PPNI. (2018). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia: Definisi dan Tindakan Keperawatan, Edisi 1 Cetakan II. Jakarta: PPNI.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *