studi kasus dalam penelitian keperawatan

Perawat.Org | studi kasus dalam Penelitian Keperawatan

Definisi studi kasus

Studi kasus adalah pendekatan kualitatif yang mempelajari fenomena khusus yang terjadi saat ini dalam suatu sistem yang terbatasi oleh waktu dan tempat, meski batas-batas antara fenomena dan sistem tersebut tidak sepenuhnya jelas.

Maksud dari fenomena khusus tersebut adalah kasus yang dibahas merupakan kasus terkini atau kasus yang sedang berlangsung dikehidupan nyata, Creswell 2013 (dalam Afiyanti, 2014, hal.88)

Menurut Denzin & Lincoln, 2000 (dalam Fitzpatrick, 2012), studi kasus adalah metode yang sesuai dengan penelitian yang fleksibel dalam epistemologi, ontologi, metodologi dan strategi penelitian.

Studi kasus merupakan investigasi yang mendalam dari sebuah subyek tunggal atau sejumlah kecil subyek. Subyek tersebut mungkin individu, kelompok keluarga, masyarakat, atau unit sosial lainnya.

Dalam studi kasus, peneliti memperoleh banyak informasi deskriptif dan mungkin dapat memeriksa hubungan antara fenomena yang berbeda.

Peneliti studi kasus berupaya untuk menganalisis dan memahami isu-isu yang penting bagi sejarah, perkembangan, atau keadaan dari sesuatu yang diteliti (Polit & Beck, 2012).

Dalam penelitian keperawatan, studi kasus adalah contoh tertentu atau contoh yang dapat digunakan untuk memberikan bukti atau data untuk penelitian (Maltby et al, 2012).

Sebagai contoh, jika perawat ingin melihat praktik yang ada di unit gawat darurat, peneliti dapat mengunjungi satu rumah sakit untuk mengumpulkan informasi mengenai praktik yang ada unit gawat darurat selama satu minggu.

Kemudian setelah selesai, peneliti dapat membahas informasi yang terkumpul tentang praktik di unit gawat darurat tersebut sebagai studi kasus (Maltyby et al, 2012).

Jenis-jenis Studi Kasus

Jenis pendekatan studi kasus tergantung dari tujuan dan maksud peneliti membahas kasus tersebut.

Stake 1995 (dalam Afiyanti 2014) membagi studi kasus kedalam tiga jenis, yaitu, studi kasus intrinsik, studi kasus instumental dan studi kasus multipel.

Studi kasus intrinsik

Dalam studi kasus intrinsik, peneliti tidak harus memilih kasus sendiri.

Contohnya, evaluasi proses pelaksanaan inovasi yang seringkali merupakan studi kasus dari lembaga tertentu, dengan kata lain, kasus tersebut diberikan kepada peneliti (Maltby, 2010).

Tujuan peneliti dalam studi kasus intrinsik adalah untuk mendapatkan pemahaman mendalam dari sebuah kasus (Stake, 2005 dalam Suryani, 2008).

Studi kasus intrinsik mempelajari kasus khusus secara utuh, terutama pada kasus yang tidak biasa atau pada situasi yang unik (seperti kehamilan pada remaja).

Hasil studi kasus intrinsik ini tidak harus menghasilkan konsep atau teori, dan tidak perlu melakukan generalisasi pada hasil yang ditemukan (Afiyanti 2014).

Studi kasus instrumental

Dalam studi kasus instrumental, peneliti mulai dengan pertanyaan atau masalah, kemudian mencari kasus yang menawarkan pencerahan (Maltby, 2010).

Kasus yang dipelajari merupakan kasus umum yang sedang terjadi saat ini, dengan batasan waktu dan tempat terjadinya kasus untuk mengilusterasikan dan menggenerelasikannya (Afiyanti, 2014).

Biasanya kasus ini adalah penelitian kedua dari peneliti dan digunakan untuk mendukung penelitian yang lain, Stake 2005 (dalam Suryani 2008).

Studi kasus multipel

Studi kasus multipel adalah studi kasus yang mengandung beberapa kasus yang digunakan untuk menggali sebuah fenomena.

Peneliti mencoba untuk meneliti apakah ada persamaan atau perbedaan diantara kasus tersebut untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik (Stake 2005, dalam Suryani 2008).

Selain penggolongan studi kasus menurut Stake (1995) diatas, Bogdan & Biklen, 2007 (dalam Afiyanti 2014) juga menggolongkan jenis studi kasus kedalam tiga golongan, antara lain:

Studi kasus sejarah organisasi

Studi kasus sejarah organisasi mempelajari perkembangan suatu organisasi dari waktu ke waktu, mulai dari didirikan sampai dengan saat ini.

Peneliti mempresentasikan deskripsi menyeluruh tentang sejarah organisasi yang sedang diteliti dan menganalisis fenomena tersebut, namun fokus presentasinya berasal dari perspektif historis organisasi yang diteliti.

Studi kasus observasional

Studi kasus observasional adala studi kasus yang memiliki sifat eksploratif, deskriptif dan eksplanasi (Yin, 2003).

Cara utama pengumpulan data studi kasus observasional adalah melalui observasi partisipan (wawancara formal atau informal dan ringkasan dokumen).

Fokus studi kasus observasional terutama pada tempat bekerja seperti sekolah, pusat rehabilitasi atau beberapa aspek dari suatu organisasi.

Sejarah kehidupan seseorang (life histories)

Pada studi kasus yang mempelajari riwayat hidup seseorang, peneliti mewawancarai seseorang yang dipelajari kisah hidupnya secara ekstensif (extensive interviews).

Studi kasus ini dapat berupa kisah hidup seseorang (life story), biografi dan potret kehidupan nyata dari seseorang.

Lihat juga: 7 Desain Penelitian Pilihan Untuk Penelitianmu.

Pengambilan Sampel pada Studi Kasus dalam Penelitian Keperawatan

Studi kasus menggunakan teknik sampling purposive dalam pengambilan datanya.

Kasus yang diteliti diseleksi berdasarkan karakteristik inklusi yang sudah ditentukan oleh penelitinya. Ini berarti kasus tidak diseleksi secara acak tetapi dengan sengaja sudah ditentukan penelitiannya (Afiyanti, 2014).

Sampling dalam penelitian kualitatif mungkin dimulai dari informan dan dilengkapi dengan partisipan baru dengan strategi bola salju (snowballing), tetapi banyak penelitian kualitatif akhirnya berkembang ke strategi purposive sampling, yaitu memilih kasus yang paling akan menguntungkan penelitian (Polit & Beck, 2012).

Purposive sampling didasarkan pada keyakinan bahwa pengetahuan peneliti tentang populasi dapat digunakan untuk memilih kasus (atau jenis kasus) untuk dimasukan dalam sampel (Loiselle & Profetto-McGrath, 2011).

Prosedur Melakukan Studi Kasus dalam Penelitian Keperawatan

Menurut Yin 2009 (dalam Afiyanti, 2014), tahapan yang dapat dilakukan oleh peneliti untuk melakukan penelitian studi kasus adalah:

  1. Menentukan kasus yang akan dipelajari dan memberikan pemahaman dan/atau perbandingan yang mendalam dari kasus tersebut.
  2. Mengidentifikasi kasus yang telah ditentukan sebelumnya (seorang individu, beberapa individu, suatu program atau suatu peristiwa) yang dapat diidentifikasi (identifiable case) secara jelas, baik dari waktu kejadian maupun tempat kejadian, kemudian mengidentifikasi pula apakah merupakan kasus intrinsik atau instrumental.
  3. Melakukan pengumpulan data dengan berbagai cara, baik melalui observasi, wawancara, dan penelusuran dokumen dan material audiovisual.
  4. Melakukan analisis data secara holistik atau melakukan analisis data yang dilekatkan pada aspek yang dianggap spesifik dari kasus yang diteliti.
  5. Melakukan interpretasi, yaitu peneliti melaporkan intisari dari kasus yang diteliti. Baik kasus intrinsik maupun kasus instrumental, yang paling dipentingkan adalah bagaimana tahap ini menghasilkan pembelajaran dari kasus yang diteliti.

Bacaan lebih lanjut: Cara mengkritisi artikel penelitian kualitatif

Contoh Artikel Penelitian Studi Kasus: Studi kasus pada Pasien Tn. B dengan Diabetes Mellitus (Mulat & Yuriasion, 2019).

Leave a Reply

Your email address will not be published.