cara menentukan kelas syok

Perawat, khususnya perawat gawat darurat wajib mengetahui cara menentukan kelas syok pada pasien.

Mengetahui kelas syok juga dapat digunakan sebagai estimasi perdarahan yang terjadi pada pasien.

Dalam artikel ini kita akan membahas mengenai jenis, penyebab, dan cara menentukan kelas syok pada pasien untuk estimasi perdarahan.

Daftar isi:

Apa itu syok?

Istilah syok mengacu pada perfusi jaringan yang tidak memadai karena ketidakseimbangan antara kebutuhan oksigen jaringan dan kemampuan tubuh untuk memasoknya (Hooper & Armstrong, 2022).

Secara umum, ada empat kategori syok, yaitu syok hipovolemik, kardiogenik, obstruktif, dan distributif.

Jenis dan Penyebab Syok

Syok ditandai dengan hipoksia seluler dan jaringan akibat penurunan pengiriman oksigen dan/atau peningkatan konsumsi oksigen, atau penggunaan oksigen yang tidak memadai (Haseer Koya & Paul, 2021).

Syok adalah manifestasi akhir dari daftar etiologi yang kompleks dan bisa berakibat fatal tanpa manajemen yang cepat dan tepat.

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, ada empat kategori utama syok, yaitu: syok hipovolemik, syok kardiogenik, syok obstruktif, dan syok distributif.

Ada pula syok yang tidak dapat dibedakan (undifferentiated shock), yaitu syok yang telah terdiagnosis, namun belum diketahui penyababnya (Haseer Koya & Paul, 2021).

Berikut adalah penjelasan dari keempat kategori syok tersebut:

Syok hipovolemik

Syok hipovolemik ditandai dengan penurunan volume intravaskular, dan peningkatan bantuan vena sistemik (mekanisme kompensasi untuk mempertahankan perfusi pada tahap awal syok) (Haseer Koya & Paul, 2021).

Pada tahap lanjut syok akibat deplesi volume progresif, curah jantung juga menurun dan bermanifestasi sebagai hipotensi.

Syok hipovolemik dibagi menjadi dua (Haseer Koya & Paul, 2021), yaitu:

  1. Syok hemoragik
  2. Syok non-hemoragik.

Penyebab umum syok hemoragik (Haseer Koya & Paul, 2021), adalah:

  • Perdarahan pada saluran cerna (mis: perdarahan varises, perdarahan gastropati hipertensi portal, ulkus peptikum, divertikulosis) akibat trauma
  • Etiologi vaskular (misalnya, fistula aortoenterika, ruptur aneurisma aorta perut, tumor yang mengikis ke dalam pembuluh darah utama)
  • Pendarahan spontan pada pasien yang menggunakan antikoagulan

Penyebab umum syok non-hemoragik (Haseer Koya & Paul, 2021), meliputi:

  • Kehilangan cairan di sistem gastrointestinal (mis: muntah, diare, penghisapan selang hidung, atau drain).
  • Kehilangan cairan di sistem ginjal (mis: diuresis karena efek obat, gangguan endokrin seperti hipoaldosteronisme).
  • Kehilangan cairan di sistem integument atau kehilangan insensible (mis: luka bakar, sindrom Stevens-Johnson, Nekrolisis epidermal toksik, sengatan panas, demam).
  • Kehilangan cairan di ruang tubuh yang tidak terlihat (mis: pankreatitis, sirosis, obstruksi usus, trauma).

Syok kardiogenik

Syok kardiogenik diakibatkan karena penurunan curah jantung dan hipoperfusi sistemik (Haseer Koya & Paul, 2021).

Beberapa kondisi yang berkontribusi terhadap munculnya syok kardiogenik meliputi:

  • Kardiomiopati, termasuk infark miokard akut yang mempengaruhi lebih dari 40% area ventrikel kiri, infark miokard akut yang terjadi di multi pembuluh darah jantung, infark miokard ventrikel kanan, kardiomiopati dilatasi fulminan, henti jantung (karena pemingsanan miokard), miokarditis.
  • Aritmia, baik takiaritmia, maupun bradiaritmia
  • Mekanik, termasuk insufisiensi aorta berat, insufisiensi mitral berat, ruptur otot papiler, atau ruptur korda tendinae pada kondisi aneurisma dinding ventrikel bebas.

Syok obstruktif

Syok obstruktif mayoritas diakibatkan oleh penyebab ekstrakardiak yang menyebabkan penurunan curah jantung ventrikel kiri (Haseer Koya & Paul, 2021), seperti:

  • Gangguan aliran darah dari jantung kanan ke jantung kiri. Contohnya emboli paru yang signifikan secara hemodinamik, atau hipertensi pulmonal berat.
  • Gangguan pengisian jantung kanan atau karena penurunan aliran balik vena ke jantung kanan karena kompresi ekstrinsik. Contohnya tension pneumotoraks, tamponade perikardial, kardiomiopati restriktif, perikarditis konstriktif.

Syok distributif

Syok distributive ditandai dengan vasodilatasi perifer.

Ada 5 jenis syok distributif (Haseer Koya & Paul, 2021), yaitu:

  1. Syok septik
  2. SIRS (systematic inflammatory response syndrome)
  3. Syok anafilaksis
  4. Syok neurogenik
  5. Syok endokrin

Syok Septik

Sepsis adalah disfungsi organ yang mengancam jiwa akibat disregulasi respon host terhadap infeksi (Haseer Koya & Paul, 2021).

Syok septik adalah bagian dari sepsis dengan kelainan peredaran darah, seluler, dan metabolisme yang parah yang mengakibatkan hipoperfusi jaringan yang bermanifestasi sebagai hipotensi yang memerlukan terapi vasopresor dan peningkatan kadar laktat (lebih dari 2 mmol/L) (Haseer Koya & Paul, 2021).

Patogen paling umum yang menyebabkan sepsis dan syok septik adalah bakteri gram positif, yaitu pneumonia streptokokus dan Enterococcus.

SIRS

Systemic Inflammatory Response Syndrome (SIRS) adalah sindrom klinis dari respon inflamasi yang kuat yang disebabkan oleh penyebab infeksi atau noninfeksi.

Penyebab infeksi termasuk patogen seperti bakteri gram positif (paling umum), dan gram negatif, jamur, infeksi virus (misalnya virus pernapasan), parasit (misalnya malaria), dan infeksi riketsia.

Sedangkan penyebab noninfeksi termasuk tetapi tidak terbatas pada pankreatitis, luka bakar, emboli lemak, emboli udara, dan emboli cairan ketuban.

Syok Anafilaksis

Syok anafilaksis adalah sindrom klinis reaksi hipersensitivitas berat yang dimediasi oleh imunoglobulin E (IgE), yang mengakibatkan kolaps kardiovaskular dan gangguan pernapasan akibat bronkospasme.

Reaksi hipersensitivitas langsung dapat terjadi dalam hitungan detik hingga menit setelah antigen pemicu muncul.

Alergen yang umum menyebabkan syok anafilaksis adalah obat-obatan (misalnya, antibiotik, NSAID), makanan, sengatan serangga, hingga lateks.

Syok Neurogenik

Syok neurogenik dapat terjadi pada keadaan trauma pada sumsum tulang belakang atau otak.

Mekanisme yang mendasari syok ascularc adalah gangguan jalur otonom yang mengakibatkan penurunan resistensi ascular dan perubahan tonus vagal.

Syok Endokrin

Syok endokrin terjadi akibat etiologi endokrin yang mendasarinya seperti kegagalan adrenal (krisis Addisonian) dan miksedema.

Patofisiologi Syok

Syok berawal dari hipoksia di tingkat sel.

Hipoksia (kekurangan oksigen) di tingkat sel menyebabkan serangkaian perubahan fisiologis dan biokimia, mengakibatkan asidosis dan penurunan aliran darah regional, yang selanjutnya berlanjut ke hipoksia jaringan.

Pada syok hipovolemik, obstruktif, dan kardiogenik, terjadi penurunan curah jantung dan penurunan transportasi oksigen.

Sedangkan pada syok distributif, terjadi penurunan resistensi pembuluh darah perifer dan ekstraksi oksigen yang abnormal.

Secara umum, syok memiliki tiga tahap yaitu:

  1. Pra-syok atau kompensasi syok
  2. Syok
  3. Disfungsi organ akhir

Pre-shock atau kompensasi shock, ditandai dengan mekanisme kompensasi untuk melawan kondisi penurunan perfusi jaringan, termasuk takikardia, vasokonstriksi perifer, dan perubahan tekanan darah sistemik.

Selama tahap syok, sebagian besar tanda dan gejala klasik syok muncul karena disfungsi organ awal, akibat perkembangan tahap pra-syok karena mekanisme kompensasi menjadi tidak mencukupi.

Disfungsi organ akhir mengarah ke disfungsi organ ireversibel, kegagalan multiorgan, hingga kematian.

Cara Menentukan Kelas Syok

Intervensi keperawatan untuk penanganan syok adalah resusitasi cairan (I.03139) dalam buku Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (PPNI, 2018).

Berdasarkan intervensi resusitasi cairan, penting untuk mengidentifikasi kelas syok untuk estimasi kehilangan darah.

Syok yang dimaksudkan disini adalah syok hipovolemik.

Ada 4 kelas syok hipovolemik, yaitu kelas 1, 2, 3, dan 4. Lihat penjelasannya pada tabel dibawah:

Tanda & GejalaKelas 1Kelas 2Kelas 3Kelas 4
Kehilangan darah (ml)750 ml750 – 1500 ml1500 – 2000 ml> 2000 ml
Kehilangan darah (% volume darah)< 15 %15 – 30 %30 – 40%> 40%
Denyut jantung< 100> 100> 120> 140
TD SistolTidak ada perubahanTidak ada perubahanTurunSangat rendah
TD DiastolTidak ada perubahanMeningkatTurunTidak terdeteksi
Frekuensi napas< 20> 20> 30> 40
Output urine (ml per jam)> 3020 – 3010 – 20< 10
EkstremitasNormalPucatPucatDingin
Kondisi kejiwaanSadarCemasAgresif/mengantukBingung/tidak sadar
Sumber: Thomson, Cowan, Morgan, & Rahman (2010)

Berdasarkan tabel diatas, maka berikut cara mengidentifikasi kelas syok untuk estimasi kehilangan darah:

  1. Ukur tekanan darah, denyut jantung, dan frekuensi napas
  2. Pasang foley kateter untuk memantau output urin
  3. Inspeksi dan palpasi ekstremitas
  4. Kaji kondisi kejiwaan pasien

Setelah mendapatkan data keempat hasil pemeriksaan diatas, maka cocokan data dengan tabel, dan estimasikan kehilangan darah sesuai data yang muncul.

Contoh:

Seorang laki-laki, 42 tahun datang ke IGD karena KLL. Pasien terlihat mengantuk. Hasil pengkajian didapatkan data TD 50/30 mmHg, denyut nadi 130 kali per menit, frekuensi napas 40 kali per menit, output urin 25 ml per jam, ekstremitas pucat.

Berdasarkan data diatas, maka disimpulkan bahwa:

  • Estimasi kehilangan darah pada pasien adalah 1500 – 2000 ml, atau kehilangan darah sekitar 30 – 40%
  • Pasien dalam kondisi syok hipovolemik kelas III.

Diagnosis Keperawatan Terkait

Beberapa diagnosis keperawatan yang membutuhkan data dari cara menentukan kelas syok untuk estimasi perdarahan adalah gangguan sirkulasi spontan.

Gangguan sirkulasi spontan merupakan diagnosis keperawatan yang membutuhkan intervensi resusitasi cairan.

Referensi

  1. Hooper N, Armstrong TJ. Hemorrhagic Shock. [Updated 2022 Jul 11]. In: StatPearls [Internet]. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2022 Jan-. Available from: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK470382/
  2. Haseer Koya H, Paul M. Shock. [Updated 2021 Jul 26]. In: StatPearls [Internet]. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2022 Jan-. Available from: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK531492/
  3. Thomson S.J., Cowan M.L., Morgan, R., & Rahman, T.M. (2010). Gastrointestinal Bleeding. DOI: 10.1007/978-0-387-77893-8_41.
  4. PPNI. (2018). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia: Definisi dan Tindakan Keperawatan, Edisi 1 Cetakan II. Jakarta: PPNI.

Leave a Reply

Your email address will not be published.