Cara menulis tabel definisi operasional penelitian keperawatan

perawat.org | cara menulis tabel definisi operasional penelitian keperawatan.

Pada saat kita menyusun sebuah proposal penelitian, lazimnya kita akan membuat sebuah definisi operasional yang disajikan dalam bentuk tabel.

Tabel tersebut disebut dengan tabel definisi operasional.

Tabel definisi operasional adalah tabel yang memuat informasi tentang variabel penelitian, definisi operasional, cara ukur, hasil ukur, dan skala ukur.

Contohnya pada tabel dibawah ini:

NoVariabelDefinisi OperasionalAlat UkurHasil UkurSkala Ukur
1Jenis kelaminJenis kelamin adalah jenis kelamin responden sesuai KTP pada saat mengisi kuesioner penelitianKuesionerLaki-lakiPerempuanNominal
2PendidikanPendidikan formal terakhir responden dengan status lulus.KuesionerSDSMPSMAPerguruan TinggiOrdinal
Contoh Tabel Definisi Operasional

Menyajikan informasi-informasi sebagaimana pada contoh tabel diatas secara tepat sangat penting, karena nantinya akan menjadi panduan saat kita melakukan analisis data.

Jika kita tidak menuliskan tabel operasional dengan benar, maka analisis penelitian kita akan berjalan serampangan, tanpa ada panduan yang memandu.

Pada artikel ini, kita akan belajar bagaimana cara menulis tabel definisi operasional.

Namun sebelumnya, mari kita lihat dahulu konsep-konsep dasar dari informasi yang akan kita sajikan dalam tabel tersebut.

Daftar isi

Variabel Penelitian

Variabel penelitian adalah pengertian secara umum mengenai sesuatu himpunan benda-benda atau hal lain yang dapat dibendakan (Indarwati, 2020).

Misalkan tentang konsep menyusui, kepatuhan, penyakit, usia, tingkat pendidikan dan lain-lain.

Konsep yang bervariasi ini dapat disebut sebagai variabel.

Menurut Adiputra (2021), variabel dalam suatu penelitian merupakan nilai yang berbeda dan bervariasi antara satu objek/ kategori dengan obyek/ kategori yang lain, nilai tersebut dapat dinyatakan dalam satu ukuran atau dapat diukur.

Menurut Indarwati (2020), secara garis besar, ada 2 macam variabel penelitian, yaitu variabel bebas (independen), dan variabel terikat (dependen).

Namun umumnya, selain variabel independen dan variabel dependen, ada juga digunakan variabel moderator, dan variabel perancu.

Mari kita lihat satu persatu…

Variabel Independen

Variabel independen atau variabel bebas adalah variabel yang menjadi sebab perubahan atau timbulnya variabel dependen (terikat).

Disebut variabel bebas karena variabel tersebut bebas dalam mempengaruhi variabel lain.

Selain itu, variabel independent juga punya beberapa sebutan lain, seperti variabel prediktor, risiko, atau kuasa.

Contoh:

Peneliti ingin melakukan penelitian untuk mengidentifikasi faktor-faktor risiko orang terkena TB Paru Resisten Obat (TB-RO).

Faktor-faktor risiko yang dicurigai berhubungan dengan TB-RO adalah: jenis kelamin, lingkungan, gaya hidup, pekerjaan, dsb.

Nah, faktor-faktor risiko tersebut adalah variabel independen (variabel bebas), karena mempengaruhi variabel lain yaitu Penderita TB-RO.

Variabel Dependen

Variabel dependen adalah lawan dari variabel independen.

Variabel dependen adalah variabel yang dipengaruhi atau menjadi akibat karena variabel bebas.

Disebut variabel terikat karena variabel ini bergantung pada dari variabel bebas terhadap perubahan.

Nama lain dari variabel ini adalah variabel efek, hasil, outcome, atau event.

Perhatikan contoh sebelumnya, faktor-faktor risiko yang dicurigai berhubungan dengan TB-RO adalah: jenis kelamin, lingkungan, gaya hidup, pekerjaan, dsb.

Bila jenis kelamin, lingkungan, gaya hidup, pekerjaan, dsb adalah variabel independent, maka variabel dependennya adalah penderita TB-RO.

Kenapa?

Karena seseorang berisiko tinggi terkena penyakit TB-RO karena faktor-faktor risiko tersebut.

Dengan kata lain, penderita TB-RO adalah efek dari faktor-faktor risiko tersebut (variabel independen).

Variabel Moderator (Intervening)

Variabel moderator adalah variabel yang dapat memperkuat atau memperlemah hubungan antara variabel independen dan variabel dependen.

Contohnya…

Kita ingin melakukan penelitian tentang pengaruh perawatan luka dengan modern dressing terhadap kecepatan proses penyembuhan luka pasien DM.

Perawatan luka modern dengan dressing adalah variabel independen.

Sedangkan kecepatan penyembuhan luka adalah variabel dependen.

Pada penjelasan sebelumnya, sudah jelas bahwa variabel independen mempengaruhi variabel dependen.

Namun, kita juga curiga bahwa selain dengan modern dressing, kecepatan penyembuhan luka juga tergantung pada kebersihan lingkungan pasien.

Nah, muncul variabel baru, yaitu kebersihan lingkungan.

Variabel baru ini dapat kita kategorikan sebagai variabel moderator (intervening).

Kok bisa?

Karena variabel moderator (kebersihan lingkungan) ini dapat memperkuat hubungan antara variabel independen (modern dressing) dan variabel dependen (kecepatan penyembuhan luka).

Variabel Perancu (Confounding)

Variabel perancu atau confounding adalah variabel yang berhubungan dengan variabel bebas dan variabel terikat, tetapi bukan merupakan variabel moderator.

Waduh, apaan tuh?

Tenang, sebentar kita pelajari…

Seperti yang sudah dituliskan diatas, variabel moderator adalah variabel yang dapat memperkuat atau memperlemah hubungan antara variabel independen dan variabel dependen.

Kalau variabel perancu, sesuai namanya adalah variabel yang membuat rancu hubungan antara variabel independen dan variabel dependen.

Contoh…

Kita akan melakukan penelitian yang bertujuan untuk mengidentifikasi hubungan pengetahuan ibu tentang imunisasi, dengan kelengkapan imunisasi dasar lengkap pada bayi.

Hipotesis kita adalah bahwa ada hubungan antara pengetahuan ibu tentang imunisasi dengan kelengkapan imunisasi dasar lengkap pada bayi.

Logika berpikirnya, bila tingkat pengetahuan ibu tentang pentingnya imunisasi tinggi, maka pasti bayinya akan mendapatkan imunisasi dasar yang lengkap.

Lalu, selain mencari hubungan tersebut, kita juga akan mengidentifikasi data demografi dari responden, seperti usia, tingkat pendidikan, pengalaman, dsb.

Data-data tersebut juga merupakan variabel. Tetapi tidak dapat dimasukan sebagai variabel moderator.

Karena, variabel seperti usia, tingkat pendidikan, dan pengalaman tidak memperkuat hubungan antara variabel independen dan variabel dependen.

Kita memasukan variabel tersebut dalam penelitian hanya karena kebetulan bahwa, berdasarkan tinjauan teori, variabel tersebut secara tidak langsung mempengaruhi pengetahuan seseorang.

Garis bawahi ya, mereka hanya mempengaruhi variabel independen saja. Bukan memperkuat hubungan antara variabel.

Definisi Operasional

Definisi Operasional adalah definisi yang dibuat oleh peneliti untuk masing-masing variabel berdasarkan karakteristik yang akan diamati, dan memungkinkan peneliti untuk melakukan observasi atau pengukuran secara cermat terhadap suatu objek atau fenomena.

Misalnya untuk variabel tekanan darah. Apa definisi operasionalnya?

Bila anda menuliskan, “tekanan yang dialami darah pada pembuluh darah arteri ketika darah di pompa ke seluruh anggota tubuh.”

Itu bukan definisi operasional, melainkan definisi konsep.

Definisi berdasarkan konsep atau teori yang kita tulis di tinjauan pustaka.

Ingat, definisi operasional adalah definisi yang dibuat sendiri oleh peneliti. Tidak ada aturan baku penulisan definisi operasional.

Anda dapat menuliskannya seperti ini:

“Tekanan darah sistol dan diastol responden yang diukur menggunaan sphygmomanometer.”

Atau…

“Hasil pengukuran tekanan darah sistol dan diastol responden.”

Mudah bukan?

Selanjutnya mari kita lihat konsep cara ukur…

Alat Ukur

Alat ukur adalah cara apa yang kita gunakan untuk mendapatkan data variabel.

Penelitian di bidang ilmu keperawatan sangatlah kompleks, sehingga membutuhkan banyak instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data, sesuai jenis data dan sifat data yang akan dikumpulkan (Indarwati, 2020).

Misalnya, untuk mengobservasi tingkat pengetahuan kita bisa menggunakan kuesioner.

Untuk mengobservasi data Langkah kaki, kita gunakan pedometer.

Untuk mengukur tekanan darah, kita gunakan sphygmomanometer.

Suhu gunakan termometer.

Dan lain sebagainya…

Anda lah yang paling tahu bagaimana cara mengukur variabel yang akan anda teliti, dan alat apa yang digunakan.

Namun umumnya alat ukur yang paling sering digunakan pada penelitian keperawatan adalah:

  1. Kuesioner
  2. Lembar observasi
  3. Lembar wawancara

Alat ukur ini disebut juga instrumen penelitian.

Hasil Ukur

Bila alat ukur adalah cara apa yang kita gunakan untuk mendapatkan data variabel, maka hasil ukur adalah data variabel tersebut.

Misalnya, salah satu variabel kita adalah tekanan darah, alat ukurnya sphygmomanometer.

Maka hasil ukur kita adalah tekanan darah sistol dan tekanan darah diastol.

Pada penelitian keperawatan, hasil ukur ini umumnya dibuat secara kategori, dan diberikan kode.

Contoh:

Hasil ukur tekanan darah tadi kita buat menjadi kategori:

  1. Normal (TDS < 120 mmHg, TDD < 80 mmHg)
  2. Pra-hipertensi (TDS 120 – 139 mmHg, TDD 80 – 89 mmHg)
  3. Hipertensi tingkat 1 (TDS 140 – 159 mmHg, TDD 90 – 99 mmHg)
  4. Hipertensi tingkat 2 (TDS > 160 mmHg, TDD > 100 mmHg)

Contoh lain:

Variabel jenis kelamin, alat ukur kuesioner, hasil ukur:

  1. Laki-laki
  2. Perempuan

Contoh lagi:

Variabel pengetahuan, alat ukur kuesioner, hasil ukur tingkat pengetahuan, dikategorikan menjadi:

  1. Baik  (76 – 100%)
  2. Cukup (56 – 75%)
  3. Kurang (< 55%)

Wajib diingat pula bahwa dalam mengkategorikan hasil ukur pada sebuah variabel, harus ada landasannya.

Landasannya adalah teori yang kita tulis di bab 2.

Misalnya, kategori tekanan darah diatas tadi adalah didapatkan dari Kementerian Kesehatan.

Sedangkan kategori untuk pengetahuan didapatkan dari cara mengukur pengetahuan oleh Darsini et al (2019).

Namun anda juga boleh bila tidak mau menggunakan kategori, tetapi langsung mencari rata-rata.

Misalnya variabel berat badan dengan alat ukur timbangan, menghasilkan hasil ukur berat badan.

Jadi penulisan hasil ukurnya cukup tuliskan, “berat badan dalam Kg”

Skala Ukur

Skala ukur diidentifikasi oleh peneliti berdasarkan hasil ukur yang telah ditetapkan sebelumnya.

Penskalaan variabel yang akan diteliti sangat penting karena ini nantinya digunakan saat melakukan analisa data menggunakan SPSS.

Skala pengukuran dapat diklasifikasikan menjadi 2, yaitu skala kategorik, dan skala numerik, yang masing-masing terbagi lagi menjadi 2 (lihat gambar dibawah).

Skala Ukur Penelitian (Indarwati, 2020).

Skala kategorik terbagi menjadi skala nominal dan ordinal, sedangkan skala numerik terbagi menjadi skala interval dan rasio.

Skala nominal dan ordinal masuk dalam skala kategorik karena hasil ukurnya dibuat dalam bentuk kategori.

Sedangkan skala internal dan rasio masuk dalam skala numerik karena hasil ukurnya (berupa angka) ditulis apa adanya, tanpa dibuat kategori dan kode.

Mulai nyambung ya. Lihat lagi penjelasan tentang hasil ukur diatas.

Skala Nominal Vs Ordinal

Lalu apa bedanya skala nominal dan ordinal?

Bedanya adalah, skala nominal ada perbedaan tetapi tidak ada tingkatan, sedangkan skala ordinal ada perbedaan dan ada tingkatan.

Contoh variabel dengan skala nominal:

  1. Jenis kelamin
  2. Golongan darah
  3. Agama
  4. Suku
  5. Dsb

Perhatikan variabel diatas, meski ada perbedaan, tetapi tidak ada tingkatan.

Laki-laki berbeda dengan perempuan, tetapi tidak ada yang lebih tinggi derajatnya antara laki-laki dan perempuan, alias sama saja, alias tidak ada tingkatan.

Bandingkan dengan contoh variabel dengan skala ordinal berikut:

  1. Pendidikan
  2. Status gizi
  3. Stase kanker
  4. Dsb

Pada variabel Pendidikan, ada perbedaan antara SD, SMP, SMA, dan juga ada tingkatan. Lulusan SMA lebih tinggi daripada SMP, dan lulusan SMP lebih tinggi daripada SD.

Itulah yang dimaksud dengan ada perbedaan dan ada tingkatan.

Skala Interval Vs Rasio

Skala interval dan skala rasio sama-sama turunan dari skala numerik.

Ciri khasnya adalah skala numerik dapat dimanipulasi secara matematik (ditambah, dikurang, dibagi, dikali).

Sedangkan perbedaannya terletak pada nilai 0 alami.

Skala interval tidak mempunyai nilai 0 alami, misalnya suhu 0°C tidak sama dengan suhu 0°F.

Sedangkan skala rasio mempunyai nilai 0 alami, contohnya berat badan Susi 25 Kg, Andi 50 Kg yang artinya berat badan andi 2 kali berat badan Susi.

Meski kita harus menuliskan skala numerik apa yang kita gunakan dalam penelitian, tetapi kenyataannya saat kita melakukan analisis data dengan SPSS. Pemilihan skala yg tersedia hanya 3, yaitu nominal, ordinal, dan numerik saja.

Cara Menulis Tabel Definisi Operasional Penelitian

Berdasarkan penjelasan konsep-konsep dasar diatas, berikutnya adalah mengaplikasikannya dalam bentuk tabel definisi operasional.

Masing-masing institusi memiliki standar masing-masing tentang apa saja yang harus masuk dalam tabel definisi operasional.

Tetapi umumnya terdiri dari variabel, definisi operasional, alat ukur, hasil ukur, dan skala ukur.

Mari kita aplikasikan dengan contoh 4 variabel masing-masing dengan skala ukur yang berbeda.

Berikut adalah Langkah-langkah menulis tabel definisi operasional penelitian (lihat tabel dibawah).

  1. Masukan variabel penelitian yang akan diteliti berdasarkan kerangka konsep yang telah dibuat sebelumnya.
  2. Rumuskan definisi operasional masing-masing variabel penelitian sesuai dengan kebutuhan.
  3. Tuliskan alat ukur yang diperlukan untuk mendapatkan data variabel tersebut.
  4. Tentukan dan tuliskan hasil ukur yang diinginkan. Peneliti memutuskan sendiri apakah ingin menggunakan skala kategorik atau skala numerik.
  5. Identifikasi skala ukur yang tepat untuk hasil ukur yang dituliskan.
  6. Rapikan ukuran tabel dan penulisannya.
NoVariabelDefinisi OperasionalAlat UkurHasil UkurSkala Ukur
(0)(1)(2)(3)(4)(5)
1Jenis kelaminJenis kelamin adalah jenis kelamin responden sesuai KTP pada saat mengisi kuesioner penelitianKuesioner1. Laki-laki
2. Perempuan
Nominal
2PendidikanPendidikan formal terakhir responden dengan status lulus.Kuesioner1. SD
2. SMP
3. SMA
4. Perguruan Tinggi
Ordinal
3Suhu TubuhSuhu tubuh responden pada saat pengukuran suhu tubuh dilakukan.Thermometer Lembar observasiSuhu tubuh dalam °CInterval
4Berat BadanBerat badan responden pada saat pengukuran berat badan dilakukanTimbanganLembar observasiBerat badan dalam KgRasio
Contoh Tabel Definisi Operasional

Kesimpulan

Menulis tabel definisi operasional sangat penting dalam penelitian.

Ini akan digunakan oleh peneliti sebagai referensi saat melakukan pengumpulan data dan Analisa data.

Bagi pembimbing dan penguji (bila penelitian anda dalam rangka tugas kuliah), definisi operasional adalah salah satu yang akan di kupas tuntas, dan ditanyakan panjang lebar.

Referensi

  1. Adiputra, I. M. S. (2021). Metodologi Penelitian Kesehatan. Yayasan Kita Menulis.
  2. Darsini, Fahrurrozi, & Cahyono, E. A. (2019). Pengetahuan: Artikel Review. Jurnal Keperawatan, 12(1), 95–107.
  3. Indarwati., Maryatun., Purwaningsih, W., Andriani, A., & Siswanto. (2020). Penerapan Metode Penelitian dalam Praktik Keperawatan Komunitas Lengkap dengan Contoh Proposal. Solo: CV. Indotama Solo.
  4. Masturoh, I., & Anggita T, N. (2018). Metodologi Penelitian Kesehatan. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia Pusat Pendidikan Sumber Daya Manusia Kesehatan.
  5. File pribadi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *