Etiologi dan analisis data diagnosis nyeri akut

Perawat.org | Etiologi dan Analisis Data Diagnosis Nyeri Akut

Nyeri akut (D.0077) merupakan diagnosis keperawatan yang didefinisikan sebagai pengalaman sensorik atau emosional yang berkaitan dengan kerusakan jaringan aktual atau fungsional, dengan onset mendadak atau lambat dan berintensitas ringan hingga berat yang berlangsung kurang dari 3 bulan.

Memahami etiologi dan mekanisme terjadinya nyeri akut sangat penting bagi perawat, untuk mengangkat diagnosis dan memberikan tindakan keperawatan yang tepat dan efektif.

Dalam artikel ini, kita akan belajar berbagai etiologi atau penyebab yang dapat memicu timbulnya nyeri akut, lengkap dengan patofisiologi, serta diagramnya untuk dapat kamu gunakan saat melakukan analisis data.

Dalam standar diagnosis keperawatan Indonesia (SDKI), ada 3 penyebab atau etiologi untuk diagnosis nyeri akut, yaitu:

  1. Agen pencedera fisiologis (mis: inflamasi, iskemia, neoplasma)
  2. Agen pencedera kimiawi (mis: terbakar, bahan kimia iritan)
  3. Agen pencedera fisik (mis: abses, amputasi, terbakar, terpotong, mengangkat berat, prosedur operasi, trauma, Latihan fisik berlebihan).

Mari kita pelajari satu per satu

Agen pencedera fisiologis

Agen pencedera fisiologis adalah faktor-faktor eksternal atau pemicu stress yang menyebabkan kerusakan pada fungsi dan struktur jaringan dan sistem tubuh.

Dalam SDKI, agen pencedera fisiologis dapat berupa inflamasi, iskemia, atau neoplasma.

Saat agen pencedera fisiologis ini muncul, terjadi kerusakan atau stress pada jaringan.

Sel-sel yang rusak kemudian melepaskan serangkaian mediator kimia inflamasi seperti histamin, serotonin, prostaglandin, dan bradykinin.

Zat-zat ini dapat menyebabkan pembengkakan (edema) dan kemerahan, mengiritasi dan mengaktifkan reseptor nyeri (nociceptor), dan membuat saraf menjadi lebih sensitif terhadap rangsangan.

Saat nociceptor teraktivasi, impuls nyeri dikirim melalui serabut saraf A-delta dan C menuju medulla spinalis dan otak.

Otak kemudian mengenali sinyal tersebut sebagai nyeri akut.

Beberapa kasus dimana mekanisme ini dapat terjadi adalah pada radang sendi, nyeri dada karena iskemia, atau nyeri karena tekanan tumor.

Diagram dibawah ini menjelaskan patofosiologinya dengan lebih sederhana, dan juga dapat kamu gunakan saat melakukan analisis data:

Analisis data etiologi agen fisiologis nyeri akut

Agen pencedera kimiawi

Agen pencedera kimiawi adalah penyebab cedera yang berasal dari zat-zat kimia yang dapat mengakibatkan kerusakan jaringan secara langsung (VanHoy, Metheny, & Patel, 2023).

Dalam SDKI, agen pencedera kimiawi dapat berupa terbakar, bahan kimia iritan.

Menurut Badan Perlindungan Lingkungan Amerika Serikat (US EPA), bahan kimia iritan berbahaya dapat dikelompokkan menjadi empat kategori utama (lihat tabel dibawah):

Agen kimiawiPenjelasanContoh zatContoh kasus
Choking agents (Agen yang menyerang pernapasan)Agen ini membuat saluran napas iritasi berat. Saat terhirup, paru-paru bisa terisi cairan sehingga menyebabkan sesak napas.Chlorine (Cl), Phosgene (CG)Kebocoran gas chlorine di pabrik atau kolam renang besar. Orang yang terpapar biasanya batuk keras, mata pedih, dan sulit bernapas.   Insiden Perang Dunia I, ketika gas phosgene digunakan dan menyebabkan banyak tentara mengalami gagal napas.
Blister agents (Agen penyebab lepuh pada kulit)Agen ini menyebabkan kulit melepuh, mata perih, dan iritasi saluran napas. Luka lepuhnya mirip luka bakar.Sulfur mustard (gas mustard), LewisitePaparan gas mustard pada Perang Dunia I. Tentara mengalami lepuh besar pada kulit, mata bengkak, dan kesulitan bernapas.   Kecelakaan laboratorium, ketika botol bahan kimia bocor dan menyebabkan iritasi kulit serta luka melepuh pada peneliti.
Blood agents (Agen yang mengganggu penggunaan oksigen dalam tubuh)Agen ini masuk ke aliran darah dan menghentikan kemampuan sel untuk menggunakan oksigen. Orang bisa pingsan dalam hitungan menit.Hydrogen cyanide (HCN), Cyanogen chloride (CK).Keracunan sianida pada industri pertambangan atau electroplating. Pekerja mengalami pusing, sesak, lalu kehilangan kesadaran.   Kasus percobaan bunuh diri dengan bahan sianida, yang menyebabkan kematian sangat cepat karena tubuh tidak bisa memanfaatkan oksigen.
Nerve agents (Agen yang menyerang sistem saraf)Agen ini menghentikan kerja enzim AChE sehingga saraf terus aktif tanpa kontrol. Dampaknya bisa berupa air liur berlebihan, kejang, lumpuh, sampai kematian.Sarin, VXSerangan gas Sarin di Tokyo (1995). Korban mengalami mata berair, muntah, kejang, dan beberapa meninggal karena gagal napas.   Paparan VX pada insiden pembunuhan Kim Jong-nam (2017). Korban pingsan dalam beberapa menit dan meninggal akibat kelumpuhan otot pernapasan.

Saat zat-zat kimia yang bersifat korosif dan iritan ini terpapar tubuh, terjadi kerusakan permukaan kulit dan jaringan tubuh secara langsung, sehingga sel-sel menjadi rusak atau mati.

Saat jaringan mengalami kerusakan, zat kimia menyebabkan iritasi langsung pada ujung saraf, tubuh melepaskan mediator inflamasi, dan terjadi pembengkakan dan peningkatan aliran darah, sehingga nyeri bertambah kuat.

Pada luka bakar akibat bahan kimia, ujung saraf dapat terbuka sehingga rasa nyeri dikarakteristikkan sebagai sangat tajam dan panas.

Contoh kasusnya adalah tumpahan cairan pembersih yang kuat pada kulit, iritasi asam atau alkali.

Diagram dibawah ini menjelaskan patofosiologinya dengan lebih sederhana, dan juga dapat kamu gunakan saat melakukan analisis data

Analisis data etiologi agen kimiawi nyeri akut.jpg

Agen pencedera fisik

Dalam SDKI, agen pencedera fisik dapat berupa abses, amputasi, terbakar, terpotong, mengangkat berat, prosedur operasi, trauma, latihan fisik berlebihan).

Agen-agen pencedera fisik tersebut dapat menyebabkan kerusakan langsung pada struktur tubuh, seperti kulit, otot, tulang, pembuluh darah, atau saraf.

Saat jaringan robek, atau tertekan, sel menjadi rusak dan melepaskan mediator inlamasi, yang kemudian menyebabkan pembengkakan dan menekan saraf.

Saraf yang tertekan menstimulasi nociceptor dan mengirim impuls nyeri ke otak.

Pada kondisi abses atau hematoma, penumpukan cairan di ruang tertutup mengakibatkan tekanan meningkat sehingga menimbulkan nyeri berdenyut (throbbing pain).

Pada Latihan fisik yang berlebihan, otot yang cedera mengakibatkan penumpukan asam laktat sehingga muncul nyeri tumpul.

Beberapa kasus dimana mekanisme ini dapat terjadi adalah pada pasien pasca operasi, atau pasien yang mengalami abses.

Diagram dibawah ini menjelaskan patofosiologinya dengan lebih sederhana, dan juga dapat kamu gunakan saat melakukan analisis data

Kesimpulan

Memahami etiologi dan patofisiologi nyeri akut penting agar kamu dapat mengangkat diagnosis keperawatan yang tepat.

Lihat cara menulis diagnosis yang tepat

Diagnosis keperawatan yang tepat berperan penting dalam memilih intervensi yang tepat karena intervensi harus diarahkan untuk mengeliminasi etiologi terlebih dahulu, baru tanda dan gejalanya (SIKI, 2017)

Namun penting untuk dicatat bahwa, meski pembagian etiologi yang dijelaskan diatas membantu kamu untuk memahami sumber awal nyeri, namun mekanismenya sering tumpeng tindih.

Misalnya, luka fisik dapat memicu inflamasi fisiologis yang sama seperti infeksi, atau paparan kimia dapat menyebabkan luka fisik.

Oleh karena itu, peran perawat sangat penting dalam merancang intervensi yang tepat, efektif, dan aman, serta meningkatkan kualitas penatalaksanaan nyeri bagi pasien.

Baca juga: 8 alat pengkajian nyeri populer dan mudah digunakan.

Referensi

  1. VanHoy, T. B., Metheny, H., & Patel, B. C. (2023). Chemical burns. In StatPearls. StatPearls Publishing. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK499888/
  2. U.S. Environmental Protection Agency. (2025, February 11). Chemical Warfare Agents. https://www.epa.gov/emergency-response/chemical-warfare-agents
  3. PPNI. (2017). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia:Definisi dan Indikator Diagnostik, Edisi 1 Cetakan III (Revisi). Jakarta: PPNI.
  4. PPNI. (2018). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia: Definisi dan Tindakan Keperawatan, Edisi 1 Cetakan II. Jakarta: PPNI.

Leave a Reply