studi cavalier bias gender

perawat.org | Studi Cavalier tentang bias gender dalam keperawatan.

Dalam dunia keperawatan, setiap keputusan yang kita ambil memiliki dampak langsung pada kualitas hidup pasien.

Mulai dari cara kita menyapa, mendengarkan keluhan, hingga memilih tindakan atau obat yang diberikan, semuanya dapat mencerminkan keadilan atau justru bias yang tidak disadari.

Bias tidak selalu muncul secara terang-terangan. Terkadang, ia tersembunyi di balik intuisi, pengalaman pribadi, atau budaya yang kita bawa ke ruang perawatan.

Mungkin kita tidak bermaksud membedakan perlakuan antara pasien laki-laki dan perempuan, atau antara pasien dari suku atau ras berbeda.

Tapi, apakah keputusan kita benar-benar bebas dari prasangka?

Dalam upaya membangun layanan keperawatan yang adil dan inklusif, penting bagi kita untuk bertanya: Apakah jenis kelamin dan ras baik dari sisi perawat maupun pasien, mempengaruhi keputusan klinis dalam keperawatan, khususnya dalam manajemen nyeri?

Sebuah penelitian menarik dari Cavalier et al (2018) mencoba menjawab pertanyaan ini.

Artikel ini merangkum temuan penting dari penelitian Cavalier tersebut, yang bisa membuka mata kita terhadap potensi bias dalam praktik keperawatan sehari-hari.

Latar Belakang Penelitian

Studi Cavalier tentang bias gender ini mengkaji apakah keputusan perawat dalam memberikan perawatan, khususnya pengelolaan nyeri, dipengaruhi oleh jenis kelamin dan ras perawat, serta jenis kelamin dan ras pasien.

Meskipun layanan kesehatan seharusnya adil bagi semua orang, berbagai studi menunjukkan bahwa diskriminasi ras dan gender masih terjadi secara tidak sadar, bahkan di kalangan tenaga kesehatan profesional.

Mengapa Fokus pada Nyeri?

Nyeri adalah pengalaman universal. Semua orang pernah merasakannya, dan penanganan nyeri terjadi di hampir semua fasilitas layanan kesehatan.

Karena itu, nyeri menjadi tema yang ideal untuk mengkaji apakah keputusan klinis perawat mengandung bias.

Landasan Teori

Penelitian ini menggunakan kerangka teori keperawatan Imogene King. Teori ini menjelaskan bahwa keputusan perawat sangat dipengaruhi oleh:

  • Nilai, budaya, dan pengalaman pribadi
  • Persepsi terhadap pasien
  • Interaksi antara perawat dan pasien

Artinya, dua perawat bisa mengambil keputusan berbeda untuk pasien dengan kondisi yang sama, tergantung pada latar belakang pribadi mereka.

Metode Penelitian

Studi Cavalier tentang bias gender dalam keperawatan menggunakan metode sebagai berikut:

  • 400 perawat menjadi responden dalam penelitian ini, terdiri dari 100 perawat perempuan kulit putih, 100 laki-laki kulit putih, 100 perempuan kulit hitam, dan 100 laki-laki kulit hitam.
  • Setiap perawat diberikan satu skenario pasien yang identik, kecuali dalam hal ras dan jenis kelamin pasien (perempuan/laki-laki, hitam/putih).
  • Perawat diminta memilih satu dari empat obat nyeri yang tersedia, dari yang paling kuat hingga paling ringan.
  • Pilihan obat mencerminkan tingkat intensitas pengelolaan nyeri.

PICO

Komponen PICOPenjelasan
P (Population)Perawat (Registered Nurses) dari berbagai ras (kulit putih dan hitam) dan gender (laki-laki dan perempuan) yang membuat keputusan manajemen nyeri untuk pasien dewasa pascaoperasi.
I (Intervention)Simulasi kasus (vignette) dengan manipulasi variabel ras dan gender pasien, untuk menilai pengaruhnya terhadap keputusan pemberian obat nyeri.
C (Comparison)Perbandingan keputusan antara: Perawat laki-laki vs perawat perempuan,Perawat kulit putih vs perawat kulit hitam,Pasien laki-laki vs pasien perempuan,Pasien kulit putih vs pasien kulit hitam,Kombinasi kesamaan gender/ras antara perawat dan pasien (concordant vs discordant).
O (Outcome)Intensitas pengobatan nyeri yang dipilih perawat (dari ringan ke tinggi), sebagai indikator adanya bias atau ketidaksetaraan dalam pengambilan keputusan.

Hasil Penelitian

Temuan utama:

Jenis kelamin perawat berpengaruh signifikan terhadap keputusan pemberian obat nyeri.

  • Perawat laki-laki cenderung memberikan obat yang lebih kuat.
  • Perawat perempuan lebih berhati-hati dan memilih dosis yang lebih ringan.

Temuan tambahan:

Ras perawat, jenis kelamin pasien, dan ras pasien tidak menunjukkan pengaruh yang signifikan.

Namun, ada tren menarik:

  • Pasien perempuan kulit putih menerima dosis tertinggi.
  • Pasien laki-laki kulit putih menerima dosis terendah.
  • Perawat perempuan kulit putih memberi dosis paling tinggi untuk pasien dengan latar belakang yang sama.

Apa Maknanya bagi Dunia Keperawatan?

Studi ini menunjukkan bahwa keputusan perawat bisa dipengaruhi oleh stereotip gender dan ras, meskipun tidak disadari.

Meskipun tidak ditemukan bukti kuat tentang diskriminasi rasial, pola-pola kecil yang terlihat tetap perlu diperhatikan.

Perawat memiliki peran penting dalam menjamin keadilan dalam perawatan. Mereka menjadi penghubung utama antara pasien dan sistem layanan kesehatan.

Kelebihan Penelitian

  • Desain penelitian seimbang dan ketat, dengan distribusi responden yang merata.
  • Jumlah partisipan besar, dengan representasi gender dan ras yang setara, berbeda dari penelitian sejenis yang biasanya hanya melibatkan perawat perempuan kulit putih.

Keterbatasan Penelitian

  • Instrumen pengukuran mungkin belum cukup sensitif untuk menangkap kompleksitas pengambilan keputusan dalam dunia nyata.
  • Penggunaan lebih banyak skenario klinis bisa meningkatkan ketepatan hasil.

Kesimpulan

Perawat adalah garda terdepan dalam pelayanan kesehatan, dan berada dalam posisi strategis untuk:

  • Mengamati kebutuhan pasien
  • Mendeteksi ketimpangan
  • Memastikan setiap pasien mendapat perlakuan yang adil

Menumbuhkan kesadaran terhadap bias tidak sadar adalah langkah awal menuju pelayanan keperawatan yang setara dan berkualitas.

Mengapa Penelitian Ini Relevan untuk Perawat di Indonesia?

Meskipun studi ini dilakukan di Amerika Serikat, isu bias dalam pelayanan kesehatan juga relevan di Indonesia.

Perbedaan perlakuan terhadap pasien bisa terjadi karena:

  • Jenis kelamin
  • Suku atau latar belakang budaya
  • Status sosial atau ekonomi

Sebagai perawat, kita perlu reflektif terhadap keputusan yang kita buat.

Apakah kita memberi perawatan yang adil? Apakah ada bias yang tidak kita sadari?

Mari bangun layanan keperawatan yang inklusif, adil, dan tanpa prasangka.

Dukung Gerakan Merawat Tanpa Bias

Merawat Tanpa Bias (MTB) adalah gerakan kolaboratif dari Perawat.org untuk mendorong perawat Indonesia mewujudkan perawatan yang adil, inklusif, dan bebas prasangka.

Lewat edukasi, komunikasi publik, dan kampanye digital, MTB mendorong terciptanya budaya perawatan yang manusiawi dan setara bagi semua.

Jadi anggota

Ingin bergabung bersama komunitas Gerakan Merawat Tanpa Bias (MTB)?

  • Kunjungi laman resmi: tanpabias.perawat.org
  • Isi formulir pendaftaran di https://forms.gle/ENJm8HaY7raBaUHh7
  • Ikuti media sosial kami: Instagram: @perawat.ig | TikTok: @perawat.org | YouTube: PerawatTV

Referensi

Cavalier, J., Jr, Hampton, S. B., Langford, R., Symes, L., & Young, A. (2018). The Influence of Race and Gender on Nursing Care Decisions: A Pain Management Intervention. Pain management nursing : official journal of the American Society of Pain Management Nurses, 19(3), 238–245. https://doi.org/10.1016/j.pmn.2017.10.015

Leave a Reply