Perawat.org | Strategi Inklusi Disabilitas: Panduan dari CDC
Inklusi disabilitas berarti memastikan orang dengan disabilitas dapat berpartisipasi sepenuhnya dalam semua aspek kehidupan masyarakat, termasuk dalam Upaya Kesehatan Masyarakat.
Sebuah panduan dari CDC menekankan bahwa inklusi tidak hanya sekedar menyediakan akses fisik saja, namun juga menyertakan perubahan yang sistemik dalam rangka menghapus hambatan lingkungan, komunikasi, maupun pelayanan.
Mengapa Inklusi Disabilitas Penting?
Survei Ekonomi Nasional (Susenas) pada tahun 2020 mencatat ada 28,05 juta orang dengan disabilitas di Indonesia, atau setara dengan 10% total penduduk Indonesia.
Hal ini membuat Indonesia menjadi salah satu negara dengan penyandang disabilitas tertinggi di Asia Tenggara (SCORP, 2025).
Namun disisi lain, fasilitas Kesehatan dan tenaga Kesehatan masih belum sepenuhnya mampu memenuhi kebutuhan khusus mereka, sehingga meningkatkan risiko diskriminasi dan stigma dalam layanan (ICW, 2019).
Strategi Inklusi Disabilitas
Berikut adalah strategi-strategi memastikan upaya inklusi disabilitas, sebagaimana dilansir oleh CDC.
Strategi 1: Universal Design
Universal Design adalah sebuah strategi inklusi disabilitas saat merancang dan menyusun lingkungan agar dapat diakses, dipahami, dan digunakan semaksimal mungkin oleh semua orang, tanpa memandang usia, ukuran tubuh, kemampuan, atau disabilitas (Centre for Excellence in Universal Design).
Lingkungan, termasuk bangunan, produk, atau layanan di dalamnya, harus dirancang untuk memenuhi kebutuhan semua orang yang akan menggunakannya.
Ketika suatu lingkungan mudah diakses, nyaman, fungsional, dan menyenangkan untuk digunakan, maka semua orang, tanpa terkecuali, dapat merasakan manfaatnya.
Dengan mempertimbangkan beragam kebutuhan dan kemampuan pengguna sejak awal proses desain, desain universal menghasilkan lingkungan fisik dan digital, layanan, serta sistem yang benar-benar inklusif.
Singkatnya, desain universal adalah desain yang baik.
Berikut adalah tujuh prinsip Desain Universal yang dikembangkan oleh The Center for Universal Design, North Carolina State University:
7 Prinsip Desain Universal
1. Equitable Use
Equitable use adalah penggunaan yang adil, dimana desain harus bermanfaat dan dapat digunakan oleh orang dengan beragam kemampuan.
Contohnya, pintu otomatis dengan sensor di pintu masuk yang memudahkan semua orang, termasuk pengguna kursi roda atau mereka yang membawa barang.
2. Flexibility in Use
Flexibility in use atau fleksibilitas dalam penggunaan adalah konsep dimana desain harus mampu menyesuaikan dengan berbagai preferensi dan kemampuan individu.
Beberapa contohnya antara lain:
- Mesin ATM yang dilengkapi dengan peningkatan visual, suara, atau sentuhan agar dapat digunakan oleh orang dengan gangguan penglihatan atau pendengaran.
- Slot kartu berbentuk meruncing agar kartu lebih mudah dimasukkan dan dikeluarkan.
- Sandaran telapak tangan untuk membantu pengguna dengan keterbatasan kekuatan atau pergerakan lengan.
3. Simple and Intuitive Use
Simple and intuitive use adalah penggunaan yang sederhana dan intuitif, dimana desain harus mudah dipahami, terlepas dari pengalaman, tingkat pendidikan, kemampuan bahasa, atau konsentrasi pengguna.
Contohnya, manual petunjuk yang berisi gambar-gambar jelas tanpa teks.
4. Perceptible Information
Perceptible information adalah informasi yang dapat dipahami.
Desain harus mampu menyampaikan informasi penting secara efektif kepada pengguna, tanpa bergantung pada kondisi cahaya, kemampuan melihat, membaca, atau mendengar.
Beberapa contohnya antara lain:
- Sistem alarm yang tidak hanya bisa didengar, namun juga dapat dilihat.
- Teks terjemahan (caption) yang rutin disediakan pada tayangan televisi atau video.
5. Tolerance for Error
Tolerance for error adalah toleransi terhadap kesalahan, dimana desain harus dapat meminimalkan risiko dan dampak dari kesalahan yang tidak disengaja.
Contohnya, stop kontak dengan sistem pengaman GFI (Ground-Fault Interrupter) yang mengurangi risiko sengatan listrik di dapur atau kamar mandi.
6. Low Physical Effort
Low physical effort berarti desain harus dapat digunakan dengan usaha fisik yang rendah, secara efisien dan nyaman tanpa menyebabkan kelelahan.
Contohnya, gagang pintu yang mudah digunakan oleh semua kalangan, dari anak-anak hingga lansia.
7. Size and Space for Approach and Use
Desain harus menyediakan ruang yang cukup untuk mendekat, menjangkau, menggerakkan, dan menggunakan, tanpa memandang ukuran tubuh, postur, atau kemampuan mobilitas pengguna.
Contoh:
- Loket layanan yang cukup rendah agar dapat dijangkau oleh pengguna kursi roda.
- Trotoar yang dilengkapi dengan kemiringan (ramp), berguna tidak hanya bagi pengguna kursi roda, tapi juga orang yang mendorong stroller bayi.
BACA JUGA: Mengatasi Bias dalam Pelayanan Kesehatan
Strategi 2: Aksesibilitas
Aksesibilitas adalah kondisi ketika sebuah produk, layanan, dan fasilitas dirancang atau disesuaikan agar dapat digunakan oleh semua orang, tanpa memandang kemampuan mereka.
Ini berarti kebutuhan orang dengan disabilitas diperhitungkan secara khusus, sehingga produk, layanan, dan fasilitas dibuat atau dimodifikasi agar bisa digunakan oleh siapa pun, termasuk mereka dengan keterbatasan fisik, sensorik, atau lainnya.
Contoh strategi inklusi disabilitas dalam hal ini meliputi:
- Tempat parkir aksesibel yang terletak dekat dengan pintu masuk.
- Area lantai dan lorong yang bebas dari peralatan atau hambatan lainnya.
- Staf dan tenaga kesehatan yang mampu menggunakan bahasa isyarat atau memiliki akses ke penerjemah bahasa isyarat.
Strategi 3: Akomodasi yang Layak
Akomodasi adalah penyesuaian terhadap benda, prosedur, atau sistem yang memungkinkan orang dengan disabilitas untuk menggunakannya secara optimal.
Akomodasi juga bisa berupa modifikasi pada lingkungan atau proses yang sudah ada, agar individu dengan keterbatasan fungsi atau aktivitas bisa berpartisipasi lebih baik.
Misalnya akomodasi untuk orang tunanetra atau orang dengan gangguan penglihatan mencakup:
- Materi dalam huruf Braille
- Cetakan yang berukuran besar
- Buku audio
Sementara bagi individu yang tuli atau memiliki gangguan pendengaran, akomodasi bisa berupa:
- Kehadiran juru bahasa isyarat (ASL) saat rapat atau presentasi
- Pertukaran pesan secara tertulis
Akomodasi dalam komunikasi tidak perlu rumit, namun harus mampu menyampaikan informasi dengan efektif.
Strategi 4: Teknologi Bantu
Teknologi bantu atau Assistive Technologies (ATs) adalah alat atau perangkat yang dirancang untuk membantu individu dengan disabilitas agar dapat berpartisipasi secara penuh dalam berbagai aktivitas kehidupan.
Teknologi bantu dapat meningkatkan kemandirian dan memudahkan kegiatan sehari-hari melalui penggunaan alat yang mendukung seseorang untuk:
- Bepergian
- Berkomunikasi
- Belajar
- Bekerja
- Berpartisipasi dalam aktivitas sosial dan rekreasi
Teknologi bantu bisa berupa perangkat sederhana (low-tech), seperti kaca pembesar, atau perangkat canggih (high-tech), seperti komputer berbicara yang membantu seseorang dalam berkomunikasi.
Contoh lainnya meliputi:
- Kursi roda
- Alat bantu jalan (walker)
- Skuter mobilitas
Alat-alat ini sangat berguna bagi individu dengan disabilitas fisik.
Selain itu, smartphone telah memperluas akses terhadap teknologi bantu, terutama bagi mereka yang memiliki gangguan penglihatan, pendengaran, atau kesulitan dalam menyampaikan pikiran akibat keterbatasan fisik maupun mental.
Strategi 5: Hidup mandiri
Hidup mandiri (independent living) berarti individu dengan disabilitas memiliki suara, pilihan, dan kendali atas kehidupan sehari-hari mereka.
Seseorang mungkin tidak membutuhkan bantuan sama sekali, atau hanya memerlukan dukungan dalam hal-hal yang lebih kompleks, seperti mengatur keuangan, bukan dalam keterampilan hidup sehari-hari.
Keputusan apakah seorang dewasa dengan disabilitas akan tetap tinggal di rumah atau hidup mandiri di masyarakat sangat bergantung pada kemampuannya dalam menjalankan aktivitas harian dengan sedikit atau tanpa bantuan.
Contohnya, apakah orang tersebut mampu:
- Membersihkan rumah
- Memasak
- Berbelanja
- Membayar tagihan
- Menggunakan transportasi umum
Semakin mandiri seseorang dalam hal-hal diatas, semakin besar kemungkinannya untuk hidup mandiri di lingkungan komunitas.
Jika seseorang tidak mampu hidup mandiri (independent living) maka strategi berikutnya yang dapat digunakan adalah hunian dengan bantuan (assisted living).
Strategi 6: Hunian dengan Bantuan
Hunian dengan bantuan (assisted living) adalah pilihan bagi orang dewasa yang membutuhkan bantuan dalam menjalani aktivitas sehari-hari.
Mereka mungkin memerlukan bantuan untuk berpakaian, mandi, makan, atau menggunakan kamar mandi, tetapi tidak membutuhkan perawatan keperawatan penuh waktu.
Beberapa fasilitas hunian dengan bantuan merupakan bagian dari komunitas pensiun.
Ada juga yang berlokasi dekat dengan panti jompo, sehingga memudahkan perpindahan jika kebutuhan perawatan meningkat.
Di Indonesia, assisted living ini lekat hubungannya dengan rumah jompo.
Strategi 7: People-first Language
People-first language adalah cara berkomunikasi yang tepat dan penuh hormat ketika berbicara dengan atau tentang seseorang yang memiliki disabilitas.
Bahasa ini menekankan bahwa seseorang adalah individu terlebih dahulu, bukan disabilitasnya.
Contohnya, saat menyebut seseorang dengan disabilitas, gunakan frasa seperti: “orang yang …”, “orang dengan …”, atau “orang yang memiliki …”
Tips umum dalam menggunakan bahasa yang inklusif:
| Tips Komunikasi | Gunakan | Jangan Gunakan |
|---|---|---|
| Fokus pada kemampuan, bukan keterbatasan | – Orang yang menggunakan kursi roda. – Orang yang menggunakan alat bantu bicara | – Tidak bisa jalan – Tidak bisa bicara |
| Hindari Bahasa yang menunjukkan kekurangan | – Orang dengan disabilitas – Orang dengan tinggi badan yang pendek – Orang dengan cerebral palsy – Orang dengan epilepsy – Orang dengan multiple sclerosis | – Cacat, difabel – Kerdil, kurcaci – Korban cerebral palsy – Epileptik – Penderita multiple sklerosis |
| Soroti kebutuhan aksesibilitas, bukan disabilitasnya | – Parkir aksesibel – Kamar mandi aksesibel | – Parkir difabel – Kamar mandi difabel |
| Hindari Bahasa yang ofensif | – Orang dengan disabilitas fisik – Orang dengan disabilitas intelektual, kognitif, atau perkembangan – Orang dengan disabilitas emosional atau perilaku, gangguan kesehatan jiwa, atau disabilitas psikiatri | – Lumpuh, pincang, bengkok, invalid, spastik – Lamban, bodoh, moron, cacat mental, orang spesial – Gila, edan, psiko, maniak |
| Hindari Bahasa yang mengandung stereotip negatif | Orang tanpa disabilitas | Orang normal, orang sehat |
| Jangan menggambarkan penyandang disabilitas sebagai inspirasi hanya karena mereka hidup dengan disabilitas | Orang yang sukses dan produktif | Telah mengatasi disabilitasnya, sangat berani karena disabilitasnya |
Artikel ini adalah bagian dari gerakan Merawat Tanpa Bias.
Merawat Tanpa Bias (MTB) adalah gerakan kolaboratif dari Perawat.org untuk mendorong tenaga kesehatan Indonesia mewujudkan perawatan yang adil, inklusif, dan bebas prasangka.
Lewat edukasi, komunikasi publik, dan kampanye digital, MTB mendorong terciptanya budaya perawatan yang manusiawi dan setara bagi semua.
Mari bergabung bersama komunitas Gerakan Merawat Tanpa Bias (MTB) dan jadi bagian dari perubahan.
- Kunjungi laman resmi: tanpabias.perawat.org
- Isi formulir pendaftaran di https://forms.gle/ENJm8HaY7raBaUHh7
- Ikuti media sosial kami: Instagram: @perawat.ig | TikTok: @perawat.org | YouTube: PerawatTV
