Mengatasi bias dalam layanan kesehatan

Perawat.org | Mengatasi Bias dalam Pelayanan Kesehatan

Bayangkan kamu datang ke rumah sakit karena merasakan nyeri dada, tapi petugas Kesehatan di IGD mengatakan bahwa itu “cuma cemas” karena kamu adalah seorang perempuan.

Bayangkan pula jika kamu tidak ditawari pilihan alternative karena kamu dianggap tidak mampu secara finansial.

Ini bukan kejadian langka, ada banyak pasien dari kelompok rentan tertentu yang mengalami hal seperti ini setiap hari.

Meskipun sudah ada banyak upaya untuk mewujudkan keadilan dalam layanan kesehatan, namun “bias” masih terus terjadi dan merugikan banyak pasien dan keluarganya.

BACA JUGA: Memahami Medical Misogyny: Panduan untuk Perawat

Sebagai tenaga kesehatan, kita punya peran penting untuk mengubah keadaan ini.

Dalam artikel ini, perawat.org akan membahas mengapa bias terjadi, dan apa yang kita bisa lakukan sebagai tenaga Kesehatan untuk mencegahnya.

Apa Itu Bias dalam Layanan Kesehatan?

Bias adalah kecenderungan sistematis dalam berpikir yang menyimpang dari penilaian yang objektif.

Bias membuat seseorang lebih menyukai satu hal, kelompok, atau ide, dibandingkan yang lain, tanpa dasar yang adil.

Dalam dunia pelayanan kesehatan, bias dapat muncul dalam bentuk keputusan klinis, sikap, bahasa tubuh, atau cara berkomunikasi yang tidak setara (Meidert et al., 2023).

Bias bisa terjadi dalam dua bentuk, yaitu bias eksplisit dan bias implisit.

Bias eksplisit adalah bias (sikap atau prasangka) yang disadari. Misalnya, seseorang secara terang-terangan menunjukkan sikap negative terhadap kelompok tertentu dan mampu menjelaskan alasannya.

Sedangkan bias implisit adalah persepsi otomatis dan tidak disadari yang memengaruhi cara kita berpikir, berkomunikasi, dan mengambil keputusan klinis.

Kita mungkin merasa tidak punya prasangka apa-apa, tapi tetap membuat penilaian karena otak kita secara instan mengaitkan hal-hal tertentu, tanpa kita sadari. (Vela et al., 2022)

Baik disadari atau tidak, kedua jenis bias ini dapat:

  • Mempengaruhi komunikasi antara tenaga kesehatan dan pasien.
  • Mengurangi kepercayaan pasien terhadap tenaga kesehatan, dan layanan yang diberikannya.
  • Mengarahkan pada keputusan diagnosis dan terapi yang tidak adil atau tidak akurat.
  • Berujung pada luaran keperawatan yang buruk, bahkan kematian yang sebenarnya dapat dicegah

Apa Kata Penelitian?

Penelitian Vela (2022) menemukan bahwa:

  • Penyedia layanan Kesehatan memiliki sikap negative, baik secara dasar maupun tidak sadar terhadap ras minoritas, penyandang disabilitas, mereka yang memiliki keterbatasan bahasa, orang LGBTQ+, dan orang dengan obesitas.
  • Bias ini menyebabkan komunikasi yang buruk, kesalahan diagnosis, dan praktik yang merugikan pasien yang berasal dari kelompok rentan.

Apa Saja yang Sudah Dicoba, dan Mengapa Belum Cukup?

Banyak rumah sakit dan institusi pendidikan kesehatan sudah mencoba mengatasi bias dalam pelayanan kesehatan, seperti:

  • Program pelatihan untuk meningkatkan kesadaran tentang bias.
  • Mengajakran strategi koping untuk mencegah bias.
  • Kelas dan modul daring untuk membantu tenaga Kesehatan mengenali bias.
  • Workshop “kompetensi budaya” (cultural competence)
  • Meminta tenaga kesehatan untuk membuat komitmen atau menandatangani pernyataan inklusivitas.

Tapi, upaya-upaya ini seringkali bersifat formalitas, jangka pendek, dan tidak terukur.

Contohnya:

  • Pelatihan satu kali bisa meningkatkan kesadaran, tapi tidak otomatis mengubah perilaku di ruang rawat atau IGD yang sibuk.
  • Tidak ada dukungan sistemik setelah pelatihan, seperti mentoring, refleksi rutin, atau evaluasi berkelanjutan.
  • Bias bisa muncul kembali saat tenaga Kesehatan merasa lelah, stres, atau terburu-buru.

Kesimpulannya: pelatihan saja tidak cukup.

Apa Solusinya?

Vela (2022) menyarankan bahwa pelatihan-pelatihan di tingkat institusional harus dibarengi dengan reformasi di tingkat sistem.

Ini berarti mengubah cara institusi di bidang kesehatan (termasuk perguruan tinggi) untuk menerima dan mempromosikan orang-orang, mengubah budaya institusi, dan menanamkan prinsip-prinsip kesetaraan (equity) dalam kehidupan sehari-hari.

Workshop atau pelatihan saja tidak cukup, karena bias tidak hanya ada dalam pikiran seseorang, namun juga bisa diperkuat oleh rasisme dan terstruktur.

Pesan utama untuk Tenaga Kesehatan

  1. Kesadaran tanpa Tindakan konkrit tidak cukup
  2. Advokasi kebijakan perekrutan, evaluasi, dan promosi yang adil
  3. Dorong dukungan kelembagaan, seperti komite kesetaraan, kepemimpinan yang inklusif, dan audit bias.
  4. Pimpin dengan memberi contoh untuk membangun tempat kerja yang lebih inklusif.

Dari “Tidak Rasis” Menjadi “Aktif Anti-Bias”

Sekadar mengatakan “Saya memperlakukan semua orang setara” tidaklah cukup.

Kita juga harus bertanya “Apa yang saya lakukan setiap hari untuk memastikan perawatan yang adil bagi semua pasien?”

Sebagai tenaga kesehatan, kita punya pengaruh, dan pengaruh itu bisa mempertahankan ketidakadilan, atau bisa menjadi alat untuk meruntuhkannya.

Artikel ini adalah bagian dari gerakan Merawat Tanpa Bias.

Merawat Tanpa Bias (MTB) adalah gerakan kolaboratif dari Perawat.org untuk mendorong perawat Indonesia mewujudkan perawatan yang adil, inklusif, dan bebas prasangka.

Lewat edukasi, komunikasi publik, dan kampanye digital, MTB mendorong terciptanya budaya perawatan yang manusiawi dan setara bagi semua.

Mari bergabung bersama komunitas Gerakan Merawat Tanpa Bias (MTB) dan jadi bagian dari perubahan.

Leave a Reply