Ketika mendengar kata perawat, mungkin kamu langsung membayangkan seseorang yang bekerja di rumah sakit, memakai seragam, memberikan obat, memasang infus, atau membantu dokter menangani pasien.
Meski gambaran tersebut memang tidak sepenuhnya salah, namun, profesi perawat sebenarnya jauh lebih luas dari itu.
Perawat bukan sekadar orang yang bekerja di rumah sakit. Perawat juga bukan “pembantu dokter” seperti narasi yang beredar selama ini.
Keperawatan adalah profesi kesehatan dengan bidang keilmuan, kompetensi, dan tanggung jawab profesionalnya sendiri.
Seorang perawat bekerja bersama pasien yang sedang sakit, membantu keluarga merawat anggota keluarga di rumah, memberikan pendidikan kesehatan kepada masyarakat, hingga terlibat dalam manajemen, pendidikan, penelitian, dan pengembangan sistem pelayanan kesehatan.
Dalam artikel ini, kita akan membahas apa itu perawat dalam artian luas, peran-perannya, dan apa yang membedakan perawat dengan dokter, bidan, atau tenaga kesehatan lainnya.
Artikel ini ditujukan untuk kamu yang tertarik untuk masuk ke jurusan keperawatan dan menjadi seorang perawat, atau untuk mahasiswa keperawatan yang ingin belajar lebih lanjut diluar pembelajaran kelas, atau bahkan masyarakat umum yang ingin mengetahui apa itu perawat, perannya, dan perbedaannya dari tenaga kesehatan lain.
Apa itu Perawat?
Perawat adalah tenaga kesehatan profesional yang memiliki latar belakang pendidikan dan kompetensi di bidang keperawatan untuk memberikan asuhan kepada individu, keluarga, kelompok, dan masyarakat dalam kondisi sehat maupun sakit.
Berdasarkan definisi diatas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa profesi perawat tidak hanya berhubungan dengan pengobatan penyakit, namun juga mencakup upaya untuk membantu seseorang mempertahankan kesehatan, mencegah masalah kesehatan, menghadapi penyakit, memulihkan kemampuan, hingga memperoleh kualitas hidup yang lebih baik.
Karena itu, perawat dapat bertemu dengan seseorang dalam berbagai kondisi, tidak hanya pasien di rumah sakit saja.
Perawat adalah sebuah profesi
Penting juga untuk memahami bahwa perawat adalah profesi, bukan sekedar jenis pekerjaan.
Untuk menjadi perawat, seseorang harus menjalani pendidikan keperawatan, lulus uji kompetensi, teregistrasi dalam sistem kesehatan nasional, serta terus mengembangkan pengetahuan, keterampilan, serta kompetensi yang dibutuhkannya untuk berpraktik secara profesional.
Ilmu keperawatan memiliki cara pandang dan fokusnya sendiri terhadap manusia, kesehatan, lingkungan, serta kebutuhan perawatan.
Karena itu, meskipun perawat bekerja bersama dokter, bidan, apoteker, ahli gizi, fisioterapis, dan profesi kesehatan lainnya, setiap profesi memiliki bidang kompetensi dan kontribusinya masing-masing.
Apa yang Sebenarnya Dilakukan Perawat?
Banyak orang mengenal pekerjaan perawat dari tindakan yang terlihat secara langsung, seperti memberikan obat, mengganti balutan, memasang infus, atau memantau kondisi pasien.
Padahal, aktivitas-aktivitas tersebut hanya sebagian kecil dari keseluruhan pekerjaan perawat.
Di balik setiap tindakan, terdapat proses berpikir dan pengambilan keputusan yang berdasarkan pengetahuan klinis dan bukti-bukti penelitian terbaru.
Dalam melaksanakan setiap tindakan keperawatan, perawat mengikuti sebuah kerangka kerja (framework) yang disebut proses keperawatan yang diperkenalkan oleh seorang perawat bernama Ida Jean Orlando-Pelletier.
Proses ini merupakan metode yang terstruktur, sistematis, dan ilmiah yang digunakan oleh perawat untuk merencanakan dan memberikan asuhan keperawatan yang berpusat pada pasien.
Proses keperawatan terdiri dari lima langkah sistematis yang terdiri dari pengkajian, diagnosis, intervensi, implementasi, dan evaluasi.
1. Pengkajian
Dalam tahap yang pertama ini, perawat mengumpulkan informasi untuk memahami kondisi klien secara menyeluruh.
Selama melakukan pengkajian, perawt tidak hanya berfokus pada penyakit yang dialami pasien, tetapi juga memperhatikan berbagai hal, seperti kondisi fisik, keluhan yang dirasakan, kemampuan melakukan aktivitas sehari-hari, kondisi psikologis, pola makan dan tidur, kemampuan berkomunikasi, dukungan keluarga, lingkungan tempat tinggal, serta faktor-faktor lainnya yang dapat memengaruhi kesehatan.
Informasi dikumpulkan untuk membantu perawat memahami kebutuhan pasien secara lebih utuh.
2. Diagnosis
Setelah mengumpulkan seluruh informasi dan data pasien yang didapatkan dari tahap pengkajian, selanjutnya perawat akan menggunakan informasi tersebut untuk mengidentifikasi masalah keperawatan serta menegakkan diagnosis keperawatan.
Diagnosis keperawatan ini sangat penting untuk memastikan tindakan yang diberikan memang sesuai dengan kebutuhan pasien.
Kamu mungkin tidak familiar dengan istilah diagnosis keperawatan, tetapi sering mendengar diagnosis dari dokter.
Ada perbedaan yang mendasar antara diagnosis medis dan diagnosis keperawatan, yaitu pada fokus dan sifat masalahnya.
Diagnosis medis mengidentifikasi penyakit patologis, misalnya stroke, diabetes melitus, malaria, dsb. Sedangkan diagnosis keperawatan mengidentifikasi respons pasien terhadap penyakit tersebut, seperti ketidakstabilan kadar glukosa darah, nyeri akut, ansietas, dsb.
Berdasarkan sifat dan perubahan sepanjang masa rawat, diagnosis medis cenderung tetap atau tidak berubah selama kondisi penyakit tersebut masih ada pada pasien.
Sedangkan diagnosis keperawatan bersifat dinamis dan dapat berubah sewaktu-waktu mengikuti perkembangan atau perubahan respons serta kebutuhan pasien.
Dari diagnosis keperawatan ini, perawat kemudian merencanakan apa yang akan diberikan atau dilakukan kepada klien untuk mengatasi masalah keperawatannya.
3. Intervensi
Tahap intervensi atau sering juga disebut perencanaan (planning), dilakukan oleh perawat dengan menyusun rencana asuhan.
Misalnya, diagnosis keperawatan yang dimiliki oleh pasien adalah nyeri akut, maka tergantung dengan kebutuhan pasien, perawat mungkin akan merencanakan untuk mengobservasi skala nyeri per 8 jam, mengajarkan teknik relaksasi, dsb.
Apa yang direncanakan ini lah yang kemudian akan dilakukan oleh perawat kepada pasien selama masa rawatnya.
Sama seperti diagnosis yang bersifat dinamis, intervensi juga dapat berubah sewaktu-waktu. Namun perubahannya tetap akan mengikuti proses keperawatan.
Dengan ini, perawat memiliki roadmap yang jelas tentang apa yang akan dilakukannya. Jadi tidak sembarangan.
Jika kamu melihat perawat mengambil sampel darah untuk pemeriksaan laboratorium, itu adalah salah satu dari implementasi yang sudah direncanakan sebelumnya, bukan kebetulan, bukan juga rutinitas atau atas instruksi dokter saja.
4. Implementasi
Pada tahap ini, perawat melakukan asuhan dan tindakan keperawatan sesuai yang telah direncanakan dalam tahap intervensi sebelumnya.
Ada 4 kategori implementasi yang dilakukan oleh perawat. Pertama adalah observasi, yaitu mengobservasi respon pasien terhadap penyakit dan tindakan yang dilakukan.
Kedua adalah terapeutik, yaitu memberikan tindakan keperawatan mandiri untuk mengatasi masalah, misalnya perawat memberikan kompres hangat pada pasien dengan masalah hipertermi (suhu tubuh naik).
Ketiga adalah edukasi, dimana perawat memberikan edukasi kepada pasien dan keluarganya terkait penyakitnya, tindakan yang akan dilakukan, rencana perawatan, dll.
Tujuan dari edukasi ini adalah agar pasien dan keluarga dapat mandiri mengelola penyakitnya, misanya pada pasien dengan masalah risiko ketidakstabilan gula darah, perawat mungkin akan memberikan edukasi tentang bagaimana mengelola penyakit DM di rumah agar tidak terjadi kondisi hiperglikemia (gula darah naik), atau hipoglikemia (gula darah turun).
Keempat dan terakhir adalah kolaborasi, dimana perawat akan berkolaborasi dengan tenaga kesehatan lain untuk memberikan tindakan diluar lingkup kerja atau kewenangan perawat. Misalnya, kolaborasi pemasangan oksigen nasal kanul 5 lt/menit yang merupakan kewenangan seorang dokter untuk memutuskannya.
Keempat kategori implementasi ini mungkin semua dilakukan mungkin juga tidak tergantung dengan kondisi, respon, dan kebutuhan pasien.
5. Evaluasi
Di tahap evaluasi, perawat menilai apakah tindakan yang telah diberikan sejauh ini telah membantu pasien mencapai tujuan yang diharapkan atau mengatasi masalah keperawatannya.
Jika dalam evaluasi pasien, perawat menemukan masalah masih belum teratasi, maka intervensi dilanjutkan dengan perencanaan yang sama, atau yang dimodifikasi.
Namun jika dalam evaluasi ditemukan masalah sudah teratasi, maka intervensi akan dihentikan karena sudah tidak sesuai dengan kebutuhan pasien.
Dalam evaluasi juga mungkin akan ditemukan masalah baru yang muncul, maka perawat akan mengulang proses keperawatan dari awal untuk merencanakan asuhan keperawatan pada masalah yang baru muncul tersebut.
Kelima proses keperawatan ini akan diulang terus-menerus selama asuhan keperawatan diberikan oleh perawat.
Apa Saja Peran Perawat?
Perawat tidak hanya berperan untuk memberikan asuhan keperawatan di samping tempat tidur pasien. Perannya jauh lebih luas.
Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 26 Tahun 2019, ada 6 tugas atauperan perawat, yaitu:
- Pemberi asuhan keperawatan
- Penyuluh dan konselor bagi klien
- Pengelola pelayanan keperawatan
- Peneliti keperawatan
- Pelaksana tugas berdasarkan pelimpahan wewenang
- Pelaksana tugas dalam keadaan keterbatasan tertentu.
Mari kita bedah satu per satu.
1. Pemberi asuhan keperawatan
Ini adalah peran utama dari seorang perawat, yaitu memberikan asuhan keperawatan kepada individu, keluarga, kelompok, maupun masyarakat.
Asuhan keperawatan bukan sekadar membantu pasien minum obat atau menjalankan instruksi tenaga kesehatan lain.
Perawat melakukan proses keperawatan secara sistematis, mulai dari pengkajian, penetapan diagnosis keperawatan, perencanaan, pelaksanaan tindakan, hingga evaluasi hasil perawatan.
Misalnya, ketika merawat pasien setelah operasi, perawat tidak hanya memantau kondisi luka.
Perawat juga mengkaji tingkat nyeri, kemampuan bergerak, risiko infeksi, kebutuhan nutrisi, kondisi psikologis, hingga kemampuan pasien dan keluarga dalam melakukan perawatan setelah pulang.
Dengan kata lain, perawat melihat pasien secara menyeluruh, bukan hanya berfokus pada penyakitnya.
2. Penyuluh dan konselor bagi klien
Selain memberikan asuhan keperawatan, perawat juga berperan membantu pasien dan keluarga memahami kondisi kesehatan serta membuat keputusan yang berkaitan dengan perawatan.
Peran ini dapat dilakukan melalui pendidikan kesehatan, penyuluhan, pemberian informasi, maupun konseling keperawatan.
Contohnya, perawat dapat mengajarkan keluarga cara merawat anggota keluarga setelah stroke, menjelaskan cara menggunakan insulin kepada pasien diabetes, atau membantu pasien memahami perubahan gaya hidup yang diperlukan setelah mendapatkan diagnosis tertentu.
Tujuannya bukan hanya agar pasien mendapatkan perawatan, tetapi juga agar pasien dan keluarganya memiliki pengetahuan dan kemampuan untuk ikut menjaga kesehatannya sendiri.
3. Pengelola pelayanan keperawatan
Ini adalah peran yang lebih tinggi yang biasanya akan diberikan kepada perawat yang sudah senior dan berpengalaman.
Dalam peran ini, perawat bertugas untuk mengelola pelayanan keperawatan, baik dalam lingkup kecil misalnya sebagai kepala ruangan, maupun organisasi pelayanan kesehatan yang lebih besar, misalnya direktur rumah sakit.
Dalam praktiknya, peran ini dapat mencakup pengaturan sumber daya, pembagian tugas, koordinasi pelayanan, pengawasan mutu, hingga memastikan pelayanan keperawatan berjalan dengan baik.
Karena itu, karier perawat tidak selalu berada di sisi tempat tidur pasien. Ada juga perawat yang berkembang sebagai manajer, kepala ruangan, supervisor, hingga pemimpin fasilitas pelayanan kesehatan.
4. Peneliti keperawatan
Keperawatan adalah profesi yang terus berkembang berdasarkan ilmu pengetahuan. Setiap tahun, bulan, bahkan hari ada saja ilmu terbaru terkait perawatan pasien.
Karena itu, perawat memiliki peran dalam melakukan dan mengembangkan penelitian keperawatan.
Penelitian dapat digunakan untuk mencari solusi terhadap berbagai masalah dalam praktik keperawatan, mengevaluasi efektivitas suatu intervensi, atau menghasilkan pengetahuan baru yang dapat meningkatkan kualitas pelayanan.
Sebagai contoh, perawat dapat meneliti metode yang lebih efektif untuk mengurangi kecemasan pasien sebelum operasi, meningkatkan kepatuhan pasien dalam menjalani pengobatan, atau membantu keluarga merawat pasien setelah pulang dari rumah sakit.
Hasil penelitian tersebut kemudian dapat menjadi dasar untuk memperbaiki praktik dan meningkatkan kualitas asuhan keperawatan.
5. Pelaksana tugas berdasarkan pelimpahan wewenang
Dalam kondisi tertentu, perawat dapat melaksanakan tugas berdasarkan pelimpahan wewenang dari tenaga medis sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan dan kompetensi yang dimiliki.
Pelimpahan wewenang ini bukan berarti perawat dapat melakukan semua tindakan medis secara bebas.
Pelaksanaannya memiliki aturan, batasan, dan tanggung jawab yang harus diperhatikan.
Misalnya, seorang pasien dirawat di rumah sakit dan membutuhkan pemberian obat melalui suntikan.
Dokter telah melakukan pemeriksaan, menetapkan diagnosis medis, dan menentukan jenis serta dosis obat yang harus diberikan.
Perawat kemudian melaksanakan pemberian obat tersebut sesuai dengan instruksi dan prosedur yang berlaku.
Dalam konteks ini, perawat bukan mengambil alih peran dokter, melainkan melaksanakan tindakan berdasarkan pelimpahan wewenang yang sah.
Pelimpahan wewenang dapat dilakukan dalam bentuk delegatif atau mandat, yang masing-masing memiliki mekanisme dan tanggung jawab yang berbeda.
6. Pelaksana tugas dalam keadaan keterbatasan tertentu
Dalam situasi tertentu, akses masyarakat terhadap tenaga atau fasilitas kesehatan dapat terbatas.
Kondisi ini dapat terjadi, misalnya, di daerah terpencil, wilayah dengan keterbatasan tenaga kesehatan, atau situasi tertentu yang membutuhkan pelayanan segera.
Bayangkan seorang perawat bekerja di sebuah puskesmas pembantu di daerah terpencil. Pada saat itu, tidak ada dokter yang bertugas di fasilitas tersebut, sementara seorang pasien datang dengan kondisi yang membutuhkan tindakan segera.
Dalam keadaan seperti ini, perawat dapat memberikan pelayanan tertentu sesuai dengan kompetensi dan kewenangan yang diatur dalam peraturan perundang-undangan, terutama untuk memastikan pasien tetap mendapatkan pertolongan dan tidak mengalami keterlambatan penanganan.
Peran ini menunjukkan bahwa perawat memiliki posisi penting dalam memastikan masyarakat tetap dapat memperoleh pelayanan kesehatan, terutama ketika sumber daya kesehatan yang tersedia terbatas.
Selain enam tugas sebagaimana tercantum dalam peraturan menteri kesehatan tersebut, ada pula peran perawat yang tidak secara khusus disebutkan dalam daftar tersebut, tetapi nyata dijalankan dalam praktik keperawatan.
Tiga di antaranya adalah sebagai advokat pasien, sebagai pendidik, dan sebagai penggerak kesehatan masyarakat.
7. Sebagai Advokat Pasien
Perawat juga berperan sebagai advokat pasien, yaitu membantu memastikan bahwa hak, kebutuhan, pilihan, dan kepentingan pasien tetap diperhatikan selama mendapatkan pelayanan kesehatan.
Pasien tidak selalu memahami kondisi kesehatan, pilihan pengobatan, atau prosedur yang akan dijalaninya.
Dalam situasi tersebut, perawat dapat membantu pasien mendapatkan informasi yang diperlukan dan menyampaikan kebutuhan atau kekhawatiran pasien kepada tenaga kesehatan yang terkait.
Misalnya, seorang pasien akan menjalani suatu tindakan medis tetapi belum memahami dengan jelas prosedur yang akan dilakukan.
Perawat dapat membantu memastikan pasien memperoleh informasi dan penjelasan yang memadai dari tenaga kesehatan yang berwenang sebelum tindakan dilakukan.
Jika pasien memiliki kekhawatiran atau tidak bersedia menjalani suatu tindakan, perawat dapat membantu menyampaikan hal tersebut kepada tim kesehatan.
Contoh lainnya, seorang pasien lansia mengalami kesulitan berkomunikasi dan tidak didampingi keluarganya.
Dalam kondisi tersebut, perawat perlu membantu memastikan kebutuhan pasien tetap diperhatikan, termasuk kebutuhan akan privasi, kenyamanan, informasi, keamanan, dan komunikasi.
Menjadi advokat pasien bukan berarti perawat mengambil keputusan untuk pasien, namun membantu pasien memahami informasi dan pilihan yang tersedia serta menyampaikan keinginan pasien agar pasien dapat terlibat dalam pengambilan keputusan mengenai dirinya sendiri.
Dengan demikian, perawat turut memastikan bahwa pelayanan kesehatan tetap berorientasi pada hak, kebutuhan, keselamatan, dan kepentingan pasien, bukan semata-mata pada tindakan medis yang harus dilakukan.
8. Sebagai Pendidik
Perawat juga dapat berperan sebagai pendidik di bidang keperawatan, misalnya dengan berkarir sebagai dosen pada program studi keperawatan.
Sebagai dosen, perawat membantu mahasiswa mengembangkan pengetahuan, keterampilan klinis, kemampuan berpikir kritis, dan sikap profesional yang dibutuhkan untuk menjadi seorang perawat.
Misalnya, dosen keperawatan dapat mengajarkan berbagai mata kuliah seperti keperawatan dasar, keperawatan medikal bedah, keperawatan anak, keperawatan maternitas, atau keperawatan komunitas.
Selain pembelajaran di kelas, dosen juga dapat membimbing mahasiswa dalam praktik laboratorium maupun praktik klinik di rumah sakit, puskesmas, dan fasilitas pelayanan kesehatan lainnya.
Peran dosen keperawatan juga tidak terbatas pada kegiatan mengajar.
Dalam lingkungan pendidikan tinggi, dosen dapat terlibat dalam pembimbingan mahasiswa, penelitian, pengembangan bahan ajar dan kurikulum, serta pengabdian kepada masyarakat.
Karena itu, menjadi dosen keperawatan merupakan salah satu pilihan karir bagi perawat yang ingin berkontribusi dalam menyiapkan generasi perawat berikutnya.
9. Sebagai Penggerak Kesehatan di Masyarakat
Peran ini mungkin sangat berhubungan dengan perawat yang bekerja di Puskesmas.
Ketika bekerja di puskesmas, peran perawat tidak selalu berfokus pada memberikan asuhan kepada pasien secara individual.
Tergantung Puskesmasnya, perawat mungkin juga dapat berperan sebagai penggerak kesehatan di masyarakat, terutama dalam kegiatan promotif, preventif, pemberdayaan masyarakat, dan pelaksanaan program kesehatan.
Perawat bekerja lebih dekat dengan masyarakat untuk membantu mereka mengenali masalah kesehatan, meningkatkan kemampuan menjaga kesehatan, serta mendorong masyarakat agar terlibat aktif dalam menyelesaikan masalah kesehatan di lingkungannya.
Perawat juga dapat turun langsung ke masyarakat melalui kegiatan kunjungan rumah, penyuluhan kelompok, pembinaan keluarga, maupun kegiatan kesehatan berbasis komunitas.
Dalam kegiatan tersebut, perawat membantu mengidentifikasi masalah kesehatan yang ada dan menghubungkan masyarakat dengan pelayanan kesehatan yang dibutuhkan.
Dalam peran ini, perawat dapat berkolaborasi dengan bidan, dokter, tenaga kesehatan masyarakat, kader, pemerintah desa atau kelurahan, sekolah, organisasi masyarakat, dan berbagai unsur masyarakat lainnya.
Apakah Perawat Hanya Bekerja di Rumah Sakit?
Jawaban singkatnya adalah tidak.
Rumah sakit memang merupakan salah satu tempat kerja yang paling umum bagi perawat. Namun, pilihan tempat kerja seorang perawat sebenarnya jauh lebih luas.
Selain rumah sakit, seorang perawat dapat bekerja di puskesmas, klinik, home care, sekolah, perusahaan, institusi pendidikan, lembaga penelitian, bahkan sampai di tambang seperti oil and gas off shore, dan pertambangan lainnya.
Perawat dapat bekerja dimanapun di berbagai sektor yang membutuhkan kompetensi keperawatan.
Tentu saja jenis pekerjaan yang dilakukan juga dapat berbeda sesuai konteks tempat kerjanya. Perawat ICU, misalnya, memiliki lingkungan kerja dan kompetensi yang berbeda dengan perawat puskesmas.
Begitu juga perawat home care, perawat sekolah, perawat perusahaan, atau perawat yang bekerja di bidang pendidikan.
Karena itu, ketika membicarakan profesi perawat, sebenarnya kita tidak sedang membicarakan satu jenis pekerjaan saja.
Keperawatan memiliki berbagai jalur karir dan bidang praktik yang dapat dipilih sesuai minat, kompetensi, pengalaman, dan peluang yang tersedia.
Apa Perbedaan Perawat dengan Dokter dan Tenaga Kesehatan Lain?
Salah satu pertanyaan yang sering muncul adalah, apa sebenarnya perbedaan perawat dengan profesi kesehatan lainnya?
Jawaban sederhananya: setiap profesi memiliki fokus, kompetensi, dan peran masing-masing. Lihat tabel dibawah:
| Profesi | Fokus Utama | Contoh Peran |
|---|---|---|
| Perawat | Kebutuhan dan respons individu terhadap kondisi kesehatan serta asuhan keperawatan | Mengkaji kebutuhan, memberikan asuhan, memantau kondisi, melakukan edukasi, dan mengevaluasi hasil perawatan |
| Dokter | Diagnosis dan penatalaksanaan medis | Menegakkan diagnosis dan menentukan penatalaksanaan medis sesuai kompetensi |
| Bidan | Pelayanan kesehatan perempuan, kehamilan, persalinan, masa nifas, dan bayi sesuai kompetensinya | Memberikan asuhan kebidanan |
| Apoteker | Obat dan pelayanan kefarmasian | Memastikan pengelolaan dan penggunaan obat yang tepat dan aman |
| Tenaga Gizi | Kebutuhan dan pelayanan gizi | Menilai kebutuhan dan memberikan intervensi gizi |
| Fisioterapis | Fungsi gerak dan rehabilitasi fisik | Membantu meningkatkan dan memulihkan fungsi gerak |
Perbedaan tersebut tidak berarti satu profesi lebih tinggi atau lebih rendah dari profesi lainnya.
Pelayanan kesehatan modern saat ini menerapkan konsep patient-centered care, yaitu pelayanan yang berpusat pada pasien.
Ini berarti pelayanan kesehatan yang baik membutuhkan kerja sama berbagai profesi.
Seorang pasien dengan stroke, misalnya, mungkin membutuhkan penanganan medis dari dokter, asuhan keperawatan dari perawat, terapi rehabilitasi dari fisioterapis, pengaturan kebutuhan gizi, pelayanan obat, serta dukungan dari keluarga.
Setiap profesi melihat kebutuhan pasien dari perspektif dan kompetensinya masing-masing, dan semuanya dilakukan demi kepentingan pasien.
Apakah Menjadi Perawat Cocok untuk Saya?
Profesi perawat mungkin menarik bagi kamu yang tertarik pada bidang kesehatan dan ingin bekerja secara langsung dengan manusia.
Namun, menjadi perawat tidak sesederhana punya mimpi untuk “menolong orang”.
Keperawatan adalah profesi yang membutuhkan ilmu pengetahuan, keterampilan, kemampuan berpikir kritis, komunikasi, dan tanggung jawab.
Profesi ini mungkin cocok untuk kamu jika kamu tertarik pada:
- Kesehatan dan ilmu tentang manusia
- Interaksi dengan berbagai jenis orang
- Pemecahan masalah
- Pembelajaran yang berkelanjutan
- Komunikasi
- Kerja sama tim
- Serta pekerjaan yang memiliki dampak langsung terhadap kehidupan orang lain.
Namun, penting juga untuk kamu memahami tantangannya, agar tidak salah pilih.
Pada bidang tertentu, perawat dapat bekerja dengan sistem shift. Perawat juga dapat menghadapi situasi yang menuntut secara fisik maupun emosional.
Selain itu, di dunia kesehatan terus berkembang, seorang perawat harus terus belajar dan memperbarui kompetensinya.
Karena itu, memilih menjadi perawat sebaiknya tidak hanya didasarkan pada anggapan bahwa profesi ini “suka menolong orang”.
Bagaimana Cara Menjadi Perawat di Indonesia?
Secara umum, perjalanan untuk menjadi perawat dimulai dengan menempuh pendidikan keperawatan.
Setelah menyelesaikan pendidikan, seseorang perlu memenuhi persyaratan kompetensi dan ketentuan administratif yang berlaku untuk dapat menjalankan praktik sesuai dengan jalur pendidikan dan regulasi yang berlaku.
Jalur pendidikan keperawatan di Indonesia juga tidak hanya satu.
Ada pendidikan vokasi keperawatan dan jalur pendidikan akademik yang dapat dilanjutkan ke pendidikan profesi.
Perbedaan antara D3 Keperawatan, S1 Keperawatan, dan Profesi Ners sering kali membingungkan calon mahasiswa.
Karena itu, pembahasannya lebih tepat dijelaskan secara khusus dalam artikel tersendiri disini.
Hal yang penting dipahami adalah bahwa menjadi perawat bukan sekadar menyelesaikan pendidikan, tetapi juga merupakan proses pengembangan kompetensi yang berkelanjutan.
Seiring perjalanan karir, seorang perawat dapat memilih bidang tertentu, mengikuti pelatihan, mengembangkan keahlian, melanjutkan pendidikan, atau berpindah ke jalur karier lain di bidang keperawatan dan kesehatan.
Kesimpulan
Perawat adalah profesional kesehatan yang memiliki pendidikan dan kompetensi di bidang keperawatan untuk memberikan asuhan kepada individu, keluarga, kelompok, dan masyarakat.
Peran perawat tidak terbatas pada memberikan tindakan di rumah sakit.
Perawat dapat membantu seseorang menjaga kesehatan, menghadapi penyakit, menjalani pengobatan, mencegah komplikasi, meningkatkan kemampuan mandiri, hingga membantu keluarga memberikan perawatan.
Perawat juga bekerja dalam berbagai lingkungan dan dapat menjalankan berbagai peran, mulai dari pemberi asuhan, edukator, advokat pasien, kolaborator, pengelola pelayanan, pendidik, hingga peneliti.
Yang membedakan perawat dari profesi kesehatan lainnya bukan sekadar tempat bekerja atau jenis tindakan yang dilakukan, tetapi juga fokus keilmuan dan cara melihat kebutuhan manusia dalam menghadapi kondisi kesehatan.
Karena itu, memahami profesi perawat tidak cukup hanya dengan melihat seseorang yang bekerja di samping tempat tidur pasien.
Keperawatan adalah profesi dengan dunia yang jauh lebih luas.
