Dunia kesehatan global saat ini tengah menghadapi tantangan serius akibat kelangkaan sarung tangan medis.
Berdasarkan laporan terbaru, konflik geopolitik di Timur Tengah memicu lonjakan harga bahan baku naphtha, yang berdampak langsung pada kenaikan harga sarung tangan hingga 40%.
Bagi perawat di garda terdepan, ancaman kelangkaan sarung tangan medis merupakan tantangan nyata terhadap keselamatan pelayanan.
Di tengah situasi ini, praktik double-gloving (penggunaan sarung tangan lapis dua) kembali menjadi perbincangan.
Apakah tindakan ini melindungi, atau justru memperburuk krisis stok?
Harga Nitrile yang Melambung Tinggi
Dilansir dari Kontan, produsen global seperti Top Glove mulai menyesuaikan harga akibat kenaikan biaya produksi nitrile latex hingga 50%.
Analis memperingatkan risiko kelangkaan masif pada akhir Mei 2026 jika gangguan distribusi energi di Selat Hormuz terus berlanjut.
Pengalaman pandemi COVID-19 lalu mengajarkan bahwa penggunaan APD berlebihan tanpa indikasi klinis justru akan mencekik stok logistik yang seharusnya diprioritaskan untuk prosedur kritis.
Analisis Klinis: Kapan Double-Gloving Diperlukan?
Banyak dari kita merasa bahwa menggunakan dua lapis sarung tangan memberikan perlindungan ganda.
Namun, secara klinis, double-gloving memiliki tempat tersendiri dan bukan untuk semua tindakan.
Menurut studi terbaru (Singh et al., 2025), penggunaan sarung tangan ganda memiliki tempat tersendiri, namun bukan untuk semua tindakan rutin.
Penggunaan sarung tangan ganda (double gloving) dianjurkan bagi dokter bedah, perawat, dan staf ruang operasi selama prosedur invasif, terutama pada prosedur ortopedi, trauma, dan tindakan berisiko tinggi untuk mencegah cedera tertusuk jarum.
Sedangkan, untuk tindakan rutin seperti memasang infus, mengambil sampel darah, atau perawatan luka biasa, double-gloving justru memicu:
- Penurunan Sensitivitas Taktil: Mengurangi ketajaman perabaan yang meningkatkan risiko kegagalan prosedur.
- Needle Stick Injury: Risiko tertusuk jarum meningkat karena hilangnya kepekaan tangan.
- False Sense of Security: Mengabaikan hand hygiene karena merasa sudah terlindungi secara ekstra.
BACA JUGA: Checklist Wajib Sebelum Visit Pasien
Langkah Bijak Menghadapi Kelangkaan Sarung Tangan Medis
Agar operasional fasilitas kesehatan tetap berjalan optimal, berikut adalah strategi efisiensi yang bisa diterapkan:
1. Gunakan Sesuai Indikasi
Gunakan sarung tangan hanya jika ada risiko kontak dengan darah, cairan tubuh, sekresi, ekskresi, atau membran mukosa.
Jika hanya untuk mengukur tensi atau memindahkan pasien tanpa luka terbuka, cuci tangan dengan sabun/handrub sudah cukup.
2. Kembali ke Dasar: Hand Hygiene
Ingatlah bahwa cuci tangan adalah standar emas pencegahan infeksi, bukan sarung tangan. Patuhi 5 Moments for Hand Hygiene.
3. Manajemen Stok Unit
Lakukan pengawasan ketat terhadap inventaris ruangan. Terapkan prinsip FIFO (First In, First Out) agar tidak ada stok yang kedaluwarsa sia-sia.
4. Penggunaan Sarung Tangan Non-Steril vs Steril
Dalam kondisi kelangkaan, pastikan sarung tangan steril (yang jauh lebih mahal dan sulit diproduksi) hanya digunakan untuk prosedur steril (bedah, rawat luka dalam), sementara sarung tangan pemeriksaan (clean gloves) digunakan sesuai indikasi kontak cairan tubuh.
Sumber:
- Kontan.co.id: “Harga Sarung Tangan Medis Melonjak Akibat Perang Iran, Ancaman Kelangkaan Meningkat”. Diakses pada 20 April 2026 di https://internasional.kontan.co.id/news/harga-sarung-tangan-medis-melonjak-akibat-perang-iran-ancaman-kelangkaan-meningkat
- Singh, K. V., Walia, K., Farooque, K., & Mathur, P. (2025). Double gloving for self-protection in high-risk surgeries: a systematic review and meta-analysis. Systematic reviews, 14(1), 57. https://doi.org/10.1186/s13643-025-02760-z
